Terkadang tanpa kita sadari, satu kebiasaan yang tidak kita pahami dasarnya. Berakhir menjadi rasa kekecewaan untuk orang lain. Itulah yang aku rasakan saat ini. Ketika aku menjadi seorang pembaca bukan seorang penulis.
''Ceritanya kurang greget"
"Ini terlalu lebay."
"Kenapa hambar?"
Semua kalimat tanya, ketidakpuasan dan lain sebagainya. Aku sibuk memberikan statment dari sudut pandang ku sendiri. Hingga, aku mendengar keluhan sahabat baik ku.
"Rain, apakah aku salah menjadi seorang penulis?" tanya Delima padaku, dengan mata berkaca-kaca.
Aku terdiam sejenak. Sejak kapan sahabat ku terjun menjadi seorang penulis? Apa aku terlalu tidak peka? Kenapa pula mata Delima siap menerjunkan hujan?
"Rain!" panggil Delima.
"Eh. Iya ada apa?" tukas ku dengan wajah tak paham.
Tangan Delima spontan menjitak keningku, aku baru sadar apa yang menjadi kegalauan sahabat ku itu. "Coba ceritakan dulu. Kenapa kamu menjadi seorang penulis."
"Aku hanya ingin melepaskan emosiku melalui sebuah karya dan berbagi kisah dengan orang lain. Semua seperti healing bagiku, menulis menjadi bagian dari hidupku. Rain, kamu tahu bukan jika aku seorang penulis?" Delima menatapku dengan mata selidik.
Aku menggelengkan kepala, tapi berubah menganggukkan kepala. "Hehe, aku tidak tahu kamu seorang penulis tapi aku pasti akan membaca tulisan milik sahabat ku."
"Terserah kamu Rain, kamu selalu tak peka" cetus Delima merajuk.
Aku menggenggam tangan sahabat ku. "Sekarang katakan, apa yang menjadi alasan kamu ingin berhenti menulis?"
Delima menunduk, seakan di bawah ada sebongkah berlian. "Banyak pembaca yang tidak memahami, bagaimana cara peduli dengan karya para penulis. Hari ini, aku melihat banyak boom like di karya ku. Rasanya aku ingin marah karena kesal tapi apa gunanya itu? Tidak semua pembaca tahu, jika boom like bisa menurunkan performa sebuah karya sang penulis."
"Apa itu boom like?" tanya ku dengan antusias.
Delima melirik ku dengan sinis. "Boom like itu kita membaca sepersekian detik dan langsung memberikan like pada sebuah karya. Seperti hanya scroll terus menerus begitu, membaca tapi tanpa dibaca dengan benar. Sepuluh bab bisa dibaca selama 5 menit. Dan cara ini sangat merugikan seorang penulis."
"Wait. Artinya aku juga melakukan kesalahan." seru ku sembari menepuk keningku sendiri.
Delima menatap ku, dan memberikan kode mata.
"Emm. Bukan apa-apa. Lanjutkan penjelasan mu." tukas ku dengan menetralkan perasaan.
"Yah banyak penulis yang sedih karena kasus boom like, aku ingin menyerah tapi menulis menjadi bagian hidupku. Aku hanya bisa berharap, para pembaca semakin memberikan apresiasi pada semua karya yang mereka baca. Bahkan, seorang penulis sudah bersyukur memiliki pembaca. Jika ada yang memberikan like, comment, atau di masukkan dalam rak buku favorit. Itu seperti sebuah bonus bagi seorang penulis." jelas Delima.
Setiap kata dari Delima aku cerna, hingga kusadari kesalahan setiap kali membaca sebuah karya. "Respect Penulis. "
Delima mengangguk. "Yah itu yang aku harapkan dari para pembaca."
"Sebagai salah satu pembaca dengan cara yang tidak benar, aku akan memperbaiki kebiasaan ku. Dan itu dimulai dari membaca karya sahabat terbaik ku. Ayo tuliskan judul karya mu disini!" tukas ku menyodorkan ponselku yang memiliki casing hitam polos.
[Hay semua 😊- Cerpen bertema *Respect Penulis* sengaja othoor kacang mentah tulis. Karena othoor ingin banyak orang memahami satu kebiasaan yang memang tidak memiliki dasar bisa membuat seorang penulis kecewa. Bahkan, othoor sendiri yang menulis tanpa memahami dasar penulisan menghasilkan karya yang pasti membuat banyak pembaca pusing tujuh keliling, 🤭 Ayo, kita sama-sama perbaiki baik seorang pembaca ataupun seorang penulis tetap memiliki step dan selalu belajar lebih baik 🙏 Semoga cerpen othoor tidak menyinggung siapapun ya. Jika ada, othoor minta maaf. 🙏]
.