Seorang gadis di pinggir pantai, tersapu-sapu ombak yang melambai hingga ke betis putihnya. Rasa asin terasa di bibir, dengan remah-remah keras dalam mulutnya yang manis.
Matahari bersinar cukup terik, angin menerbangkan dedaunan pohon yang nampak sepi. Dengan mata yang merapat perlahan terbuka membuatnya kini berusaha duduk dengan di bantu tangan yang gemetar.
"Shhss.." Desisnya mengusap-usap lengan yang nampak kemerahan dan menipis. Kepala yang sedikit lecet, di pegangnya hingga denyutan terasa lebih jelas.
"Mimpi apa ini?" Jawab gadis itu bergumam-gumam dengan dirinya yang berada di pinggir pantai. Ombak kecil yang menyentuh ujung kakinya terasa nyata hingga membuatnya menyeret tubuh ke belakang.
"Tidak..Ini-ini bukan Paris atau pun London!" Gumamnya lebih jelas, dan sambil memegang perut untuk berdiri dengan kaki jenjang yang ia miliki.
Mata keunguannya melihat kepada ombak yang nampak tersenyum ria. Hangat serta angin yang berhempasan membuatnya berbalik ke belakang dengan spontan.
"Aku-dimana?"
Nampak pepohonan kelapa, dengan sinar matahari yang menembus daun-daun panjangnya. Dia melangkah dan merasakan pasir putih mengelusnya dengan lembut.
"Tadi malam bukankah, semua orang telah menunggu ku di Paris?" Gumamnya lagi ketika tiba-tiba kepala terasa terbentur dengan keras. melemparkan memori-memori yang hilang dari dirinya di waktu yang berbeda.
"Tidak mungkin..Pesawat kami?!"
*Set
Tubuhnya berbalik lagi menatap pantai yang dimana biru air nya menyilaukan mata. dan bayang-bayang pesawat nampak terbakar di ingatan gadis itu.
"Mengalami gagal mesih.."
*Bukh!
Buah kelapa jatuh berbarengan dengan dia yang merasa lutut tak bertulang. Dirinya yang masih terdiam merasakan kaki terbentur pelan oleh buah kelapa yang menggelinding.
"Tidak lucu jika hanya aku yang hidup dari sekian ratus orang di pesawat."
Kepala itu di remasnya kembali. Bergoyang seperti suara ombak yang memabukkan.
"Penggemar ku yang ada di Paris. Aku harap mereka tidak menganggap ku sudah mati. Akh! Shsss.." Desisnya lagi.
"Hahhh..selama masa pencarian. Aku harus bertahan hidup seorang diri. Tidak ku sangka film yang ku bintangi tahun lalu menjadi kenyataan."
Matanya menghadap ke sebuah pohon kepala. Dengan suasana pulau yang nampak sepi tanpa seekor pun sapi. "Wahh..Aku tidak akan bisa makan daging untuk waktu yang lama."
"Hhh, baiklah. Setelah ini adegan di film adalah berteriak minta tolong seperti orang gila di pulau terpencil. Skip." Jawabnya seorang diri di sana.
Rok putih itu di angkatnya, hampir memperlihatkan paha yang senada dengan pasir pantai yang di sinari matahari. Dengan tangan yang dikibas-kibaskan pada sisi badan, dia pun memanjat pohon kelapa dengan elegan. Kaki yang bergantian dari kanan dan kiri semakin cepat. Sampai membawa dia sampai di pucuk pohon kelapa yang rindang dan berbuah melimpah.
"Akhirnya, diriku yang memiliki jiwa laki-laki. Bebas ku tunjukkan disini."
*Bukh!
Awalnya hanya satu buah yang jatuh dengan di dorong oleh kaki cantik itu. Namun semakin lama buahnya bertambah, hingga terdengar lima kali benturan di atas tanah.
"Hemm..sudah cukupkah? Kalau begini tinggal daunnya saja. Tapi.."Dia yang berada di atas sana terlihat mencari sesuatu yang runcing. Namun dengan ketinggian di atas dia malah berpaling pada sesuatu disana, yang terlihat samar layaknya sesosok bangkai.
"Mungkin kah.."Gumamnya secepat kilat turun dari atas pohon kelapa.
Berlari di atas pasir harus yang menyerap kakinya, ke tempat sebuah batu yang cukup tinggi dan datar di repis gelombang pantai.
"Mayat?!" Sentaknya dengan suara tinggi, ketika sedikit terlihat sosok manusia yang terbaring di atas batu hitam.
Angin laut yang terus berhembus, membuatnya sulit mencium aroma yang lebih memastikan siapa orang di atas batu itu. "Tck, tidak ada pilihan lain."
Gadis muda itu pun berdiri di atas batu yang sama dengan tubuh orang lain itu. Dia mengintip-intip, ragu untuk lebih mendekat. Dan ketika menatap sebuah topi hitam bergaris emas, dia pun segera mendekatinya tanpa pikir panjang.
Sesosok pria tinggi. Mengenakan pakaian putih dan celana panjang hitam. Di sisi kantong baju kemejanya nampak banyak lambang-lambang yang rumit. Dan dasi terlihat longgar di kerah bajunya.
"Permisi.."Jawabnya ketika perlahan mengambil telapak tangan yang terlihat berurat dan besar itu.
Ketika di rasakan pada urat nadi yang ada di sana. detakkan kecil terasa, sampai membuat gadis yang tadinya ragu, kini mulai menepuk-nepuk pipi sang pria.
"Bangun, oi bangunlah..kau-apakah pilot pesawat ku?!" Jawabnya berulang kali, bahkan merasa sudah cukup keras pun telinganya tidak dapat mendengar suara sendiri.
"Dia..Apa kesulitan bernafas?" Benak gadis itu yang berhenti menepukkan tangan di pipi Sang Pria. Dan ketika melihat bibir yang pucat terlihat sedikit terbuka. Pikiran yang ingin bertahan hidup kini mulai terasa redup.
"Tidak. tidak boleh." Gumamnya "bahkan aku belum memiliki ciuman pertama dengan siapa pun."
"Berfikir..apa yang dilakukan setelah adegan-adegan di film-film lain yang ku bintangi."
*Byur!
Ombak pantai bertabrakkan dengan batu besar mereka. Airnya memercik sampai membasahi sedikit kaki gadis yang berlutut di depan seorang Pilot pesawatnya. Dan dengan keadaan yang cukup memusingkan, pada akhirnya memberikan penerangan kepada gadis ini yang berdiri di sisi batu yang berhadapan dengan gelombang-gelombang pantai yang bertabrakkan dengan batu besar.
"Kemarilah wahai Sang penguasa Lautan! Berikan ombak besar hingga menyadarkan orang aneh dari mimpinya!"
Teriakan itu semakin keras. Tangan yang di rentangkan selebar mungkin membuat lekuk pada tubuhnya terlihat indah bagai dewi yang tersesat dalam akal dan logika.
Sampai rapalan mantra aneh yang keluar dari mututnya, mendatangkan berkah pengendalian ombak yang membentur keras kepada batu hingga membuatnya basah kembali dengan gaun putih itu.
Byur!!!
Seorang laki laki yang terbaring di belakannya ikut terkena percitan air laut yang asin. Dengan reflex yang cukup menyambar, membuat seorang pria di sana terbangun dari mimpi yang panjang. Dan mendapatkan pemandangan dari mata yang baru saja terbuka. Melihat sosok seorang wanita berdiri di atas batu besar yang sama dengannya. Dan bayangan lekuk tubuh wanita itu mampu membuat rasa asin di bibirnya terasa manis ketika tak sengaja tertelan sedikit.
"Huh? Ah, bangun juga kau." Jawab wanita itu yang berjongkok di depan pria di depannya yang berusaha duduk di bantu kedua tangan.
"Dimana-Hah?!! Pesawatnya??!!"
Pria itu tersentak dan cepat menegakkan punggung secara spontan. Sang wanita yang tadi hanya menatap kebingungan kini melirik dengan tanang. "Kenapa? Merasa bersalah?"
"..." Mata pria itu tidak henti-hentinya mengarah kepada laut yang kini hanya menampakkan gelombang biru yang bersinar. warna yang nampak cantik tidak membuat hatinya terbuai dengan angin yang mendayu lemah.
"Aku, gagal menyelamatkan penumpang.."
"..." Kini si wanita yang ikut terdiam.
Suara tidak mendengarkan siapa pun di sekitar. Rasa mual melunjak namun tidak keluar dengan mata yang kini mulai berair.
"Kau..sungguh pilot pesawatnya?"
Pria berwajah putih itu melihat, dengan rambut hitam yang sedikit berpasir. Dia tidak menjawab terlalu panjang, hanya kembali menatap air laut yang tidak bersalah.
"Bagaimana dengan mu? Apa kau penumpang pesawat ku?"
"Apa? Kau tidak mengenal ku?" Sentak wanita itu berdiri di atas batu.
"...?"
'Wah tidak ku sangka yang lupa ingatan di sini pilotnya sendiri."
"Apa maksud mu?
"Kau yang membawa pesawatnya, apa kau tidak tahu siapa yang menjadi penumpang VIP di pesawatmu?"
"Tidak." Jawab sang pria yang mengekspresikan dirinya sedatar mungkin.
"Urus dirimu sendiri." Balas wanita itu pergi kepada pohon kelapa yang tadi telah dijatuhkannya beberapa buah dari atas pohon.
Pilot itu memandang laut lagi. Beriming-iming hanya mimpi yang dia dapatkan setelah lelah bekerja seharian.
Namun ingatan berkata lain dengan dirinya yang sedikit membayang apa yang terjadi sebelumnya.
"Sial, yang ku ingat hanyalah mesin pesawat yang diledakkan penumpang yang sengaja ingin membuat peti mati dengan pesawat."
"Ayolah ingat kembali, Braiya."
*Byur
Ombak kembali menggemai telinganya, mendesis pasir di telinga hingga tak kuasa di tahannya lagi terlalu lama. "Dimana gadis itu?"
Seorang perempuan dengan pinggang ramping, mengambil tiga buah kelapa di atas pasir. Dirinya yang merasakan perih di bagian siku hanya meringis beberapa kali dengan wajah yang menahan diri.
Sampai pria tadi datang, membawakan semua yang ada di tangannya lalu berjalan pergi tanpa bicara satu kalimat pun.
"Beginikah cara mu memperlakukan perempuan?"
"Tentu."
"Dengan mengambil apa yang dia miliki?"
"Hah?"
Gadis itu hanya menatap sang pria dengan tatapan cukup mengusik mata seseorang. Dia pun mengambil buah kelapa yang masih ada di atas pasir pantai, dan membawanya pergi ke dalam hutan yang teduh dengan daun-daun yang tembus di sinari matahari. Meninggalkan pria itu begitu saja.
"Oi! Kita tidak tahu apa yang ada di dalam hutan itu sekarang."
"..Sudah ku katakan urus dirimu sendiri!"
Mereka terpisah pada bayangan yang membawa sang gadis ke dalam hutan. Dengan Sang Pria yang masih beridiri di sinar matahari.
"Hahh..tidak bisa hanya bertahan dengan tanaman-tanaman di pulau ini."
"Sepertinya perlu mengumpulkan sesuatu sebelum malam."Jawabnya memalingkan pandangan dari hutan Pulau terpencil yang tidak nampak lagi punggung dari seorang gadis.
***
Nampak gelap sekitar pohon-pohon yang rindang. Warna hijau tua terpantul beberapa kali ke mata gadis yang menarik akar pohon hijau yang menggelantung panjang.
"Ini sedikit pipih. Kalau besar, ku rasa bisa bergelantung seperti tarzan."
Mulutnya tidak berhenti menggerutu, setelah meminum air kelapa yang menambah energinya untuk lebih banyak bicara. Dalam keheningan yang cukup panjang, dia termenung sesaat. Berbayang-bayang di dalam hutan memimpikan sedikit kilas masa lalu yang lebih menyenangkan.
"Ahh..aku rindu kemewahan. Walau terkadang muak dengan jadwal yang terlalu mengekang."
Menarik cukup banyak akar pohon, lalu memotong dengan batu yang dia temukan, lumayan lama. Sampai terputus dan segera ia bawa ke tempat yang lebih aman.
"Kira-kira dimana dia membangun tenda? Aku ingin berjarak jauh dengan tempatnya."
Menyusuri hutan, melewati semak-semak belukar hingga mata hampir terpana pada buah-buahan kecil yang menggiurkan. "Nampak manis." Gumamnya mengambil beberapa buah yang kemudian masuk ke dalam kantong gaun yang cukup sedang.
"Hm?" Gadis itu berdengung. Merasakan tanah lembab di bawah kakinya. Dan telinga menangkap suara air yang jatuh, seperti pemandian yang ada di tengah kota.
"Bercanda. Di pulau ini ada air terjun?!" Jawabnya girang dan tanpa pikir panjang berlari menuju sumber suara. Yang dimana lumayan jauh hingga telapak kaki terasa sangat kotor akibat tanah becek dan beberapa lumut yang ikut terbawa kakinya yang berlari kencang.
Cahaya nampak berkabut di balik pohon rindang, yang dimana seperti asap yang mengepul ke udara. Banyak pohon-pohon sejuk di sana mengeliling sumber mata air yang indahnya memabukkan mata.
Sebuah air terjun kecil, jernihnya air mengeringkan tenggorokan saat menatapnya dengan mata telanjang. Dan kolam kecil di sebelah kirinya nampak berasap menghasilkan uap hangat ke udara.
"Bagus, ini surga untuk membangun tenda."
"Akhirnya kau datang kepada ku!"
"?!!"
Tengkuknya merinding menangkap suara yang berat. Namun mampu membuat ketagihan. Dia mencari arah dan sumber ke segala arah. Hingga menemukan seorang pria tinggi dengan baju pilot yang masih ia kenakan. Tengah bertengger di sebuah pohon rindang dan terlihat juga bangunan yang hampir jadi di belakangnya.
"Kau?! Kenapa kau ada di atas sana? Ini tempat ku!"
"Aku hanya membangun rumah pohon di sini. Tempat tinggi untuk menghindari hewan buas."
"Argh! Tidak ada singa disini, bahkan monyet sekalipun!" Jawab gadis itu membuang semua barangnya ke tanah dan lebih menggunakan ucapan sebagai bilah untuk menusuk. "ah, maaf. Kurasa kalau monyet sudah ada. Bahkan sedang membuat rumah boneka di atas pohon."
"Katakan apa yang menurut mu lucu. Aku dengan urusan ku." Jawab pria itu turun dari tangga yang entah sejak kapan di buat olehnya untuk ke atas rumah pohon yang nampak cukup untuk empat orang di dalam.
"Tck!"
"Untuk seorang perempuan, mulut mu kasar juga."
"Aku berharap yang hidup adalah pilot perempuan."
Gadis itu menaruh semua barangnya di atas tanah, lalu kembali masuk ke dalam hutan untuk mencari beberapa barang lagi yang di butuhkan.
Braiya menatap punggung gadis itu sampai sepenuhnya masuk ke dalam hutan. Dirinya yang mengambil ranting pohon dan beberapa tongkan kembali fokus kepada pekerjaan yang harus di lakukan.
"Sungai ini tidak tercemar. Semoga ikan di dalamnya sesuai dengan kualitas airnya."
Ia mengambil pisau sedang dari dalam sakunya dan meruncingkan tongkat untuk kemudian dia berikan beberapa buah berwarna ungu tua ke ujungnya.
Braiya nampak membuka baju kemeja pilot yang melakat. Tanpa mata yang melihat, sosoknya di balik baju itu memperlihatan lekukan khusus yang bagai pahatan dari atas untuk menggoda iman banyak wanita. Tidak memberi jeda pada gerakan, tubuhnya segera menyelam ke dalam air sungai, yang rupanya tidak sedangkal otak gadis yang se-pulau dengannya.
Disisi lain, gadis yang kini semakin lincah memainkan bibir di tengah hutan pada akhirnya mengambil beberapa kayu cukup besar entak untuk apa dia gunakan. Dalam beberapa hentakkan setiap gerakannya membuang ampas emosi dari yang terkecil hingga cukup membuat kepala meledak.
"Aku benci ini. Bahkan jika harus beradu akting, aku tidak sudi." Jawabnya yang menarik keras sebuah daun tua hingga menjatuhkan buah kelapa. Yang untungnya hanya membentur telapak kaki kanan dengan hantaman yang berbunyi cukup dalam.
"Akh!"
Dirinya yang tadi panas kepala sekarang terduduk gemetar dan bersandar pada pohon kelapa yang tadi menyadarkan hidup seseorang.
"Terpaksa, kalau begini aku harus tidur di atas tanah."
Berusaha berdiri yang membuat desis dari bibirnya keluar beberapa kali. Sinar yang tidak menyilaukan, memusingkan kepalanya yang kini mencoba mencari arah suara air terjun tadi.
"Ini sudah sore. Ahh, aku ingin kasur ku dengan Tv besar di depannya."
"Jika ada pengawal ku disini, sudah ku suruh mereka membunuh pilot itu.'
"Akh!" Rintihannya lagi untuk yang sekian kalinya.
Suara air terjun menenangkan jiwa yang terbisik emosi. Dan membawa dia sampai kembali lagi pada ketenangan surgawi.
*Byur
Air yang tadi tenang-tenang saja, menyentak kan dirinya yang terlalu lama menyaksikan nyanyian alam. Mulut yang tadi ingin mengumpat pada akhirnya bisu, ketika melihat sesosok laki-laki dengan tubuh roti sobek putih keluar dari dalam air.
"Ahh, kau sudah datang lagi." Jawab pria itu, datar menatap si gadis yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Mata Braiya bergerak ke sana kemari, mencari kesalahan yang ada pada seseorang yang sama sekali tidak dikenali oleh dirinya. Dan ketika mengarah ke bawah, mata itu tidak lagi menerawang. Dan segera naik ke atas permukaan. Yang dimana menyentakkan pundak gadis yang kini berada di depannya hampir sejajar.
"Apa?" Tanya gadis itu yang sepertinya kembali ke sifat awal.
Braiya hanya menatap tanpa raut di wajahnya, dan tanpa di minta ia segera berlutut di depan gadis itu yang kini hampir melangkah mundur dari dirinya.
*Tep
Tangan kekar itu menangkap kaki kanannya. Dan menarik lembut untuk kemudian dia taruh di atas lutut kiri. "Ini hanya memar biasa. Aku kira kau tergigit ular atau semacamnya."
"Kau berdoa agar lebih buruk?" Tanya gadis itu yang kini meringis ketika kaki kanannya di sentuh sedikit oleh pria telanjang dada yang berlutut di bawah.
"Apa yang kau lakukan--"
*Brekh!
Gadis itu hanya membisu ketika pria di bawahnya menyobek gaun putih walau sedikit di bagian bawah. Walau yang dia kenakan masih cukup panjang, tapi masa lalu mengingatkannya pada harga gaun yang ia kenakan.
"Kenapa kau sobek gaun ku?!!"
"Alasannya hanya karena baju ku jauh, dan tidak sempat ku sobek. Lagi pula tidak ada perban di pulau ini."
"What?!! Kau tidak tahu ini berapa ku beli di Paris?!!"
"Aku juga tidak mau tahu berapa biaya obat untuk tulang kaki yang patah di pulau ini."
"Kau--Akh!" Tangan yang tadi ingin diangkat setinggi mungkin turun kembali ketika rasa nyeri mengalir saat kakinya di balut dengan sobekan gaun yang dia banggakan.
"Besok, kurasa bisa kau gunakan untuk jalan jauh. Selama hal itu, cobalah untuk tidak banyak bertingkah hal-hal aneh."
"Kau harus membayar ini."
"Baiklah, uangnya ku ganti dengan kau boleh tidur di rumah pohon ku."
"Aku tidak sudi tidur bersama mu."
"Ohh, rupanya kau berfikir demikian. Cobalah jika kau punya kesempatan."
"Kau!!"
"Aku akan menyiapkan kayu bakar. Dalam gelap nanti aku rasa kau tidak bisa melihat."
"Maksud mu kau bisa, begitu?"
"Aku pernah mengendalikan jet di angkatan udara di Jerman. Mata adalah alat untuk mengendalikannya."
Braiya pergi begitu saja, membalikkan badan tanpa menghadap ke belakang. Walau gadis di belakangnya berkata sesuatu yang cukup sulit di dengar.
***
Lantunan gemericik api melayang hingga menghangatkan udara sekitar pria yang kini telah mengenakan pakaiannya lagi. Dia sesekali melirik pada seorang gadis di pinggir sebrang sungai yang meringkuk di dekat sumber air panas yang mengepul ke udara.
"Apa bisa hangat, hanya dengan itu?"
"Tentu!" Jawab gadis yang dari tadi memberikan tangannya terselimuti kepulan asap hangat yang nampak samar dan sekitar penuh kegelapan.
"Ini." Balas Braiya, yang menyodorkan ikan matang yang di tusuk kayu kecil kepada gadis yang melirik kan mata pada api unggun nya.
"Aku punya makanan."
"Sungguh?" Tanya Braiya sedikit memperlihatkan raut wajah menghina.
"Tck!"
Decihan yang cukup nyaring itu sampai ke telinga pria di sebrang sungai. Dirinya hanya menatap kepada perempuan songong, yang mengeluarkan buah ungu tua kecil dari saku bajunya.
"Ohh, itu yang ku gunakan untuk membius ikannya. Aku ingin melihat apa yang terjadi jika kau seperti ikan sungai ini." Balas Braiya menaikkan satu ikan besar yang matang di tangannya. Aroma gurih yang sampai ke hidung membuat gadis itu hanya menelan ludah saja.
"Aku bisa mengambil buah kelapa lagi."
"Dengan kaki seperti itu? Dan harus kembali ke pinggir pantai? Ku rasa kau tidak akan bisa kembali dengan malam yang gelap ini."
"Untuk ukuran laki-laki kau banyak bicara."
"Untuk ukuran perempuan kau terlalu banyak menghina."
Mereka berdua tidak beradu argumen lagi. Dan saling mengurusi urusan masing-masing yang sebenarnya saling membutuhkan.
"Tck, aku butuh talinya untuk menyelesaikan rumah pohon ku. " Benak Braiya yang menggerutu ketika melihat sebuah tali kuat di sisi gadis di sebrang sungai.
"Aku lapar.." Benak gadis itu yang juga tidak kuat dengan aroma yang di hasilkan oleh ikan panggang.
"Harkhh.." Suara helaan nafas dari Braiya menyadarkan lamunannya. Pria berbaju putih itu membawa ikan cukup besar di atas daun pisang. Dan membawanya menyebrangi sungai dengan batu-batu yang muncul ke permukaan.
"Kita bertukar saja."
"Hah?"
"Aku berikan ikan ini. Kau berikan aku tali itu."
Awalnya hanya keheningan di antara mereka berdua. Namun melihat ikan di atas daun pisang membuat gadis itu mengambilnya dan berkata.
"Silahkan saja."
Braiya melepas hasil buruannya dengan mudah. Kemudian mengambil tali di pinggir untuk kemudian di bawanya pergi ke sebuah pohon yang terdapat tangga untuk ia naikki.
Suara hantaman antara batu dan pohon terdengar keras, Ketika pria di sana menyambung-nyambung kan bagian-bagian rumah sedemikian rupa. Hingga sempat membuat gadis yang makan ikan di sana menyangka bahwa pilot di atas pohon merupakan kuli yang pernah membangun mansion mewah di Jepang.
"Lumayan." Gumam gadis itu sembari terus mengunyah ikan yang terasa menu restoran bintang lima.
"Selesai."
"Hng?"
"Ini tidak akan runtuh untuk lima tahun ke depan."
"Percaya diri sekali. Kau seperti menghina jalan yang di bangun pemerintah dari uang pajak."
"Sayangnya tidak ada lagi istilah uang di pulau seperti ini."
"Yah, itu berkat kau yang tidak benar mengendalikan pesawatnya."
"Jaga ucapan mu."
"..."