Di tengahnya malam, di depan pintu sebuah rumah kosong yang berada di gang kecil, di tempat yang sangat jauh dari keramaian.
Aku dilempar oleh seseorang dan terduduk ke tanah dengan rasa sakit yang menyebar. Namun dibalik rasa itu, Aku tersenyum kepada orang yang melemparku dan dua orang yang berada di sampingnya.
"Menjijikan, pergi sana!!" Ucap seorang dari mereka bertiga. Lalu Mereka masuk ke rumah tersebut meninggalkan Aku sendiri.
Aku berusaha untuk berdiri tapi kakiku sangat bergetar, Aku terjatuh dan berusaha bangun lagi, sampai akhirnya Aku bisa berdiri. Dengan tenaga yang tersisa, Aku berjalan menyusuri gang kecil itu dengan air mataku yang perlahan menetes.
Rasa sakit di seluruh tubuhku mulai terasa, baik dari kakiku yang berjalan dengan telanjang, lututku, pinggangku, tanganku dan tenggorokanku. Namun yang paling menyakitkan dari itu semua adalah pikiranku.
Pikiranku yang membayangkan hal-hal yang terjadi padaku sungguh menyakitkan, Aku tidak bisa membuang pikiran itu dan terus mengalirkan air mata.
Langkah demi langkah kucapai untuk menjauh dari rumah tersebut. Menyusuri gang kecil yang gelap dengan air mata yang semikin dan semakin deras mengalir karena pikiran yang tak terhenti itu.
"Kamu meracuninya?! Keluar dari rumah ini dan jangan anggap Aku Ayahmu!!"
"Dibilangin ngeyel, lagian Ide apapun dari kita ga pernah kamu terima, Kamu nganggap Kita Sahabat gasih? Mending hubungan Kita dan Kamu berakhir"
"Mending Kita putus deh, Aku rasa Kita ga cocok, Kamu selalu mengeluh dan Aku ga bisa bantu apa-apa"
"Curhat apalagi?? Ayah lebih bela Ibu tiri? Udah deh, Kamu tuh dah gede ga usah peduliin mereka, kakak juga sibuk! gada waktu karena ngurus keponakanmu"
"Kamu dipecat, pekerjaanmu selama dua minggu ini tidak pernah benar!"
"Kasihan" "kasian ya Dia" "kasian" "haha mampus" "lagian dia nyoba racunin ibunya" "percuma cantik hidup menderita" "tanpa ayah, kehidupannya hilang ya" "nasibnya punya ibu tiri"
"Semangat ya! Paling tidak Kamu masih punya Aku kok, `si ketua mafia ternama di negara ini, Alvaro Chandler`"
"Nona, Ketua Chandler ditemukan tewas, sekarang Kami sibuk mempertahankan area kami. sementara waktu, jangan hubungi kami"
"Cantik sendirian aja, mau kita bantu ga"
"Hahaha, ada ya orang yang tolol sepertinya, dia adalah mangsa kita yang paling mudah"
"Menjijikkan, pergi sana!"
Sebegitunya kah Aku berbuat dosa? Padahal Aku hanya manusia biasa yang tidak ingin kasih sayang ayahku direbut. Padahal Dia tidak mati tapi hukumanku kehilangan semua sampai keperawananku ahhahaha...
Di sertai dengan air mataku yang terus menetes dan sampainya Aku di atas trotoar sebuah jalan raya yang amat lebar.
Terlihat di mataku yang sedikit buram sebuah truk kontainer yang sangat kecil karena sangking jauhnya. Tentu pemikiran bodoh itu terlintas dalam benakku dan lebih bodohnya Aku ingin melakukannya.
Tapi sebelum Aku melangkahkan kakiku, Aku malah memikirkan suatu pertanyaan yang terbesit dalam pikiranku.
"Masih adakah?"
Dua kata yang memutar otakku memikirkan semua orang yang pernah berada di hidupku.
Lalu Aku tersenyum dengan membayangkan kebodohanku dan maju ke jalan yang luas itu, dengan truk yang semakin dan semakin mendekat pada titik diriku berada.
Bodohnya Aku memikirkan itu, padahal sangat jelas Aku sungguh sudah menjadi sampah, sampah yang hanya bisa dimusnahkan tanpa ada yang peduli.
Melihat truk yang semakin mendekat, terpikirkan olehku apa ini akan sangat menyakitkan?
Truk kontainer itu semakin mendekat dengan klakson yang terus dinyalakan. Aku yang sedikit takut melihat truk tersebut karena semakin besar mendongakkan kepala ke atas. Lalu Aku kaget dan tersenyum melihat sesuatu di langit.
"Indahnya bulan malam ini, Andai rembulan itu Seindah Kisahku" ucapku memaksakan suaraku untuk keluar.
Tepat setelah kalimat terakhirku, truk menabrakku dan Aku melihat bahwa Aku melayang dan terjatuh dengan rasa sakit. Aku melihat darah diriku yang entah keluar dari mana dan tersenyum setelah napas terakhirku keluar.
𝘛𝘢𝘮𝘢𝘵
-
ɪɴɪ ᴅᴜɴɪᴀ ɴʏᴀᴛᴀ! ᴛᴀᴋ ᴀᴅᴀ ʏᴀɴɢ sᴇᴘᴇʀᴛɪ ᴋᴇᴍᴀᴜᴀɴᴍᴜ ᴅɪ ᴅᴜɴɪᴀ ɪɴɪ, ᴋᴀᴜ ʜᴀɴʏᴀ ʙɪsᴀ ᴍᴇᴍɪʟɪʜ ᴀɴᴛᴀʀᴀ ʟᴀɴᴊᴜᴛᴋᴀɴ ᴀᴛᴀᴜ sᴇʟᴇsᴀɪ.