Jujur saja,sewaktu menulis novel pertama kalinya,saya kepengen banget menjadi penulis yang famous bak novelis-novelis lainnya.
Namun,faktanya itu sulit.Sangat sulit.Lagipula setelah saya pikirkan kata"Terkenal"tidak semudah yang kita bayangkan.Walaupun satu kata saja itu,kita perlu punya banyak usaha dan cara agar menjadi novelis terfamous itu.
Bayangkan aja,udah punya imajinasi buat bikin ceritanya.Hanya saja butuh waktu buat para readers
membaca novel yang saya buat.
Jadi, yang saya harapkan mohon bantuan sesama para Author bak novelis-novelis ternama.Untuk mendukung Akun S'MTOON New novelis yang berjudul(。ŏ﹏ŏ)(༎ຶ ෴ ༎ຶ)
Maksud dari saya begini,sudut pandang saya mengenai author novel,mereka terbilang terkenal mungkin hanya mendapatkan Readers terbanyak atau bahkan dari viewers nya.
tapi menurut saya itu bukanlah dikatakan terkenal saja.melainkan para readers yang ingin membacanya saja atau ada suatu sudut pandang lain, sehingga dikatakan para famous novelis.
Judul: Pribadi Baik 1%
Namanya manusia, selalu saja ada rasa iri ketika melihat seseorang sudah maju terlebih dulu.
“Kenapa dia bisa lebih hebat dari aku, padahal proses belajarnya sama saja.”
Dialah Echa,siswa berprestasi yang tampak biasa-biasa saja di kelas, tapi selalu moncer ketika ujian.
Rasanya aku hampir menyerah karena tak mampu menyaingi apa yang dilakukan oleh Echa
Usahaku untuk mencapai peringkat 5 besar sangat sulit.
Sementara Echa di kelas dia tidak terlihat belajar keras, bahkan terkadang saat waktu pulang sekolah dia langsung bermain bola bersama teman-teman yang lain.
Sementara aku, langsung belajar kembali, hingga membuat kepalaku berat dan pening.
Waktu terus berjalan dan prestasiku seperti jalan di tempat.
Satu hari aku menjadi teman sekelompok dengan Echa.
Aku dan Echa memang kurang dekat, sehingga perbincangan aku dengannya hanya basa basi belaka.
Namun rasa penasaranku mendorong untuk bertanya pada Echa, mengenai bagaimana cara ia belajar, sehingga bisa berprestasi di sekolath.
“Kamu di kelas biasa-biasa saja, tapi kenapa setiap ujian selalu mendapat nilai sempurna?”
Echa senyum tipis mendengar kalimat tersebut.
“Tak semua yang kamu lihat di permukaan adalah kenyataan 100 persen. Ada hal-hal lain yang tak kamu lihat,” ujar Echa
“Aku tidak seperti kebanyakan orang yang belajar banyak hal terus menerus, aku tidak cocok dengan itu.”
“Lalu, bagaimana kamu belajar?” tanyaku makin penasaran.
“Aku belajar selepas subuh, setengah jam setiap hari.”
“Proses belajar itu aku lakukan konsisten sejak aku kecil, tak pernah terlewat, tapi berdampak besar bagiku.”
“Walau sedikit, aku tetap tumbuh setiap harinya. Dibanding belajar banyak di satu hari, tapi di hari lain, tidak belajar,” jelasnya.
Dari pembicaraan itu aku baru mengerti, tak ada perubahan besar yang dihasilkan dari proses yang sebentar.
Rata-rata orang sukses pun memerlukan waktu yang lama untuk menguasai satu bidang…
Sehingga aku paham dan memutuskan untuk membentuk diri lewat hal-hal kecil terlebih dulu.
Ya, tumbuh satu persen setiap hari lebih baik, daripada tidak sama sekali.