"Tante," panggil Ririn pada ku, dengan suara centilnya. Ririn adalah ponakan aku yang masih berumur empat tahun.
"Tan, kata Bunda boneka Lin bisa bicala kalo jam dua belas malam. Tante mau liat nggak?" celoteh Ririn dengan suara cedalnya yang susah membedakan antara huruf R dan L.
"Mana coba Tanten mau liat," ucapku dengan antusias, supaya ponakanku senang.
"Nanti Tante.... kalo udah jam dua belas, kata Bunda gitu. Iya kan Bun?" Ririn minta dukungan emaknya, untuk meyakinkan aku. Yah, Bunda Ririn adalah kakaku.
"Ririn tau nggak kalo boneka bisa bicara itu berarti di dalam bonekanya ada HANTU'nya," ledekku dengan menekankan kata hantu. Yah jiwa keisenganku merasa terpanggil untuk mengerjai ponakanku itu.
"Engga Tante. Boneka Lin nggak ada hantunya. Iya kan Bun?" Lagi Ririn kembali meminta dukungan Mboknya.
"Hemz..." Kakaku hanya menjawab dengan deheman. Enggan menanggapi aku, yang memang hobby membuat ponakanku menangis.
"Tuh kan kata Bunda hemz... belati bonekanya nggak ada hantunya, Tante." Ririn kembali menyangkal bahwa boneka dia berhantu.
"Ok aku pun nggak boleh kalah, harus berusaha meledek bocah kecil nan cantik ini sampai mengibarkan bendera putih. Alias mewek, dan nanti emaknya yang maju, dan terjadilah perang sodara....hahahah....." batinku, sembari tersenyul jahil membayangkan rumah yang akan ramai dengan kehebohan kita.
"Bunda kamu itu bohong. Padahal itu bonekannya yang bicara hantuuuuuu," ucapku sembari setengah berbisik dan menakutinya dengan gerakan tangan menyerupai hantu gentayangan...
Benar sajah Ririn langsung melemparkan bonekanya kesembarang arah, dan langsung berteriak lari ke arah kakaku.
Dan....
Bukkkk....
Bukkk.....
Sebuah pukulan dari bantal sova, kakaku layangkan ke punggungku. "Kebiasaan kalo liat anak gue diam itu nggak bisa banget yah, coba satu jam ajah akur, ngalah gitu sama anak kecil," oceh kakaku sembari mencoba memukul aku lagi, tapi....
Eitz....
Aku berhasil mengelak dan berlari ke kamarku...
Tapi sebelumnya nggak seru dong, kalo nggak lanjut part dua...
"Ririn di dalam bonekanya hantunya rambutnya panjang, mukanya serem banget." Jurus kedua aku gunakan, dan....
"Bunda........... Lin takut." Ponakanku kembali bernyanyi dengan merdu....
"Tamara...... kita gelut ajah deh, punya adek satu tapi nyebelinya nggak ada obat." Kakaku pun mengeluarkan jurus terakhirnya. Berpidato dari A sampe Z, dan saat itu juga pintu kamar aku kunci dan aku menyalakan musik....
Hayoh siapa yang suka isengin ponakan kalian....??
(Ini cuma gambaran, dalam realnya Author nggak pernah iseng yah, apa lagi sampe bikin nangis. Nggak pernah!!!!) 😁