"Aku dimana ini?"
Aku masuk dalam novel begitu bangun tidur. Itu adalah pemikiran yang tak pernah akan aku pikirkan sama sekali, namun semua itu benar adanya terjadi pada diriku yang malang ini.
Aku mengerjab berkali - kali dan melihat sekelilingku adalah benda - benda asing yang sepertinya pernah aku sebutkan dan aku kenali karena aku telah mengingat apa yang aku baca sebelum tidur semalam.
Ya, sebelum tidur kemaren aku sedang bersantai dengan membaca sebuah novel yang baru saja aku download di hanpon ku dan baru saja aku baca sinopsisnya, namun mataku sudah sangat lelah dan langsung tertidur begitu saja.
Aku Kurnia Isabela yang dipanggil dengan nama Riri ini sedang bekerja disebuah rumah sakit swasta, dan setiap hari harus berurusan dengan orang - orang sakit yang kadang keluarganya seenaknya sendiri dan membuat aku lelah.
Malam itu saat pulang kerja aku dikasih tau teman yang gemar membaca novel - novel di hanpon, aku pun mengikuti dia dan memang menyenangkan menikmati membaca saat sudah bersantai di rumah. Dan aku melihat judul novel yang menarik mataku namun belum selesai aku membacanya mataku sudah tak bisa diajak kompromi karena ngantuk berat. Dan novel itu berjudul love to death.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, saat ku rasakan tubuhku seperti mengambang didalam air dan saat aku membuka mataku perlahan alangkah kagetnya aku karena aku berada didalam sebuah bathtub tanpa alas apa pun yang menutupi diriku. Sontak saja hal itu membuat aku kaget dan juga takut pasalnya aku masuk kedalam novel yang baru aku baca sinopsisnya saja itu pun juga belum selesai aku baca sampai akhir.
Aku mengenali kalau aku sedang berada didalam novel karena aku mengawasi sekeliling ku dan kulihat benda - benda yang tak pernah ku lihat sebelumnya namun aku yakin pernah mengucapkan nama benda - benda itu.
"Deg. Astaga i-ini adalah kamar mandi yang aku baca dalam novel sebelum aku tidur dan sialnya aku belum menyelesaikan membaca karena aku baru membaca sinopsisnya saja dan kalau tak salah aku akan mati dicekik sampai mati setelah ini."
Itulah kalimat yang aku ucapkan setelah aku mengenali benda - benda yang aku lihat dan mulai mengetahui situasi aku berada saat itu, dan sialnya belum cukup aku menetralkan semua keterkejutan ku pintu kamar mandi sudah dibuka oleh orang yang pasti akan membunuhku didalam novel ini.
Ceklek
"Ya ampun apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa aku harus masuk kedalam tubuh gadis ini sih. Dan sialnya kenapa dia bisa berurusan sama orang kejam seperti pria dalam novel itu yang aku tak tau siapa namanya."
Aku panik karena aku tak tau cerita selanjutnya yang aku tau kalau aku akan dicekik sampai mati setelah itu, apa aku sudah tidur dan pura - pura mati saja. Semua pikiran itu menari - mati kedalam otak kecilku.
"Tak ku sangka kamu berani juga ya masuk kedalam kamar ku dan berusaha untuk melakukan sesuatu kepadaku, rupanya kau benar - benar tak takut mati ya." Suara yang terdengar ngebas dan juga dingin serta tatapan mata tajam yang ingin melucuti diriku.
"Ampuni aku tuan aku bukan siapa - siapa dan juga tidak tau apa pun, aku masuk kedalam dunia ini tanpa tau ini dimana. Dan aku juga tidak ingin mati konyol di sini, tolong lepaskan aku maka aku bersumpah tidak akan muncul lagi didepan tuan."
Aku meracauh tak karuan karena takut dan juga tak tau menahu dengan kelanjutan cerita ini, yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku bertahan hidup di sini sampai aku menemukan jalan untuk kembali lagi ke dunia asal ku.
"Tidak tau menahu? Masuk kedalam dunia ini? Apa kau pikir kau itu berasal dari alam lain?" tanya orang itu dengan tatapan tajam dan tangan dilipat depan dada.
"Benar tuan, aku memang berasal dari alam lain bukan dunia ini. Aku adalah seorang bidan di dunia ku sana."
jawabku masa bodoh yang penting aku selamat pikirku, dan tanpa melihat orang yang ada didepan ku karena aku takut menatap matanya yang tajam bagaikan elang itu.
"Keluar dan tunggu aku diluar jangan macam - macam dan jangan pergi, karena jika kau pergi dan sampai aku menemukan mu maka aku akan menghabisi mu langsung ditempat." serunya padaku dan secepat kilat aku keluar menunggu dia diluar.
Tak lama setelah aku keluar aku mendengar dia tertawa terbahak didalam kamar mandi dan itu membuat aku merinding.
"Selamat, aku tak jadi dicekik seperti di novelnya." seruku dalam hati bernafas lega.
Aku berfikir keras harus melakukan apa lagi setelah dia keluar nanti, dan aku mencari baju untuk aku kenakan lalu aku duduk lagi menunggu orang itu keluar dari dalam kamar mandi.
30 menit aku menunggu akhirnya orang itu keluar yang aku lupa siapa namanya, aku sudah berfikir sangat keras untuk mengingat apa yang aku baca namun tetap saja aku tak ingat.
"Kau mengenakan pakaian ku?" Tanyanya dengan suara yang menakutkan bagiku.
"Anu tuan maaf, di sini hanya ada baju model - model ini jadi aku terpaksa memakainya. Aku akan menggantinya nanti jika aku sudah punya uang."
Aku berusaha untuk menjelaskan dengan baik agar aku tak salah bicara dengan orang ini. Dan dia tak menyakitiku.
"Tadi kau bilang bahwa kau adalah orang lain dan bukan berasal dari sini, buktikan padaku jika sampai kau menipuku maka habis kau setelah itu." serunya padaku dan aku langsung bergetar.
Tok tok
"Tuan baju yang anda minta." seseorang masuk dengan membawah baju wanita.
"Kenakan baju itu dan ikut aku setelah itu." pintanya padaku dengan melempar baju itu padaku.
Aku dengan cepat memakai baju itu dan berdiri mematung menunggu dia memerintahkan sesuatu lagi pada ku. Setelah itu dia membawah ku sesuatu tempat yang banyak orang tiduran dengan tubuh penuh luka - luka.
"Jika kau memang seorang apa katamu tadi? Bidan ditempat asal mu, yang aku tak tau itu apa. Sekarang tunjukkan padaku apa kamu bisa sembuhkan mereka untuk ku." ucapnya padaku yang membawah aku kesebuah tempat yang terlihat luas dan banyak orang - orang yang sedang sakit.
Aku pun mendekati orang - orang yang sedang terbaring sakit, satu persatu aku lihat dan ternyata banyak dari mereka mengalami luka robek dibagian kaki, tangan, dan juga wajah mereka.
Dengan keahlian ku aku berusaha untuk mengobati mereka dengan cara menjahit semua luka mereka yang entah dari mana tiba - tiba saja setiap aku memikirkan sesuatu benda - benda itu muncul dengan sendirinya didalam sebuah kotak yang aku tak tau dari mana asalnya.
Setelah itu aku memilih untuk tetap tinggal ditempat itu mengobati orang - orang yang sakit yang selalu datang bergantian, entah mereka terluka karena apa tapi setiap hari selalu saja ada yang datang terluka.
"Putri mahkota tolong ikut saya ke rumah Baron karena istrinya mau melahirkan bisakah Putri mahkota membantunya?" tanya Sandi padaku dan tanpa berfikir panjang aku pun mengingatkan serta mengikuti Sandi ke rumah Baron. Sesampainya disana ternyata istrinya sudah pembukaan lengkap dan kepalanya juga sudah kelihatan.
Setelah bersusah paya akhirnya anak pertama Baron yang berjenis kelamin perempuan itu pun telah lahir. Semua orang jadi menyukai aku dan percaya padaku. Mereka selalu memanggilku dengan sebutan Putri mahkota ku pikir tanpa sebab namun semua itu karena aku adalah istri dari putra mahkota mereka dan orang itu adalah pria yang harusnya membunuhku.
Sebulan berlalu hingga 5 bulan pun telah berlalu aku hanya bekerja dan dengan merawat orang - orang yang sakit dan terluka. Aku bekerja dengan ditemani oleh Branjil dan Sukita dua orang yang dari awal sudah bekerja merawat para pasukan yang terluka.
"Wah Putri mahkota sungguh sangat hebat ya, luka ku sudah sembuh dan tak sakit lagi ya walau pun ada bekas lukanya tapi ini sangat sepat sembuhnya."
"Iya Putri mahkota sungguh luar biasa, dia sangat berbeda dengan rumornya."
"Benar - benar aku sangat suka dengan Putri mahkota yang sekarang dari pada yang dulu yang selalu bersembunyi dan tak mau peduli dengan kita."
Semua prajurit yang terluka dan sembuh itu pun mereka saling mengobrol dan lagi ngomongin aku kemana - mana.
"Putri mahkota tolong." teriak tuan Baron yang membawah seorang anak kecil sekitar umur 5 tahun yang sedang terluka karena terkena benda tajam
Aku menangani anak itu dengan prosedur dan aku tak tau kalau tindakanku itu diawasi dengan ketat oleh Alata yang sengaja memasang mata - mata tersembunyi yang aku tak tau, dan berkumpul dengan para prajurit yang sedang sakit. Karena sampai saat ini ternyata dia masih mencurigai aku.
Suatu ketika ada pertarungan hebat antara 2 pasukan yang termasuk dari golongan pasukan Alata, aku yang berusaha untuk menyelamatkan Alata dan yang lainnya tanpa sengaja memasuki sebuah ruang yang begitu asing dan juga aneh bagiku, didalam ruang itu aku menemukan sebuah catatan yang sepertinya ditulis dari abad di duniaku berasal. Didalam buku itu ada cara bagaimana caranya kembali dan keluar dari dunia yang saat ini aku tempati.
Selama 3 hari pertarungan atau bisa disebut sebuah peperangan itu banyak memakan korban, bagi mereka ya g bisa ku rawat dan ku tangisi aku berusaha keras untuk menolong mereka semua.
"Bagaiman dengan diriku di sana ya? Apakah mereka menganggap aku sudah mati atau aku hilang." gumamku saat aku sedang duduk sendiri menatap langit malam itu.
"Apakah kau merindukan dunia asal mu? Jika kamu bisa kembali apakah kamu memilih kembali kesana?" tanya Alata padaku yang akhir - akhir ini dia terlihat lembut padaku.
"Tuan, ya saya sangat merindukan dunia asal ku. Tapi aku berfikir lagi apakah aku yang di sana baik - baik saja atau aku yang di sana sudah mati, aku tak tau. Kadang ada rasa takut saat aku memikirkan itu semua" jawab ku yang terus saja menghela nafas dalam.
"Apakah kamu benar tak mau berada di sini bersama dengan ku?" tanyanya lagi padaku yang terdengar sedikit aneh bagi ku.
"Apa karena dulu aku sangat kejam dan sering menyiksamu jadi sekarang kamu tak mau menemani ku? Tapi kamu harus ingat satu hal Youri bahwa kamu adalah putri mahkota dan juga istriku." ucapnya lagi yang membuat aku semakin bingung
"Hahaha, iya tapi aku sekarang bukanlah Youri istri tuan, aku adalah Riri orang yang tanpa sengaja masuk kedalam tubuh istri anda." jawabku dengan tersenyum karena aku merasa aneh pada Alata putra mahkota yang terkenal kejam dan juga tegas itu.
Pluk
Alata meletakkan kepalanya pada bahuku sontak itu membuat aku kaget dan jantungku secara sepontan pun jadi berdetak semakin kencang seolah aku sedang lari maraton, bagaimana tidak coba. Seorang putra mahkota yang tampan rupawan dan juga gagah perkasa begitu dekat denganku.
Sebenarnya Alata adalah pria tipeku namun aku takut untuk mengakui semua yang ada dalam hatiku, dan sekilas kadang aku melihat bayangan dan juga perasaan Youri kepada Alata suaminya ini, yang ternyata dia sangat menyukai Alata namun Alata sangat membencinya bahkan membunuhnya dengan sangat kejam.
"Aku sangat menyukaimu namun bukan Youri melainkan dirimu yang ada didalam tubuhnya yaitu Riri." ucapnya dan itu membuatku semakin tak karuan.
"Tetaplah di sini Riri, walau bagaimana pun tubuhmu adalah istriku dan kamu adalah milikku dan hak ku." sambungnya menatapku dengan dalam, dan aku tak bisa mengartikan arti dari tatapan itu.
"Tetaplah di sini istriku." ucap Alata dan menyentuh bibirku dan menc*umnya dengan sangat lembut.
"Aku rela mati demi dirimu, aku benar - benar sangat mencintaimu Riri. Kamu adalah cinta mati ku, setelah dari sini dan saat kita kembali ke ibu kota aku akan menikahi mu lagi secara resmi sebagai Kurnia Isabela, jadi ku mohon jangan pergi dan jangan tinggalkan aku." ucapnya pada ku yang terlihat sangat serius serta tulus.
Semua pernyataan dan permohonannya membuat aku jadi bimbang, saat aku memutuskan untuk membulatkan hati dengan tetap pergi ada perasaan sakit yang aku rasa itu adalah perasaan Youri yang mencintai Alata.
"Aku harus bagaimana ini? Apa yang harus aku pilih." aku benar - benar sangat tersiksa dengan semua pemikiran yang ada pada diriku, karena sepertinya aku terhubung dengan perasaan Youri yang selama ini dia rasakan.
Setelah sebulan lamanya dan peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Alata, kami pun kembali ke ibu kota dengan segala kehormatan dan kemenangan yang sangat luar biasa. Sorak Sorai semua rakyat yang menyambut kemenangan kami sangat meriah. Dan anehnya rumor tentang aku yang banyak berjasa dengan membantu menyembuhkan luka - luka para prajurit sehingga bisa memenangkan perang yang datang mendadak dan juga menolong kelahiran anak pertama Baron tersebar di ibu kota.
Semua rakyat meneriakkan namaku dan juga nama Alata, dan aku baru tau ternyata aku adalah korban dari keserakahan keluargaku yang lebih tepatnya keluarga Youri yang menjebak putra mahkota agar menikahi ku, pantas saja putra mahkota sangat membenciku dan membunuhku dengan sangat kejam dalam novel yang ku baca.
"Sekarang bagaimana ya? Apakah ceritanya jadi berbeda dan berubah? Karena aku tak jadi dibunuh bahkan kembali dengan membawah nama baik bagi keluarga." aku bergumam dalam hati.
Selama aku tunggal didalam istana dan diperlakukan dengan baik serta lembut oleh Alata membuat aku jadi tak rela meninggalkan Alata dan juga menginginkan cinta Alata yang besar kepadaku, karena Alata menyatakan cintanya pada ku Riri bukan Youri.
Setelah melalui pemikiran yang dalam aku pun memilih tinggal dan menjalani hidup bersama dengan Alata. Dan sesuai janji yang diucapkannya Alata menggelar pesta pernikahan dengan ku sebagai Kurnia Isabela yang datang dari negeri luar, dan aku pun menjalani hidup bersama dengan Alata dalam kebahagiaan.