Huuuh…haah…huuh..haah…
Terdengar bunyi napas yang tersengal-sengal dari Mentari, Lia, dan teh Mita. Mereka bertiga barusan saja sampai di rumah nenek Meci, setelah lari terengah-engah melarikan diri, demi menghindar dari kejaran kang Rino sang idola desa. Yah…emang kang Rino itu idola desa ini, desa dimana nenek Meci, neneknya Mentari tinggal. Tampangnya seperti artis dan foto model Ronny Setiawan, selain itu dia merupakan anak dari pemilik 2 pemandian Cipanas, di ujung jalan desa. Pemandian Cipanas di kawasan ini, selalu ramai di pagi dan sore hari.
“Haduh teh Mita…untung saja tadi kita sudah selesai beli baksonya’’ ucap Mentari masih dengan nafas tersengal-sengal.
“Mani dibuburu atuh ieu. Padahal tadi mah, teteh juga makannya masih sisa setengah porsi. Tapi dipercepat makannya” tukas teh Mita dengan sedikit logat Sundanya.
“Tadi enak banget baksonya ya, teh. Kapan-kapan lagi kita makan di sana. Abdi mah, mani reusep ka bakso. Kalo Lia suka bakso juga kan?” tanya Mentari pada Lia sepupunya.
Mentari dan Lia sepupuan dekat dari pihak ayahnya Mentari. Neneknya mereka adalah Nenek Meci, ibu dari ayahnya Mentari dan ayahnya Lia. Sedangkan teh Mita adalah sepupu mereka dari satu nenek buyut (ibu dari nenek Meci).
“Aku mah, suka apa aja teh Tari” balas Lia masih dengan mulut mendesah kepedesan. “Tapi yang penting pedas” tambahnya lagi.
“Tapi cowok yang mau ngajak kenalan tadi, lumayan cakep juga ya. Tampangnya itu seperti artis sinetron” ucap Lia.
“Teteh takut, Lia. Nggak mau kenalan dengan orang yang belum dikenal. Jadi mendingan kita kabur aja tadi. Lagian nanti besok kita sudah balik ke Tangerang dijemput ayahku” ucap Mentari sambil mengingatkan Lia.
Mereka berdua (Mentari dan Lia) telah menghabiskan waktu liburan sekolah selama 1 bulan ini, untuk mengikuti pesantren kilat di Cibeurem. Kedua orang tua mereka menginginkan agar anak-anak mereka lebih lancar dan tartil dalam membaca Al Quran. Dan 1 bulan telah berlalu, akhirnya besok mereka berdua akan kembali ke rumah masing-masing.
“Teteh sebenarnya kenal sama kang Rino, dia itu anaknya 2 pemandian Cipanas yang di ujung jalan desa loh…tapi kita kalo mandi ke sana nggak pernah ketemu” ucap teh Mita menjelaskan pada kedua sepupunya.
Setelah beberapa menit mereka duduk di teras rumah nenek Meci, tiba-tiba kang Rino muncul di seberang jalan. Namun dia tak berani untuk mendekat ke arah rumah nenek Meci. Dia mungkin enggan, karena nenek Meci cukup disegani di desa itu. Almarhum suami nenek Meci, adalah salah seorang petinggi desa yang sangat di hormati oleh penduduk desa.
Setelah 15 menit berlalu, kang Rino pun beranjak pergi dari tempat itu. Akhirnya Mentari dapat bernafas dengan lega, setelah berlari-lari seperti dikejar harimau hutan.