"Kau cantik sekali, Irene..." Puji Kevin ketika melihat istrinya yang anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, bertabur mutiara.
Irene tersenyum bahagia. Hari ini dia telah resmi menjadi istri seorang pemuda, seorang manusia normal.
Semua tamu yang hadir pada resepsi pernikahan Irene dan Kevin terkagum-kagum melihat pasangan yang sangat serasi itu. Beberapa wanita terlihat berbisik-bisik.
"Kau lihat? Itu rambut asli atau bukan ya?" Seorang wanita bertanya dengan suara pelan pada temannya.
"Ummm... Aku tidak yakin. Tapi dia terlihat cantik dengan rambutnya yang unik itu." Sahut teman si wanita.
Kedua wanita itu terus saja bergossip sambil menikmati hidangan yang disajikan pada pesta pernikahan yang mewah itu.
Menjelang sore hari, pesta pernikahan itu selesai juga. Kevin membawa Irene ke rumahnya. Pria itu menggenggam tangan Irene dengan hangat. Irene mengikuti langkah Kevin dengan penuh semangat.
"Home sweet home..." Ucap Irene.
"Kau menyukainya?" Tanya Kevin.
"Ya, aku sangat suka." Jawab Irene.
"Hahaha... Ini rumahmu. Sekarang kau adalah nyonya di rumah ini." Kata Kevin.
"Hemmm... Really?" Tanya Irene.
Kevin mengangguk mantap. Dia lalu mengajak Irene naik ke lantai dua. Mereka mulai menaiki tangga melingkar di tengah ruangan. Beberapa guci antik ditata dengan rapi di sudut anak tangga teratas. Guci tersebut berukuran cukup besar. Sepertinya guci itu berasal dari Cina, dilihat dari lukisan yang terukir indah di badan guci tersebut.
"Kamu sering ke Cina ya?" Tanya Irene.
"Hemmm... Tidak juga. Aku hanya berkunjung ke Cina jika ada pertemuan khusus dari kantor." Jelas Kevin.
"Ohh... Tapi ada banyak sekali barang-barang antik dari Cina di rumah ini." Kata Irene sambil melihat berkeliling.
"Hahaha... Iya, tentu saja. Itu pesanan khusus." Kevin berkata sambil tersenyum.
Tanpa sengaja tangan kiri Irene menyenggol sebuah vas bunga kristal yang terletak di atas sebuah meja kecil di pojok ruangan. Vas bunga kristal tersebut jatuh ke lantai dan pecah. Irene mengatupkan mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ohh... Sorry..." Irene merasa sangat bersalah.
Kevin menatap ke lantai. Namun dia segera menoleh ke arah Irene.
"Kamu terluka?" Tanya Kevin.
Irene menggeleng panik. "Maafkan aku, baby..." Desis Irene.
"Hemmm... Tidak apa, yang penting kau tidak terluka." Ujar Kevin.
Irene masih menatap pecahan vas bunga kristal yang berserakan di lantai.
"Don't worry. Asisten rumah tangga akan membersihkannya. Ayo, kita ke kamar." Ajak Kevin.
"Ummm..." Gumam Irene.
Irene terlihat menatap pecahan kaca tersebut dengan mulut yang komat-kamit. Lalu dia mengarahkan jari telunjuknya yang lentik ke arah pecahan kristal tersebut.
Semburat cahaya yang halus namun cukup terang seolah keluar dari jari telunjuk Irene. Kevin terkejut bukan main. Dia nyaris tersungkur melihat keganjilan itu.
Pecahan kristal pelan-pelan naik, melayang, dan menari di udara mengikuti arah permainan jari telunjuk Irene. Cahaya-cahaya berkilauan sangat indah mengelilingi pecahan kristal tersebut.
Irene menjentikkan jemarinya dan dengan sekejap semua pecahan kristal tersebut kembali menyatu, membentuk vas bunga kristal utuh seperti sebelumnya. Vas bunga kristal itu lalu melayang perlahan sebelum akhirnya kembali ke posisi semula mengikuti arah jari telunjuk Irene.
Kevin terperangah. Dia sangat terkejut. Dia bahkan lupa menutup mulutnya yang terbuka lebar sejak tadi.
"Irene... A... A... Apa yang kau lakukan?" Kevin bertanya dengan suara terbata-bata.
Irene tersenyum manis. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Kau kelihatan pucat, baby." Ujar Irene sambil menyentuh wajah tampan Kevin.
"Apa-apan itu tadi?" Kevin merasa dirinya seperti bermimpi. Namun sentuhan tangan Irene terasa hangat dan nyata di wajahnya.
Irene lagi-lagi tertawa sambil merapikan rambut panjangnya yang tadi berwarna putih namun kini sudah berubah warna menjadi abu muda keperakan.
"Ayo... Aku ingin mandi dan keramas." Ujar Irene.
Kevin masih berdiri diam mematung. Sepertinya dia sedang mengembalikan akal sehatnya dari keterkejutannya melihat adegan sulap yang dilakukan Irene tadi.
"Apakah istriku ini pesulap?" Kevin bertanya dalam hati.
"Come on, baby... Rambutku sudah sangat kelelahan dengan tata rambut tukang saloon bawel itu." Keluh Irene.
"Bagaimana bisa rambutnya berubah warna begitu saja?" Kevin merasa semuanya semakin aneh saja.
Irene lalu menarik tangan Kevin dengan raut wajah tidak sabar. Kevin mengikuti Irene dengan sorot tatapan penuh tanya di matanya.
"Kamu belajar sulap dimana, Irene?" Tanya Kevin dengan tatapan serius.
Irene tertawa terbahak-bahak. "Oh baby... You're so funny..." Ujar Irene di sela-sela gelak tawanya.
"I'am a witch, baby..." Bisik Irene di telinga Kevin.
"Apa?!" Kevin berkata setengah berteriak.
"Thanks for being my love..." Ucap Irene lembut. Dia menjentikkan kembali jemarinya. Tiba-tiba ia dan Kevin sudah melayang-layang di dalam kamar.
"Let's dance!" Irene mulai mengajak Kevin berdansa di udara.
"Wowww... Wowww..." Kevin berteriak panik sambil menari-nari di udara mengikuti gerakan tubuh Irene.
***TAMAT***