Namaku Rayhan Alfariz, seorang anak dari keluarga sederhana yang ingin mencari kesuksesan di luar kota. Walaupun pada awalnya kedua orang tuaku tidak mengizinkan tujuan ku yang ingin pergi merantau, tapi karena bujukan dan tekad kuat ku ini sehingga mereka luluh dan mau melepaskan ku pergi untuk mencari uang. Ini ku lakukan karena ingin membahagiakan mereka, yaitu kedua orang tua ku yang sangat amat ku sayangi.
Finally demi untuk membeli tiket pesawat, aku harus rela memecahkan barang yang kemarin-kemarin sudah ku rawat dan ku jaga baik-baik. Ia tak lain adalah celengan ayam ku, nama nya Rolo. Jika tidak ada dia maka uang ku sudah habis di gunakan untuk membeli hal-hal yang tak penting, siapa lagi jika bukan aku sendiri yang memakai uang tersebut. Tapi setidaknya aku tidak menghabiskan uang orang tuaku apalagi uang milik orang lain. Amit-amit...
Sebenarnya berat hati untuk meninggalkan kedua orang tua ku. Akan tetapi harus bagaimana lagi, kesempatan tidak datang dua kali. Yah, aku lupa memberitahukan bahwa aku mendapatkan tawaran bekerja sebagai Asisten dari asistennya seorang aktor tampan dan tajir. Entahlah aku akan bekerja di posisi mananya dan bagaimana yang pasti aku mendapatkan tawaran pekerjaan. Semoga saja aku tidak di bohongin mereka. Jika itu sampai terjadi maka aku tidak segan untuk menonjok mereka yang membohongi ku.
Hari yang ku nanti telah tiba. Pagi yang cerah dengan cuaca yang bersahabat.
"Pagi ayah, ibuu!!" Sapaku pada kedua orang tuaku yang sudah duduk rapih menanti di meja makan.
Ayah dan ibu tersenyum senang seperti hari-hari sebelumnya, namun bedanya hari ini mereka tidak berenergi seperti biasanya. Patut saja mereka seperti itu, bagaimana tidak melihat anak kesayangan akan pergi meninggalkan mereka keluar kota dalam jangka waktu yang lumayan lama.
"Ayah,ibuuu? ayolah jangan bersedih seperti itu, aku—jadi tidak tega untuk meninggalkan kalian."
"Nak, ayah mengizinkan dan mendoakan yang terbaik agar kamu sukses di sana. Namun—ibu mu ini selalu mengeluh." Ayah mencibir sembari menyeruput teh dan melirik ibu yang masih tertunduk.
"Ibuu... ayolah aku ini kan sudah besar, jadi aku bisa jaga diri baik-baik di sana." Aku merangkul pundak ibu sembari menempelkan pipiku di pipinya.
"Ibu tau nak. Tapi namanya seorang ibu mau bagaimana pun tetap saja khawatir kalau anaknya ingin pergi jauh dari ibunya." Ibu memegang tanganku erat.
"Baiklah, baiklah... izinkan aku pergi ya Buu, jangan lupa doakan aku juga" Ku melingkarkan tangan ku di pundak ibu, memeluknya.
"Iya nak..ibu dan ayah akan selalu mendoakan mu. Jaga diri baik-baik ya?!" Aku mengangguk sambil mempererat pelukanku.
Taxi sudah menjemput di depan rumah ku yang sederhana namun masih kokoh. Ku kembali berpamitan dan bersalaman dengan kedua orang tuaku. Lalu meraih ransel ke pundak ku dan berjalan memasuki mobil taxi. Saat mobil mulai melaju rasanya hatiku seperti tak bisa meninggalkan mereka berdua. Sudahlah aku harus tegar demi kesuksesanku.
***
Akhirnya sudah tiba di Bandara, walaupun di perjalanan yang cukup jauh itu aku sempat tertidur. Jujur ini kali pertama aku berkunjung ke Bandara yang megah ini, tidak! aku kesini bukan untuk berkunjung namun untuk pergi menaiki pesawat terbang yang besar itu. Aku sangat terkagum-kagum melihat suasana di sini yang ramai sekali orang berlalu lalang.
Saat ingin membeli tiket pesawat tujuan penerbangan ku tiba-tiba seseorang berpakaian serba hitam dan rapih menarik lengan ku dan membawaku entah kemana. Heran pastinya, siapa dia? mengapa dia membawaku seperti ini. Apakah dia sudah salah menarik lengan orang. Lalu ku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya,
"Maaf tuan! Anda siapa?? mengapa saya di seret seperti ini??" Ucapku bawel.
"Namamu Rayhan Alfariz kan?" Bukannya menjawab pertanyaan ku ia malah bertanya balik.
"Ya benar—tapi bisa saya minta permohonan untuk melepaskan lengan saya??" Sedetik kemudian orang asing itu melepaskan lengan ku dan berhenti melangkah.
"Bukannya kau ingin bekerja sebagai asisten dari asistennya seorang aktor, lalu apa yang kau pikirkan lagi. Ayo ikut bersama ku dan mulai bekerja!" Tegasnya membuat ku sedikit terdiam menatap ia penuh intimidasi.
"Baiklah!! kau tidak berbohong kepada ku kan?? kau tidak akan menculik ku??" Sekali lagi ku bertanya hanya untuk memastikannya saja.
"Untuk apa aku berbohong, lagi pula siapa orang yang mau menculik orang konyol seperti mu ini." Ucapnya yang bisa ku lihat ia seperti menyeringai meledek sambil berbalik badan dan berjalan. Terserah aku tidak peduli, aku mulai menyamai langkah berjalannya sampai akhirnya tiba di luar Bandara dan mulai menaiki satu persatu anak tangga pesawat megah nan canggih.
Sepertinya ini pesawat VIP khusus untuk orang-orang tertentu saja. Mulutku tak henti-hentinya ternganga melihat barang dan benda canggih di sekeliling ku hingga pundak ku tersentak saat seseorang menyebutkan nama ku dari arah belakang.
"Kau memanggilku??" Ucapku sambil berbalik badan.
"Yahh! aku adalah orang yang mengirim pesan lowongan pekerjaan untuk mu." Ucapnya. "Perkenalkan nama saya Birmo, asisten tuan William Henry—aktor yang sedang naik daun di kota B." Lanjut pria gagah berkemeja hitam ramah kepadaku.
"Ouhhh jadi kau orangnya..." Aku tak tau ingin berkata apa lagi, jadi aku hanya manggut-manggut saja. "Lalu dimana William Henry?? Aku mulai bekerjanya kapan??" Tanyaku.
"Tuan William ada di kota B, tapi kau akan pergi ke sana bersama pesawat milik kekasihnya yang bernama Tania Einstein. Ia adalah selebritis cantik di kota mu ini." Tuturnya sambil tersenyum ramah, lalu ia mempersilakan aku berjalan menuju kursi duduk yang kebetulan aku duduk bersebelahan dengan Birmo, asisten William Henry.
"Aku tidak tahu Tania Einstein, jangan kan tau orangnya namanya saja asing bagi telinga ku." Kataku sambil menyenderkan punggung ke kursi mencari kenyamanan.
"Dasar konyol! Selebritis cantik dan terkenal di kota mu saja kamu tidak tahu." Birmo tertawa kecil menatap ku geli lalu ku tatap ia dengan tatapan datar. Apanya yang lucu, aku berkata apa adanya bahwa aku tidak mengenali Tania Einstein. Aku tebak pasti dia wanita yang sombong, secara kan ia adalah seorang selebritis. Aku berharap perjalanan ini lancar sampai tujuan.
"Sudahlah, kau istirahat saja. Aku juga akan istirahat karena disini bukan tugasku untuk bekerja." Birmo menilai kedua lengannya di dada dan mulai memejamkan matanya. Tapi aku menoleh ke luar kaca kecil ini melihat daratan yang sudah semakin menghilang dari pandanganku. Entahlah mengapa rasanya mata ku ini ingin beristirahat lagi, dan detik berikutnya aku tak sadarkan diri pergi ke dunia mimpi.
***
Mendadak aku sulit sekali bernapas, seakan semuanya hening tak terdengar apa-apa. Dingin, yang kurasakan kulitku saat ini hanya kedinginan yang sangat amat. Sepertinya aku terjatuh perlahan kebawah. Apakah ini masih di dalam mimpi. Tapi mengapa rasanya seperti nyata dan kini ku hampiri saja kehilangan napas ku jika aku tidak cepat membuka mata.
APAAA!!!
Aku terkejut bukan main saat melihat aku yang berada di dalam air. Bukannya aku tadi sedang tertidur di kursi pesawat, mengapa aku bisa tenggelam di sini. Untungnya aku jago berenang jadi sebelum ku kehilangan nyawa ku karena kehabisan oksigen, aku segera berenang ke permukaan air agar bisa kembali menghirup udara.
Akhirnya paru-paru ku kembali terisi oksigen, jika tidak maka aku akan mati karena meminum air laut terlalu banyak. Eh tapi sepertinya aku mendengar suara teriakan minta tolong di daerah sekitaran puing-puing pesawat di sekitar ku. Dengan cepat ku kembali berenang menelusuri suara di sekitar ku.
Sungguh tak dapat di percaya, aku tidak melihat siapa pun lagi selain mendengar teriakan gadis itu. Apakah semuanya sudah ada di dasar laut sana. Tak peduli, yang terpenting saat ini aku masih dalam keadaan hidup dengan kondisi kulit yang sudah agak keriput. Ayolah, disaat genting seperti ini aku masih bisa-bisanya tertawa.
Suara itu kini kian menghilang. Aku kira ia juga sudah mendarat di permukaan laut, namun tak jauh dari pandanganku ada tangan putih nan lentik mengipas-ngipas air. Itu tandanya wanita itu hampir saja tenggelam. Aku kali ini ingin menjadi seorang pahlawan dengan cara menyelamatkannya. Siapa tahu aku bisa terkenal nantinya karena keberanian ku.
"Hei!! apakah kamu baik-baik saja???" Tanya ku risau karena wajahnya sudah pucat sekali. Aku harus bagaimana, jika dia mati maka aku tidak bisa menjadi terkenal dan wajahku tidak akan masuk di siaran televisi. Karena aku pria cerdas maka aku raih puing pesawat yang berukuran besar dan meletakkan gadis cantik ini di atasnya.
"Ayolah! aku mohon kau jangan mati...'' Ucapku sembari berenang menuju pulau kecil tak jauh dari posisi ku saat ini. Dan sesampainya di sana aku segera menangani gadis cantik ini. Aku tekan-tekan dadanya seperti yang ada di sinetron. Mungkin saja dengan begini dia bisa siuman. Nihil, hasilnya dia masih tetap menutup matanya.
Saat ku ingin mencoba cara kedua, memberikan napas buatan gadis ini malah menyemburkan air ke wajahku. Sial dasar!!
"HEYYY!! APA YANG KAU LAKUKAN!! KAU INGIN MACAM MACAM DENGAN KU HAH???!!!!"
Di siang bolong seperti ini dengan terik matahari yang sangat menyengat, teriakan nya sudah seperti sambar petir gledek. Sangat menggelegar di telinga ku. Dia ini sudah mirip dengan toa musholla di samping rumahku.
"Bukannya terimakasih sudah ku selamatkan!" Cibirku bangkit dan meninggalkan dia di tepi pantai.
"Aku ingin pulang!!!! Kenapa nasibku sial seperti ini sihhh!! terdampar di pulau terpencil bersama lelaki sialan ituuu!!!" Gadis itu terus saja mengumpat ku. Tidak terima akhirnya aku menghampirinya lagi.
"Hey!! kau ini konyol sekali ya! aku ini pahlawan baik hati yang telah menyelamatkan nyawa mu!" Jari telunjuk ku mengarah ke arahnya.
"Aku ini Tania Einstein, Selebritis cantik kekasihnya William Henry!!" Ucapnya mengagungkan dirinya.
"Kau memang cantik tapi bagiku kau biasa saja..." Ku berpaling meninggalnya. Berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa ku makan.
"Hey bodoh!! aku tidak akan pernah mau meminta bantuan mu!! lagipula William pasti akan mencari dan menemukan ku di sini!!" Aku tak pedulikan teriakan Tania. Yang ku pedulikan saat ini hanya perutku yang sedari tadi terus berdemo.
Sudah lama berjalan ke dalam hutan, aku menemukan pohon mangga namun hanya terdapat dua buah mangga saja. Tak apalah, yang penting perutku kenyang. Namun siapa sangka saat dua buah mangga berada di tangan ku, aku malah memikirkan nasib gadis cerewet itu. Dia juga pasti kelaparan. Bagaimana jika ia pingsan, itu sangat merepotkan ku nantinya.
Ku mendengus pasrah, mau tidak mau aku harus memberi satu mangga kepadanya. Aku bukan pria egois. Aku ini pria baik hati kesayangan kedua orang tuaku. Terserah gadis itu mau memakannya atau tidak yang pasti aku sudah berbaik hati.
"Nih, kamu pasti lapar." Ku menjulurkan buah mangga di samping wajahnya.
"Aku tidak suka makan-makanan yang tidak higienis seperti itu!"
"Hey! jika tidak mau makan mangga ini lalu kau ingin makan apa??! pizza?? hamburger?? di sini hutan mana ada makanan seperti itu." Sungguh aku sangat geram padanya. Tinggal makan saja masih rewel.
"Aku tidak lapar!!" Ketusnya memalingkan wajah lalu beranjak dari duduknya pergi mencari tempat teduh. Dasar gadis tidak tau terimakasih! Terserah nya saja mau makan atau tidak.
Selang beberapa menit aku hanya terdiam sembari memainkan ranting-ranting kayu di atas hamparan pasir putih ini. Aku sangat bosan. Bagaimana caranya agar aku bisa pulang? apakah aku harus membuat tanda SOS menggunakan ranting ini. Baiklah akan ku coba untuk membuat tanda SOS.
Saat ku mulai merangkai ranting pohon ini Tania hanya terdiam melihat ku dari kejauhan. Lalu tanpa ku tahu dan tidak percaya gadis cerewet itu menghampiri ku sembari membawa ranting pohon.
"Nih! Aku harap secepatnya ada yang menemukan kita di sini. Aku tidak mau berlama-lama bersama mu." Tania masih saja bersikap ketus seperti awal ia membuka matanya.
"Apa kau tidak lapar?? buah mangga yang tadi masih ada belum ku makan." Tawaran ku.
"Aku tidak mau, lagi pula aku tidak lapar—" Belum selesai berbicara suara perut gadis cantik itu berbunyi yang membuatku tertawa terbahak-bahak.
"Kau bilang belum lapar, tapi perutmu berkata lain—hahaha!!"
Tania hanya bisa ber-sidekap malu tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Baiklah bagaimana jika aku mencari ikan untuk mu." Aku bangkit dari jongkok untuk mencari kayu yang bisa ku buat tombak. Setidaknya ada kayu tajam yang bisa digunakan untuk menombak ikan.
Berapa jam kemudian sampai kulitku hitam, akhirnya aku mendapatkan satu ikan berukuran sedang. Dan untuk kedua kalinya aku di buat terkagum saat melihat Tania sudah membuat kayu bakar untuk membakar ikan.
"Wahh! ternyata kau ahli juga membuat api unggun.." Seraya berkata aku menusukkan kayu ke mulut Ikan dan menaruhnya di atas api.
"Diamlah!! Aku ini gadis pintar jadi apapun aku pasti bisa "
"Aku kira kau gadis cerewet, manja, dan sombong." Perkataan ku membuatnya menoleh ke arah ku.
"Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan! Ayo cepat aku lapar dan aku tidak peduli ini higienis atau tidak."
Sambil menunggu ikan nya matang, aku dan Tania perlahan saling bertukar cerita. Dan akhirnya aku tahu bahwa Tania tidak seperti apa yang aku pikirkan. Dia gadis baik dan lemah lembut. Mungkin karena awal pertama tadi aku ingin membuat napas buatan untuknya, itu sebabnya dia memarahi ku.
Sore telah datang, aku dan Tania bersampingan menyaksikan matahari terbenam. Sungguh sangat indah sekali. Tania menoleh ke arah ku lalu tersenyum senang.
"Terimakasih ya sudah menemaniku di pulau ini. Maaf aku sudah berprasangka buruk terhadap mu."
Ucap Tania. Aku kembali menjawab senyumnya.
Tiga hari telah berlalu, hubungan ku dengan Tania semakin akrab. Kita bermodalkan pengetahuan untuk bertahan hidup di pulau ini. Namun pada akhirnya aku mengungkapkan perasaan aku kepada Tania. Awalnya ia menolak perasaan ku tapi perlahan ia mengungkapkan perasaannya juga padaku.
Akhirnya kita hanya hidup bahagia berdua di pulau terpencil ini. Kami harap tidak ada orang yang menemukan kita di pulau ini. Biar saja tidak ada yang menemukan kita disini.
#TerdamparDiPulauTerpencilBersamaSelebritisCantikSetelahKecelakanPesawat