Jia, seorang anak perempuan keturunan konglomerat.
Dia berpacaran dengan lelaki biasa, yakni seorang pemilik toko swalayan.
Mereka berpacaran tanpa diketahui oleh orang tua masih masing.
Jika juga sibuk menjadi bos di kantor yang didirikan oleh ayahnya khusus untuk Jia.
Pagi itu, ibu Jia memesan banyak barang. Jia tidak tau bahwa ibunya itu tau tentang hubungannya dengan seorang lelaki pemilik toko swalayan.
Ketika pesanan yang dipesan oleh ibu Jia dari toko milik kekasih Jia, Jia sangat terkejut karena Vio datang ke rumahnya sepagi itu dengan membawa banyak barang.
Jia hanya bisa menganga melihat hal itu. Sedangkan ibu Jia berkali kali menyindir hubungan mereka.
"Ah, terima kasih... Aku akan membayar lebih untuk ongkos pengiriman ke rumah." ucap ibu Jia sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Ti.. tidak perlu." tolak Vio dengan wajah panik.
"Jia? Sedang apa kau di sana?" tanya ibu Jia yang sengaja memanggil Jia.
Jika pun mendekati mereka.
"Ini putriku, Jia. Dia adalah seorang usahawan terkenal. Apa kau tau? Dia pantas menikah dengan orang yang seperantara dengannya." celetuk Ibu Jia menyindir.
Jika merasa sangat tidak enak pada Vio karena ucapan ibunya.
Vio hanya tersenyum dan berpura pura tidak tau soal Jia.
Vio kemudian pergi dengan mobilnya.
"Apa kau sadar?" tanya ibu Jia.
"Apa maksud Ibu berkata seperti itu?!!" teriak Jia dengan kesal.
"Kau hanya pantas menikah dengan seorang lelaki yang sama sama kaya. Apa kau mau hidupmu terbebani oleh pria biasa seperti dia?" bentak ibu Jia sambil mengobrak abrik barang yang ia beli dari Vio.
Jia kemudian berlari meninggalkan ibunya dan segera pergi menuju toko Vio.
Sampai di toko swalayan milik Vio, Jia tidak melihat Vio di sana. Dia hanya melihat kakak Vio saja.
"Maaf, kakak. Apa kakak melihat Vio?" tanya Jia.
"Hmm... Tadi dia berkata ingin pergi ke dekat danau." balasnya sembari menaikkan alisnya dengan wajah heran.
Jika dengan cepat mengendarai mobilnya dan pergi menuju tepi danau.
Sampai di sana, Jia melihat Vio sedang menangis.
Jia mendekatinya dan duduk disebelahnya.
"Maafkan ibuku karana telah menyinggung mu." ucap Jia yang tiba tuba membuat Vio terkejut.
Vio menggeleng sambil tersenyum.
"Ibumu tidak salah. Benar apa katanya. Aku tidak pantas untuk perempuan kaya seperti mu." cetusnya sambil mengusap air mata.
"Sebaiknya... Kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini. Aku ingin, kita putus." lanjutnya.
Kata kata yang keluar dari mulut Vio membuat Jia benar benar merasa terpukul.
Vio meminta putus hubungan bukan karena ia menyesal telah dimarahi oleh ibu Jia.
Tetapi Vio baru tersadar kalau dirinya bukan orang yang pantas menjadi kekasih hidup Jia.