Perjalanan yang tidak terduga, ku pikir akan sampai pada tempat tujuan dengan selamat tapi nyatanya pesawat yang aku tumpangi mengalami kecelakaan hingga saat ini hanya aku dan selebriti cantik yang selamat, sejauh mata memandang hanya ada aku dan selebritis cantik dengan sifat angkuhnya yang bernafas di pulau ini.
"Hei, kau! Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya dengan kedua tangan di pinggang.
"Apa kau tidak punya mata? Tidak bisa melihat apa yang sedang aku lakukan?" aku pun membalasnya nyolot.
Perut ku lapar, dengan membuka kaos aku pun menangkap ikan lalu membuat api dengan menggosokkan batu.
"Apa kau tidak lapar?" tanya ku sambil menikmati ikan bakar.
"Tidak, aku tidak lapar." dengan ketus selebritis itu berucap namun alam lebih tahu hingga kruk kruk cacing di dalam perutnya berbunyi minta di isi.
"Ya sudah kalo tidak mau." ucap ku acuh, dalam hati mah sejauh mana ini artis bisa bertahan dengan perut yang keroncongan.
Siang berganti sore, aku masih sibuk dengan kayu yang aku susun dari dalam hutan untuk menjadi sebuah gubuk, lumayan kan sebagai tempat untuk aku berteduh dari dinginnya angin malam.
"Ayo laaah, mana sih pesawat yang lewat? Mana juga perahu yang menepi, kenapa dari tadi tidak ada satu mahkluk pun yang aku temui selain orang aneh itu? Perut ku lapar lagi." keluh Nini artis yang sedang naik daun dengan paras cantik namun minim sifat baik, bagai mana tidak baik orangnya saja angkuh, yah hanya baik di depan layar namun angkuh serta judes di belakang layar.
Tidak terasa malam pun tiba, dari yang panas berubah menjadi dingin dengan angin kencang.
Aku berada di tempat yang nyaman lumayan lah, setidaknya tidak terlalu dingin malah seperti berada di ruangan ber'ac.
Aku mengintip gadis angkuh itu, sedang kedinginan dengan tangan menekuk kakinya dan memeluk lututnya.
Iba sudah pasti aku rasakan, tapi apa boleh buat, tinggu hingga gadis angkuh itu meruntuhkan rasa angkuhnya, betapa kecilnya dia dan hanya butiran debu tanpa aku atau pun tanpa orang orang yang tidak dia anggap penting.
"Hei, kau!" serunya.
"Kau bicara dengan ku?" tanya ku yang berjalan mendekat ke api unggun buatan ku tadi.
"Apa ikan bakarnya masih ada? Apa aku boleh memakannya?" tanyanya ragu-ragu.
"Dari tadi juga aku sudah menawari mu, kau saja yang jual mahal." ledek ku.
Ia pun langsung menyambar ikan bakar dan memakannya dengan lahap.
Wuuussss hujan turun.
Aku pun masuk ke dalam gubuk, "Apa kau akan membiarkan badan mu basah?" ujar ku dan ia pun langsung ikut masuk ke dalam gubuk.
Berada di gubuk yang sama, sama-sama diam sambil menatap hujan yang turun dengan memikirkan apa yang akan terjadi esok bila sampai hari esok tidak ada bala bantuan yang akan membawa ku ke luar dari pulau ini, entah apa yang ada dalam pemikiran gadis itu.
Hari berganti hari, aku dan dia saling menyelami hingga akhirnya ia berubah menjadi seorang yang jauh dari sifat buruknya dan ia pun jadi bergantung dengan ku.
Tanpa terasa ikatan pun terjalin antara aku dengan dirinya menjadi 2 orang penghuni pulau ini hidup dengan memanfaatkan apa yang di sediakan alam. Asal bisa bertahan apa pun aku lakukan yang kini Nana menjadi tanggung jawab ku membangun masa depan di pulau tanpa alat komunikasi tanpa kemajuan tekhnologi benar-benar seperti hidup di jalam bahela.