Cerita ini merupakan spin off dari Novel DIA. Karakter di dalamnya pun juga masih berkaitan dengan karakter-karakter di novel tersebut.
________________
----------------------
Kesal, malu, kecewa. Ketiga perasaan ini bercampur menjadi satu. Tapi penasaran, siapa pengirimnya? Kenapa harus di loker ku? Kenapa bukan Mary? Sekelas yang kayak Bima, idola para cewek-cewek di sekolah aja bisa naksir Mary.
Surat berwarna biru muda yang terselip di tumpukan sampah di loker ku kemaren ini ku tatap lekat-lekat. Ku baca ulang tiap-tiap tulisannya. Nama ku, meskipun bukan nama lengkap atau nama ku yang jelas, tapi nama panggilan ku ini yang di tulis di sini.
"Mr. X... Anata wa dare? (Kamu siapa?)" Gumamku sambil berbaring di kasur.
Panggilan ibuku benar-benar memecah keheningan kamar yang membuatku melamun cukup lama. Tersadar perutku mulai memintah jatah, aku langsung ke bawah.
Beberapa hari berlalu, aku benar-benar melupakan akan surat itu karena aku lebih mempedulikan Mary, sahabatku sejak kecil. Dia, matahariku, satu-satunya teman yang menganggapku beneran teman. Sifat cerianya hilang karena kelakuan cowok sialan yang kurang ajar, Rico namanya. Hingga suatu hari ketika sedang mencari keberadaan Rico, aku di menangis di pelukan seorang cowok. Tapi siapa?
"Udah berhenti nangisnya? Masih mau nangis lagi gak? Sek-sekan gitu" Tanya cowok yang berada di depanku sekarang. Ku perhatikan benar-benar dia hingga air mata ku berhenti.
Cowok ini memiliki rupa seperti orang luar negri, bule dengan rambut hitam kemerahan. Matanya, seperti aku pernah melihat warna mata emerald itu.
"Kalo masih mau nangis gapapa kok, nangis aja" Lanjut cowok bule ini. Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil duduk bersimpuh dan menunduk malu.
"Hans! Gimana udah berhenti nangis Mini nya?" tanya Bima dari kejauhan sambil berlari.
"Udah nggak sih cuma sekarang lagi diem-dieman aja yang kedengeran sek-sekan doang" jawab cowok di depanku yang bernama Hans sambil memperhatikanku yang menunduk.
Tunggu, dia hans? Aku terkaget karena yang tadi menenangkan ku itu namanya Hans. Atau dia Hans yang waktu itu aku main masuk aja ke rumahnya? Duh makin malunya diriku.
"Mini? Lo demam? Muka lu merah gitu" tanya Bima. Kemudian tiba-tiba Hans memegang keningku, dan tanganya yang sebelah lagi memegang keningnya sendiri. Makin memerah lah wajahku dan kali ini beneran panas.
"Lo ikut ke UKS aja yuk lagi demam begini nih. Atau mau pulang aja?" tanya Hans yang merasakan panasnya kepala ku. Aku hanya bisa geleng-geleng dan terdiam. Ku lihat Bima ikutan duduk di samping Hans yang berada di depanku.
Kami mengobrol seputar Mary. Aku sadar kalau Bima sebenarnya tertarik dengan Mary sedari tadi yang di tanya Mary.
"Oh, iya tempo hari lu ke rumah gue ngapain? Kan gua sama lu beda kelas" tanya Hans yang mencoba cari topik pembicaraan.
"Ke-kenapa lo bisa tau gue ke rumah lo? Dan gue gak sendiri kok ke sana!" jawabku yang rasanya mau pindah planet saking malunya.
"Iya lu gak sendiri, tapi sama Mary juga. Kakak gue yang ngasih tau" jawab Hans dengan santainya.
Bima yang kaget mendengar nama Mary mulai bertanya seperti mengiterogasi. Pada akhirnya aku menjelaskan apa yang terjadi pada hari aku nyasar di komplek dan memasuki rumah besar yang kemudian muncul perempuan cantik dari dalam rumah menegur kami.
Aku mulai mencari alasan bisa agar keluar dari situasi di situ dan pulang. Selama perjalanan, aku mulai terpikir lagi dengan surat yang ku dapatkan, setelah itu hilang karena ingat akan Mary.
Selama beberapa hari aku benar-benar fokus ingin membuat Mary sembuh, tapi bagaimana caranya? Di tambah dengan munculnya kembali cowok yang paling tidak ingin ku harapkan kehadirannya.
**********
Kriettt...
"Widih... Akhirnya temanku tidak seperti dulu, muncul juga surat-surat di lokernya" Ledek Mary yang isi rak sepatu ku bukan lagi sampah, tapi surat. Kali ini ada lebih dari satu dengan warna amplop yang sama.
"Oh, iya surat yang tempo hari itu gimana? Baru sekarang lagi di lanjut ya?" Lanjut Mary meledek.
"Aku buang aja ya surat-surat ini?" Tanya ku bingung.
"Eh? Tadi kamu bilang apa? Aku? Min, kamu sehat kan? Mini nggak lagi aneh-aneh kan? Tumbenan manggil diri sendiri dengan sebutan Aku, biasanya Gue" Tanya Mary ragu dengan diriku yang terlihat berbeda sambil melihat ku dari atas ke bawah dan balik lagi ke atas.
"Gu-gue! Iya gue baru sadar! I-ini gue buang aja ya?" Tanya ku balik memperbaiki kalimat ku sebelumnya.
"Eh? Kenapa? Kemaren itu seneng banget dapet surat, sekarang kok mau di buang?" Tanya Mary heran.
"Uhm... Gue ada tertarik sama cowok, ta-tapi belom suka, baru tertarik" Jawabku terbata-bata menjelaskan.
"Eh...? Siapa tuh?" Tanya Mary menyelidik.
"Ya, pokoknya anak basket, dia temen sekelas lo juga" Jawabku cepat.
"Eh? Bima? Kamu suka sama Bima?" Tanya Mary lagi. Dengan cepat aku menutup mulutnya karena terlalu berbahaya menyebut nama Bima di lorong sekolah.
"Ya kali lah, gila aja gue suka sama dia, mau kena damprat ma temen-temen di kelas gw yg jelas2 fanatiknya Bima? Ogah sih gw, mah. Intinya dia itu tuh ketua tim basket, ada di kelas lo, titik" Jawabku menjelaskan.
"Oh, yaudah di simpen aja di tas, toh itu nggak banyak kan? Bacanya di rumah," Ujar Mary menjelaskan.
Aku mengikuti saran Mary dan tak sabar ingin cepat pulang, lalu membaca isi surat-surat itu. Jujur aku masih penasaran siapa sebenarnya Mr. X itu? Kenapa menamai dirinya Mr. X?
Sesampainya di rumahku, buru-buru aku menarik Mary berlari ke kamar dan membuka isi tas ku.
"Dari mana nih bacanya?" Tanya ku tak sabar.
"Keknya ada sedikit petunjuk deh Min. Coba liat d ujung surat ini ada garis yg kalo di urutin jadi keliatan" Jawab Mary menyelidik amplop surat-surat. Suratnya ini ada tiga totalnya. Ketika di buka, masing-masing amplop ada satu surat.
"Kenapa gak di jadiin satu amplop aja deh, malah dibuat banyak begini" Keluhku sambil membaca satu per satu isi suratnya.
"Oke bisa di simpulin, intinya dia emang ngejar-ngejar kamu, tapi nggak mau orang lain tau. Hum... Misterius juga ya si Mister eks ini," Ledek Mary yang menyebut Mr. X dengan jelas.
"Jadi gue musti sendirian nih kali ini ketemunya?" Tanyaku bingung dan takut kejadian sebelumnya terulang, dimana sata itu aku juga di ajak bertemu, akan tetapi Mr. X ini tidak jadi datang.
"Ya iya lah, harus berani dong kamu" Jawab Mary meyakinkan.
"Lu ikut temenin gue yaa... Dari kejauhan deh kalo nggak... Please..." Pintaku memelas.
"Gak! Gak mau. Kali ini kamu harus bisa berani sendiri. Masa ngelabrak anak orang sendirian sampe babak belur bisa, tapi giliran masalah ini nggak" Tolak Mary yang mengingatkan ku akan kejadian dulu yang aku pergi sendirian mencari tentang Rico dan kami beradu tinju hingga aku kena skors dari sekolah.
Aku hanya bisa pasrah untuk mengikuti keinginan Mr. X ini. Dan saat waktu yang di tentukan di surat itu tiba, aku datang sendirian di sebuah taman dan duduk di salah satu bangku sambil melihat pasangan lainnya.
"Akhirnya dateng juga kamu, ku kira gak jadi dateng," Terdengar suara cowok dari belakangku. Karena kaget, aku langsung menengok ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Aku tidak menghiraukan suara itu dan kembali mengalihkan pandanganku ke orang-orang di taman. Hingga datang seseorang yang sangat jelas ku kenal siapa dia.
"Hai, Mini" Sapa Hans.
"Hai, lu ngapain di sini?" Tanyaku menyelidik.
"Hum, boleh gue duduk di sebelah lu?" Tanya Hans balik.
"Oh, boleh-boleh" Jawab ku sambil mengambil tas yang ku bawa dan menaruhnya di pangkuanku.
"Lagi nunggu orang?" Tanya Hans lagi tanpa menjawab pertanyaan ku yang sebelumnya.
"Iya nih, lu sendiri ngapain?" Tanya ku balik.
"Sama lagi nunggu orang juga" Jawabnya.
"Oh, siapa kalo boleh tau?" Tanya ku lagi sambil menatap lurus kedepan.
"Elu orangnya" Jawab Hans santai. Aku yang kaget dengan jawabannya, melihat Hans yang sedang menatap ku dari samping.
"E-ehh...?! C-cho-chotto matte kudasai... Bentar, maksudnya gimana nih?" Tanya ku bingung dengan jawaban Hans yang tiba-tiba sambil menyipitkan mataku tanda ragu tidak percaya. Hans hanya terdiam sambil senyum. Astagah senyumannya itu benar-benar membuatku tak tahan, rasa ingin meleleh.
"Ja-jadi... Mr. X itu kamu?" Tanya ku yang mencoba meyakinkan kalau yang ku alami ini bukan mimpi.
"Hmm... Ya, itu aku" Jawab Hans simpel.
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ku alami sekarang. Senang bercampur bingung harus bersikap apa di depan Hans mengingat apa yang sudah ku lakukan di depan dia sebelumnya.
"Mitsuko, maaf kalo hari ini bener-bener bikin kamu terkaget-kaget, tapi sesuai yang ku ungkapin di surat-suratku. Mau kah kamu jadi pacarku?" Tanya Hans yang menyatakan cintanya. Saat itu hariku benar-benar tidak bisa ku gambarkan rasanya.
**********
"Gimana hasilnya? Siapa tuh si Mr. X?" Tanya Mary kepadaku ketika aku pulang.
"Mary! Lo musti tau ini! Masih inget siapa yang gue suka, yang tadi pagi gue ceritain ke lu? " Tanya ku tanpa menjawab pertanyaan Mary.
"Iya tau, kenapa emangnya?" Tanya Mary balik.
"Dia si Mr. X nya!" Jawabku cepat. Ku lihat ekspresi Mary mulai menyebalkan. Ku rasa dia akan dengan segera meledek ku.
"Eh~ terus gimana selanjutnya? Kalian-" Kalimat Mary langsung dengan cepat juga ku jawab.
"Gue tolak dia" Ucap ku singkat.
Bisa dengan jelas ku lihat kembali ekspresi wajah Mary yang langsung berubah kesal dengan tiba-tiba memukul kepala ku. Aku sambil tertawa menjelaskan kalau aku meminta waktu dulu karena pernyataan itu terlalu mendadak. Aku juga menceritakan kalau aku juga memberi tau ke Hans kalau aku juga menyukai dia sejak pandangan pertama.