Napasku berderu kencang, seirama dengan langkah kakiku yang menginjak dedaunan kering. Aku tak menyangka bisa berada di situasi yang gila seperti ini.
**********
"Woy Lee! Gila makin hari, makin jadi aja badan lu gue liat," Ucap salah satu temanku, Gunawan.
"Nggak lah, segini masih tergolong normal dan sehat. Noh se Bagas tuh baru beneran jadi badannya" Jawabku sambil menaruh ransel di dinding rumah Bagas.
"Ada apa nih bawa-bawa nama gue? Iri dengki ya kalian? Makanya gue ajak gym bareng, mau dong, jangan kalah sama Roy," Ucap Bagas dengan nada sombong.
"Ett lu pada yak, kayak cewek-cewek aja rumpi mulu" Ketus Roy menyambar.
Kami masih menunggu satu orang lagi. Bisa di bilang pemilik ide dari menginap bersama ini, Anjas. Setelah lama kami mengobrol, tiba-tiba terdengar suara mobil jeep yang datang tiba-tiba melintas di depan kami.
Brum brum...
"Lama banget lu! Nunggu mpe kita kering dulu ya baru lu dateng?" Tanya Roy dengan kalimat sarkasnya.
"Ye... Sorry... Tiba-tiba ban bocor ke empat-empat nya. Tumbenan begini" Jawab Anjas menyambar sambil turun dari mobil dan menaikkan barang-barang yang akan dibawa.
"Pertanda kali tuh..." Ujar Gunawan yang membuat kami semua tiba-tiba terdiam memperhatikan Gunawan.
"Eh somplak! Jangan aneh-aneh deh lu!" Ujar Bagas memecah keheningan dengan memukul kepala Gunawan.
"Yeh lu badan doang gede, penakut juga kan," Ledek Gunawan yang membuat Bagas ingin langsung baku hantam dengan Gunawan. Aku yang melihatnya dengan segera melerai mereka dan menyuruh mereka untuk segera menaikkan barang bawaan.
Perjalanan kami ke villa keluarganya Anjas membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam, itu pun sudah dengan menggunakan jalan tol.
Selama di perjalanan, kami benar-benar merasakan panas yang luar biasa. Padahal AC di mobil sudah full dan kecepatan kipasnya juga paling kencang.
"AC mobil lu bermasalah kali, njas" Ucap Gunawan yang tiba-tiba nyeletuk sambil menyeka keringatnya.
"Lah ini mobil baru diservis, cok! Ye kali langsung rusak" Jawab Anjas sambil membuka semua jendela mobil dan mematikan pendingin udara.
"Akhirnya gue bisa bernapas lagi... Gila serasa di neraka emang barusan tuh" Ucap Roy dengan kalimat sarkasnya.
"Emang lu pernah ke neraka?" Tanyaku.
"Nggak" Jawab Roy singkat.
Setelah kami menikmati lamanya perjalanan di tol, kami sampai di sebuah jalan besar yang lumayan sepi.
"Beneran lewat sini ke villa nya? Tanya ku kepada Anjas.
"Iya bener. Dah beberapa kali gue ke sini bolak-balik, jadi dah hapal jalannya. Jawab Anjas menjelaskan.
Setelah beberapa menit keluar dari tol, kami sampai di sebuah villa penginapan di pinggir jalan raya yang sepi. Hari masih terang, meskipun jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Widih lumayan gede juga ya. Ada yang jaga kan pasti? Wong villa segede ini" Ujar Bagas.
"Yoi, pasti ada lah... Yok masuk dulu semuanya. Anggap aja rumah sendiri, jangan anggep rumah nenek lu" Jawab Anjas santai mengajak kami masuk.
Rumah villa keluarga Anjas terbilang luas karena ada kolam renang, billiard, dan area memanah. Di belakang villa terdapat hutan yang ku rasa cukup luas. Yang disayangkan dari villa ini adalah minimnya sinyal yang sekelas T-s*l maupun *L dan juga tidak terdapat wifi di villa ini.
Kami menginap selama tiga hari, dua malam. Di malam terakhir kami menginap, Anjas menceritakan kepada kami kalau sebenarnya orang tua Anjas bisa membeli rumah sebesar dan semewah ini dengan harga yang terbilang sangat murah, karena rumah ini merupakan rumah bekas pembunuhan yang dulu pernah terjadi di sini.
Pagi harinya, kami ber empat, aku, Bagas, Gunawan, dan Roy sudah siap di ruang tengah dengan barang-barang kami karena ingin pulang. Kami masih menunggu Anjas untuk turun dan pulang.
"Ehh bentaran dulu yak, gue nyari pembantu yang jaga ini rumah. Mau pamitan pulang. Nih konci mobilnya, masukin dulu gih barang-barang kalian. Sama sekalian tas gue yak" Sahut Anjas yang baru turun dari kamarnya yang berada di lantai atas dan kemudian pergi mencari pembantu yang menjaga villa ini.
"Asem, repot amet dah tuh bocah. Kek gak ada alesan laen buat buat nyuruh org angkutin barangnya dia" Keluh Bagas sambil mengangkut barang-barang Anjas dan Bagas.
"Lu, timbang angkat barang-barang aja ngeluh nya selangit, kok kalo lu angkat-angkat barbel yang lebih berat dari ini, nggak ada ngeluh-ngeluhnya" Ucap Roy yang sepertinya agak risih dengan keluhan Bagas.
"Itu mah beda lagi konteksnya. Intinya buat apa nyuruh orang kalo dia sendiri bisa" Jawab Bagas dengan sedikit nada kesal.
"Ya, bantu temen apa salahnya sih? Cuma bantu angkat tas doang aja ngeluh" Ucap Roy sambil menata tas-tas ke bagasi mobil.
"Lu-" Ucapan Bagas terhenti karena aku menutup mulutnya.
"Dah, cukup, oke? Gak usah berantem kek anak kecil. Dah mau pulang juga" Sanggah ku, kemudian disusul dengan suara bantingan pintu bagasi mobil yang dilakukan oleh Roy.
"Ish... Lama banget anak manusia satu ini. Cuma nyari pembantu aja mpe selama ini" Keluh Roy.
"Nah kan bilang orang ngeluh mulu, sendiri juga ngeluh kan, lu" Ujar Bagas membalas ucapan Roy sebelumnya.
"BAC*T!" Seru Roy sambil menunjuk Bagas dan kemudian Roy pergi mencari Anjas. Tidak lama kami mendengar suara teriakan Roy. Kami yang mendengar itu langsung menghampiri asal suara.
Ketika sampai, kami melihat Roy terduduk menutup mulut dengan tangannya sambil menunjuk sebuah ruangan yang terbuka. Disana terdapat sang penjaga rumah yang sedang memakan tubuh laki-laki yang pasti kami mengenal siapa laki-laki itu. Anjas.
Kami semua langsung berlari menjauhi ruangan itu ketika kepala si penjaga menengok ke arah kami. Sontak Roy langsung buru-buru berdiri dan kabur.
Bagas mengambil kunci mobil dan langsung masuk ke dalamnya. Aku dan Gunawan sudah berhasil masuk, tetapi Roy masih ketinggalan. Kakinya gemetar sehingga jaket yang dikenakannya nyangkut di gagang pintu masuk.
Bagas yang sudah tidak tahan dengan Roy, meninggalkan Roy dan langsung tancap gas. Ku lihat Roy yang berhasil melepas jaketnya, tertahan kembali karena kakinya sudah di pegang oleh penjaga villa.
Bagas dengan gigihnya menyetir mobil menuju pagar villa, akan tetapi rasanya seperti sangat amat jauh. Padahal saat kita masuk itu hanya berjarak beberapa meter saja. Karena ketakutan, Bagas yang menyetir secara ugal-ugalan dan melihat ke belakang terus melalui kaca spion, tidak sadar kalau ada pohon besar yang membuat mobil yang kami naiki menabarak pohon itu.
Ku lihat Bagas langsung meninggal di tempat karena bantal emergency tidak berfungsi dengan baik. Aku dan Gunawan langsung buru-buru keluar mobil dan kami mendapati Roy yang sudah tercabik-cabik, dengan tubuh yang berwarna ungu itu berjalan mendekati kamu seperti zombie.
Aku berinisiatif untuk kabur ke hutan mengajak Gunawan yang terlihat menangis ketakutan. Gunawan hanya bisa pasrah dengan apa yang dilihatnya sedari tadi. Terlihat dari wajah Gunawan yang pucat pasi dan lelah. Aku menduduk kannya di sebuah pohon setelah jarak kami dari villa tersebut lumayan jauh.
"Gun, masih kuat buat lari? Kita bisa kok kabur dari tempat ini" Ucap ku membangkitkan semangat Gunawan.
"Tunggu dulu, Lee. Asli gue capek. Sialan gk berhenti nangis dan gemeteran gue" Jawab Gunawan yang benar-benar seperti tidak berdaya
"Yaudah, lu tunggu di sini dulu. Gue coba liat ke depan sana, semoga aja ketemu pemukiman warga" Jelas ku.
"Semoga di sini lu aman kita udah lumayan jauh dari rumah itu. Seharusnya gapapa" Lanjutku mencoba meyakinkan Gunawan.
Aku berjalan dengan cepat melewati pepohonan, ku lihat di sana terdapat cahaya yang memungkinkan kita bisa selamat. Tibahtiba terdengar suara jeritan yang berasal dari belakangku. Itu suara Gunawan!
Aku segera menghampiri asal suara. Ketika sampai, aku melihat Gunawan dengan kakinya yang tertimpa batang pohon yang lumayan besar entah dari mana. Dengan segera ku singkirkan batang pohon itu dan sebisa mungkin ku gendong dia di belakang dan ku coba bawa lari tubuhku dan tubuh Gunawan ini.
Tidak lama, kakiku yang kali ini benar-benar gemetar, tidak kuat lagi rasanya. Akan tetapi jalan besar sudah mulai terlihat. Ku turunkan badan Gunawan yang pingsan karena terluka, dan ku bopong sambil berjalan. Dengan usaha ku yang berjalan tertatih-tatih, kami bertemu seorang warga yang juga kebetulan melihat kami dan segera menolong kami ketika aku meminta tolong.
Aku yang sudah tidak kuat lagi dengan lelahnya berlari dan membawa beban tambahan, hanya bisa berbaring di saat seorang warga tadi memanggil warga lainnya untuk menolong ku dan Gunawan. Aku merasakan badanku di angkat dan dimasukkan ke sebuah mobil seorang warga. Ketika sadar, ku lihat banyak orang yang berkumpul di sekelilingku.
Aku menceritakan semua kejadian yang aku dan teman-temanku alami. Termasuk bagaimana kondisi Gunawan yang bisa dibilang tidak lagi utuh badannya. Gunawan berada di sebelah kasurku dan sedang tertidur. Ku harap dirinya bisa menerima keadaan tubuhnya yang sekarang setelah insiden itu.
Salah seorang warga menjelaskan kalau pada dasarnya memang yang di ceritakan Anjas benar, akan tetapi tidak diperbolehkan untuk menceritakan hal tersebut di dalam rumah. Itulah sebab kenapa bisa terjadi kejadian seperti yang ku lihat dari teman-temanku. Di tambah juga perilaku, dan omongan mereka juga membuat penghuni rumah itu marah.
Setelah beberapa hari semenjak kepergian teman-temanku di villa keluarga Anjas, ku dengar kalau keluarga Anjas kembali menjual rumah tersebut yang kemudian gagal, sampai akhirnya rumah itu di ratakan dengan tanah. Dan hanya tersisa sebatang pohon besar yang tidak bisa di tebang karena terlalu besar untuk ditebang.