Di kamarnya, Gori hanya duduk merenung di atas kursi rodanya. Meratapi nasibnya sebagai seorang pesepakbola profesional sudah musnah akibat kecelakaan yang menghilangkan kedua kakinya. Kini, ia sudah tak punya mimpi apalagi alasan untuk dirinya hidup. Ia tidak mau menghadapi kenyataan bahwa sepanjang hidupnya ia akan menjadi orang cacat.
" Harusnya aku mati saja.. ! " teriak Gori yang kemudian membuka pintu kamarnya, membawa kursi rodanya melaju meninggalkan rumahnya. Beruntung ada Gira, adik perempuannya yang baru saja tiba di rumah dan akhirnya menghadang Gori yang ingin pergi.
" Abang mau kemana ? " tanya Gira dengan wajah polos. Ia merasa heran karena abangnya yang tiga hari mengurung diri di kamar, tiba tiba saja keluar.
" Menyingkir kamu ! Jangan menghalangi aku yang mau pergi ! " teriak Gori dengan wajah penuh kemarahan.
" Iya, iya. Tapi, Abang mau kemana ? " tanya Gira sekali lagi, masih dengan wajah keheranan dan dahi yang mengkerut.
" Kamu masih nanya lagi ? " Mata Gori melotot, menatap Gira dengan penuh amarah yang membara. " Kamu nggak lihat kondisi Abang yang udah nggak punya kaki ini ? Jadi buat apa Abang hidup lagi ? Abang nggak mau jadi orang cacat seumur hidup ! Mending mati daripada begitu. "
Gira terkejut mendengar perkataan Gori itu. Ia memang sudah diberitahu oleh dokter bahwa abangnya akan seperti itu. Sulit menerima keadaan. Tapi, jelas keinginan untuk bunuh diri atau mati, adalah hal yang sulit diterima akal sehatnya karena bila abangnya sudah mengatakan demikian berarti kondisi mentalnya telah jatuh teramat dalam. Sangat sukar untuk menolong apalagi memperbaiki mentalnya saat ini.
" Bang.. tunggu dulu ! " Gira menahan Gori, namun abangnya itu malah melajukan kursi rodanya dan meninggalkan Gira. Beruntung, kursi roda itu melaju tak terlalu kencang sehingga Gira masih bisa mengejarnya dan menangkap gagang pendorong kursi roda itu.
" Tunggu dulu, Bang ! " seru Gira kepada Gori yang seketika berteriak, " Kamu mau apa ?! Masih belum puas melihat abangnya menderita seperti ini ? Kalau kamu sayang sama abang, lepasin abang buat pergi. Abang udah nggak sanggup. "
Gira pun melepaskan gagang itu, namun segera bergerak ke depan, berlutut di hadapan Gori yang memandanginya. " Bang, kalau abang mau mati, itu justru nggak ada gunanya juga, Bang. Apa dengan abang mati, kaki abang bisa ada lagi di sana ? Kan enggak, Bang. Tetap aja seperti itu. "
Gori syok mendengarnya, terdiam karena merasa tertampar dengan kata kata adiknya tersebut. " Kalau abang mau bersabar, tetap menjalani hidup yang diberikan Tuhan, percayalah kalau hal baik bakal datang kepada abang. Entah dalam bentuk apapun itu, tapi Gira yakin kalau itu akan datang. Karena orang yang tidak menghargai kehidupan, maka kehidupan juga takkan menghargainya. Orang orang takkan menghargainya. Apa abang mau seperti itu ? "
Melihat tatapan mata Gira, Gori pun merasa amat malu. Ia pun menundukkan kepalanya, mulai menitikkan air mata. " Kamu benar. Abang yang salah. Maafkan abang, ya. "
~~~