Aku ... Anabia Az-Zahra, gadis manja yang berstatus sebagai mahasiswi jurusan kedokteran semester 3.
Abimanyu, pria yang lebih sering di sapa Abi adalah satu-satunya pria paling menyebalkan yang pernah kutemui dalam hidupku.
Sekaligus satu-satunya pria pemilik cinta di hatiku.
Aku sudah mengenal Bang Abi sejak masih kecil, dia adalah sahabat kakak kandungku, Bang Andra.
Sejak aku masih duduk di bangku sekolah, Bang Abi memang sangat protektif padaku. Lalu saat dia dan Bang Andra harus kuliah di luar negeri 4 tahun lalu, sebelum itu Bang Abi sempat menyatakan perasaannya padaku.
# Empat tahun yang lalu #
Dengan mata yang berlinang air mata, aku memeluk Bang Abi.
"Nabi ... Abang harus pergi jauh dan cukup lama," ucapnya.
"Nabi harus jaga diri baik-baik yah. Apa lagi sekarang Nabi sudah SMA, harus pintar memilih pergaulan yang baik untuk Nabi."
"Nabi ... Abang sayang dan cinta sama Nabi. Bukan sayang dan cinta yang seperti Bang Andra, tapi cinta dari seorang pria pada seorang wanita."
"Abang gak akan minta jawaban Nabi sekarang. Simpanlah, tunggu abang kembali 4 tahun lagi," lanjutnya.
Aku yakin saat itu aku tampak sangat jelek. Saat itu Aku masih gadis 15 tahun yang tak tahu merias diri, ditambah mataku bengkak karena menangisi Bang Abi dan Bang Andra yang akan berangkat ke luar negeri untuk kuliah.
"Gak mau nunggu 4 tahun, sekarang aja aku jawab," ucapku sambil terisak.
"Aku nolak Abang, Aku gak mau LDR, aku gak kuat Abang," ucapku.
Bang Abi tertawa terbahak-bahak. "Abang gak mau nerima jawaban kamu yang sekarang, nunggu nanti aja. Biar saat kamu terima cintaku, Abang bisa langsung meluk dan cium kamu," ucapnya menggodaku.
Dan aku semakin yakin, jika setekah itu aku nampak makin jelek. Sebab kupastikan jika wajahku memerah seperti tomat.
"Kalau Abang kelamaan pulangnya, aku akan lupain Abang. Terus akan berpaling ke oppa oppa Korea kesayangan aku," ancamku.
Bang Abi lagi-lagi tertawa karena ucapanku.
Padahal niatku adalah perpisahan yang romantis seperti di drama Korea yang ku tonton, tapi yang terjadi perpisahan kami seperti adegan lawak.
💕💕💕
Aku semakin cinta pada bang Abi, sebab meski dia tak di dekatku ... pria itu tetap membuat wajahku merona di setiap aku terjaga dari tidurku.
Bagaimana tidak, bukan alarm yang membangunkanku tapi sebuah pesan singkat dari bang Abi yang berisi ungkapan perasaannya.
'Morning sunshine, cinta dan sayangku untukmu tak pernah berubah sejak dulu. Tunggu aku cinta, Anabia Az-Zahra.'
Itulah isi pesan singkat yang berhasil membuatku merona setiap pagi.
Hingga pada pagi ke 1.301, untuk pertama kalinya tak ada pesan dari bang Abi.
Jika biasanya aku bangun pagi dengan wajah merona, pagi ini aku bangun dengan wajah murung lengkap dengan lingkaran mata panda akibat semalam aku harus begadang untuk belajar.
Bang Abi manusia biasa, mungkin saja dia lupa.
Bang Abi mungkin sedang sibuk.
Bang Abi mungkin bangun terlambat hari ini.
Dan akhirnya sekitar 180 alasan berhasil kubuat untuk mengurangi kekecewaanku.
Sudah 6 bulan tak ada kabar dari bang Abi, pria itu bak hilang ditelan bumi.
Bertanya pada Bang Andra bukanlah ide yang baik. Bang Andra adalah Abang yang posesif, aku tak ingin merusak hubungan persahabatan mereka berdua.
Hingga seminggu yang lalu, jelas diingatanku saat itu adalah hari Minggu.
Hari kemerdekaan bagi seorang mahasiswi sepertiku. Apalagi semalam aku baru saja begadang karena menonton drama Korea.
"Morning Sunshine..."
Saat sedang terlena dalam mimpi bertemu oppa Korea, rasanya aku mendengar bisikan-bisikan seorang pria yang sangat kukenali suaranya.
"Anabia Az-Zahra, aku mencintaimu ...."
Suara ini lagi ... mengapa aku masih terngiang-ngiang suara bang Abi, apa aku masih belum move-on?
Aku masih tak ingin beranjak dari posisi ternyamanku, hingga kurasakan sebuah elusan di suraiku.
Perlahan-lahan kubuka mata dan yang pertama menyapa netraku adalah wajah tampan bang Abi yang sedang tersenyum.
"Aaaaaaarrrggghhhhhh ..... Abang?!" teriakku.
Enam bulan tanpa kabar, ternyata adalah rencana bang Abi untuk memberi kejutan untukku.
"Berhenti mengikutiku!" tegasku.
"Tak mau," balasnya.
"Jika tidak ... aku akan meneriakimu sebagai penguntit," ancamku.
"Silakan, mereka tak akan percaya jika ada penguntit yang wajahnya setampan diriku."
"Menyebalkan," gerutuku.
Lalu aku segera berlari menuju ruang kelas, tanpa peduli jika banyak mahasiswa lain yang menatapku bingung.
Begitulah bang Abi, menggodaku dijadikan hobi olehnya.
💕💕💕
Setelah ujian semester 4, bang Abi melamarku. Bukan lamaran resmi pada orang tuaku, lebih tepatnya bang Abi menyatakan keseriusannya padaku.
"Aku ingin meminangmu Anabia Az-Zahra, namun sebelum aku menyampaikan niat tulusku pada kedua Bapak dan Ibu, aku ingin menanyakan kesediaanmu."
"Kurasa tak perlu lagi kukatakan cinta, sebab kini aku ingin membuktikannya dengan keseriusanku dan tidak lagi dengan kata-kata," ucapnya.
"Aku bersedia bang menerima pinanganmu hanya saja tak sekarang. Aku ingin menyelesaikan pendidikanku. Aku ingin menjadi pantas bagi dirimu yang luar biasa," ucapku.
"Abang mau menungguku, kan?" tanyaku.
"Selain menunggu, apa lagi yang harus abang lakukan untuk membuktikan cintaku padamu?" tantangnya.
Aku tahu kini ia kembali menggodaku. Maka terbersit ide untuk menjahilinya juga.
"Hemm ... kalau aku minta bang Abi mengirimiku kalimat cinta seperti dulu lagi, apa bang Abi sanggup?"
Bang Abi berdiri berkacak pinggang lalu menepuk sebelah dadanya dengan satu tangan.
"Hal itu adalah perkara kecil untuk seorang Abimanyu," ucapnya.
Aku tertawa dengan tingkahnya.
Keesokan harinya, bang Abi kembali membuat cintaku makin berlipat-lipat ganda padanya.
Pesan singkat yang sama di waktu yang sama kembali menghiasi pagiku.
'Morning sunshine, cinta dan sayangku untukmu tak pernah berubah sejak dulu. Jadilah istriku, Anabia Az-Zahra.'
Pesan berisi kata-kata yang membuatku berdebar di pagi hari terus ku terima.
Hari ke hari, lalu hari menjadi Minggu, Minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, hingga kini masuk tahun ke 3 semenjak bang Abi melamarku.
"Enam bulan lagi," gumamku.
Aku sudah tak sabar, 1 bulan lagi waktu yang ditetapkan kedua keluarga untuk kami melangsungkan pertunangan. Lalu 6 bulan ke depan kami akan menikah.
"Nyonya Abimanyu," gumamku sambil berguling-guling di tempat tidur.
💕💕💕
Sudah seminggu bang Abi berangkat ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.
Pagi ini, keningku mengernyit ketika pesan singkat yang masuk ke ponselku berbeda.
'Maaf.'
Hanya 1 kata pesan dari bang Abi pagi itu.
Pagi yang menjadi awal kehancuran hatiku.
Bang Abi kembali menghilang.
Kali ini benar-benar menghilang, sebab keluarganya pun tak tahu di mana keberadaan pria yang akan menjadi suamiku 6 bulan lagi.
Hancur.
Itulah yang kini kurasakan.
Aku merutuki diriku, aku calon dokter tapi mengapa sesak di dada dan insomnia yang kualami tidak bisa kusembuhkan.
Aku tak menemukan obatnya di manapun aku mencari.
💕💕💕
Tahun berganti, setiap pagi aku bangun aku akan menghapus 1 pesan singkat dari bang Abi.
Aku sadar jika aku menyiksa diriku sendiri, tapi aku tak rela jika semua kenangan itu menghilang.
Itulah sebabnya aku memutuskan untuk menghapusnya perlahan-lahan.
Hingga sebuah kabar mengejutkanku.
Bang Abi, telah pergi untuk selamanya.
Selama hampir 1 tahun, bang Abi berada di Jerman untuk mengobati penyakitnya, namun sayang takdir berkata lain.
Tuhan lebih menyayanginya. Tuhan menjemput bang Abi untuk kembali ke pangkuannya.
Bang Abi pergi untuk selamanya, meninggalkan beribu-ribu pesan untukku.
"Bang Abi, aku masih mencintaimu. Terima kasih atas semua pesan yang kamu tinggalkan untukku. Pesan-pesan itu selalu membuatku merasa jadi wanita yang menerima banyak cinta darimu."
"Sampai bertemu lagi Bang."
💕💕 END 💕💕