Tok tok tok...
Suara ketukan pintu berulang ulang bertaut, yang semakin lama semakin terdengar pelan bunyi ketukannya.
"Adit!"
Tok tok tok...
Samar-samar ku dengar suara orang yang sangat ku kenal menyeru namaku dari balik pintu kost yang sengaja aku kunci, karena sebelumnya aku sudah berniat ingin istirahat siang tanpa ada yang mengganggu.
"Kamu didalam nggak, Dit?"
"Iya, tunggu bentar, May."
Dengan langkah malas karena mata yang teramat ngantuk serta tubuh yang terasa lelah, akhirnya ku buka pintu itu.
"Dit."
Seketika Maya menubruk tubuhku dengan pelukan serta isak tangis yang sudah tak terbendung. Aku hanya terdiam, tertegun untuk sesaat, tanpa bisa mengajaknya sekedar masuk terlebih dahulu kedalam kamar kostku yang terbilang acakadul.
Ia masih menangis. Masih senantiasa menyembunyikan raut sedihnya pada dada bidangku. Tanganku pun terulur sendiri untuk mengelus pucuk kepalanya, mengusap lembut punggungnya. Sayangnya aku sendiri masih tak begitu berani untuk memberinya ciuman penyemangat walau hanya harus mendarat dipucuk kepalanya saja.
"Sudah?" tanyaku dengan posisi kita yang masih berada diambang pintu.
Maya tetap bergeming. Entahlah apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya lagi. Kulihat dari nada tangisnya sepertinya ia sedang sangat kecewa.
"May, lebih baik kita didalam. Nggak enak pada dilihatin orang orang," ajakku sambil mengangkat wajah Maya yang semula hanya terbenam didada bidangku.
Maya pun hanya terdiam saat ku seret tangannya masuk kedalam kamar kostku. Tak lama setelah ku kunci pintu itu, ku lihat rupanya ia sudah berbaring saja diatas kasurku. Dengan tubuh miring sedikit meringkuk, masih dengan buliran air matanya yang tak berhenti menetes.
"Tidurlah," perlahan ku tutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang ku miliki hingga sebatas dadanya.
Maya langsung menurut. Ia memejamkan matanya disaat ku suruh tidur. Ku sunggingkan senyumku sekilas, memandangi wajahnya yang sudah sembab, dan memberanikan diri menyentuh pipinya diikuti usapan jemariku disana.
"Apa yang terjadi padamu, May?" batinku hanya bisa bertanya-tanya sendiri.
Setelah mendapati Maya yang sudah terlelap begitu saja, tentu aku pun turut memejamkan mataku. Kami tidak tidur disatu ranjang. Lebih tepatnya aku hanya duduk bersimpuh disamping Maya berbaring, dengan berbantalkan kayu tepian ranjang.
*
Kriiiiiing.... Kriiiiiing.....
Suara pekikan alarm yang sengaja kusetel berbunyi pada jam empat sore membuatku terpaksa membuka mata, walau sebenarnya masih terasa ngantuk.
Ku perjapkan mataku berulang-ulang, mengawasi sekitar ruang kamar, baru menyadari kalau Maya sudah tidak ada diruangan ini.
Huft!
Ku buang nafas beratku. Terpaksa harus menelan pil pahit untuk yang kesekian kalinya. Senyum getirku tak terasa terukir sendiri, bagai mencemooh diri sendiri yang selalu saja begini.
Maya. Dia adalah perempuan yang semenjak ku kenal dulu sudah menempati relung hatiku yang paling dalam. Tidak ada perempuan lainnya lagi selain hanya dia. Walau tak sedikit dari teman temanku mengenalkanku pada perempuan cantik lainnya, tetap saja hanya Maya yang masih bertahta disinggasana hatiku.
Aku mengenalnya sudah lebih dari lima tahun. Tepatnya saat kami dulu sama sama mengikuti ospek bersama. Kuliah dalam satu jurusan yang sama, duduk selalu bersebelahan, kemanapun sering keluar bersama. Mereka yang melihat kami begitu pasti menebak jika kami adalah pasangan kekasih. Nyatanya tidak. Walau sebenarnya hatiku selalu mengamini dugaan orang-orang itu agar bisa menjadi nyata.
Yah, beginilah nasib hatiku. Mencintai seorang perempuan yang sebenarnya ia sendiri sudah tahu kalau aku mencintainya. Meski begitu, nyatanya sama sekali tak bisa membuatnya berpaling padaku walau sejenak. Rasanya ini masih bisa ku terima dari pada aku memendamnya. Mencintai tanpa adanya kepastian sambutan darinya, rupanya sudah terlanjur ku nikmati alur ini. Walau awalnya sakit, namun kali ini hatiku lebih terlatih dengan semua kenyataan ini.
"Kamu dimana?" tanyaku, saat ku coba menghubunginya lewat telepon.
"Aku pulang. Sorry aku nggak bilang tadi. Kamunya tidurnya pules sih..."
Dari nada bicaranya sepertinya ia sudah baik baik saja. Ku ulaskan senyumku sendiri. Selalu merasa bahagia sendiri saat mengetahui Maya sudah kembali ceria.
"Mm, May."
"Iya, Dit."
"Tadi kamu kenapa? Kamu belum cerita udah main pulang aja."
"Aku udah nggak papa kok."
"Beneran?"
"Iya. Ini aku udah sama Evan."
Deg.
Dadaku berdenyut nyeri. Terasa sedikit sesak saat mendengar ia menyebut nama kekasihnya itu. Yang aku tahu, Evan adalah pacar Maya yang ketiga, setelah sebelumnya ia sudah putus dengan pacar pacar sebelumnya. Yah, lima tahun mencintai Maya, sudah tiga kali ia berganti pacar.
Dari curahan hati yang Maya sering ceritakan, sebenarnya hubungannya dengan Evan terbilang pelik dan terlampau sering banyak masalah. Tanpa dijelaskan oleh Maya, aku sudah bisa menebak kalau tangisannya tadi itu pasti karena Evan. Walau begitu, rupanya mereka masih bisa kembali lagi. Seakan Maya langsung terlupa jika ia sudah berulang tersakiti oleh kekasihnya itu.
"Dit," panggilnya lirih, saat diriku hanya terdiam saja.
"Iiish... Malah nggak ada suaranya," gerutunya. Lalu tak lama setelah itu, Maya memutuskan panggilanku.
Sekali lagi, aku dibuat terdiam tanpa bisa berbuat apapun demi kemajuan jalan cintaku sendiri. Sudah tahu jika pilihan Maya adalah pria yang tak cukup baik, namun tak berani menyuruhnya mengakhirinya. Sebab bagiku satu satunya cara terbaik yang bisa ku berikan padanya adalah bahagia bila melihatnya bahagia.
*
Seminggu sudah aku jarang bertemu dengan Maya. Kesibukan aktifitas kerja membuatku harus rela menahan rindu sendiri padanya. Padahal aku sudah tahu kalau ia tak pernah merinduiku. Mungkin jika sedang tertimpa masalah dengan pacarnya, barulah ia akan mengingatku. Sungguh miris.
Beberapa postingannya yang kerap kali ia unggah dilaman media sosial miliknya cukuplah menjadi penawar rinduku. Mengetahui dirinya sedang berbaikan dengan si Evan itu, aku sudah cukup senang. Tak munafik pula, dibalik kesenanganku itu, ada rasa sesak yang harus ku tahan entah sampai kapan.
Brakk!
"Adit..."
Bersamaan dengan decitan pintu kamar kostku yang terbuka sedikit kasar, Maya datang lagi dengan wajah penuh sendu.
"Ada apa, May?" tanyaku, saat melihatnya yang sudah meneteskan air matanya dalam pelukanku.
"Evan, Dit." serunya masih dengan isak tangisnya yang memecah.
Aku memilih diam, sedikit merasa jengah. Bahkan sudah tak tertarik mengusik tangis Maya yang disebabkan oleh Evan. Mungkin lebih baik begini saja. Menjadi sebatas rumah singgahnya yang hanya dikunjungi saat sedang terluka saja. Hingga membuatku semakin kebal dengan situasi ini.
"Evan selingkuh, Dit," ucapnya lagi.
Aku hanya bergeming, sama sekali tak kaget saat mendengarnya. Aku sudah tahu kalau Evan itu adalah seorang player, Maya pun ku rasa juga sudah tahu hal itu.
"Trus, kamu sama Evan akhirnya gimana?"
Tidak egois kan, kalau aku mengharap Maya sama Evan akhirnya putus?
"Aku nggak mau putus sama dia. Aku sangat mencintainya, Dit. Aku yakin suatu saat dia pasti akan berubah."
"Kalau akhirnya dia tidak berubah juga?"
"Aku sangat mencintainya."
Huft.
Ku rengkuh tubuhnya lagi agar bisa semakin masuk dalam dekapanku. Selalu saja tak bisa berkata apapun tiap mendengar kata sangat mencintai Evan dari mulut Maya. Beruntungnya Evan yang bisa dicintai olehnya.
"Dit."
Maya mendongakkan kepalanya menatapku lekat.
"Hmm..?"
"Kamu memang sahabat terbaikku. Makasih, selalu ada saat aku begini dan selalu sudi menampung kesedihanku," ujarnya kemudian.
Sahabat terbaik. Iyah, hanya sebatas sahabat terbaik. Dan juga sebatas rumah singgah buatnya.
Sekali lagi ku rengkuh tubuhnya lagi. Ku peluk erat pinggul langsingnya. Ku palingkan wajahku ke sembarang arah, agar ia tak mencurigaiku yang terhanyut dengan banjir air mataku yang berlinang cukup deras.
#THE END