Hamparan awan berarak cerah diatas perairan yang membiru, ditingkahi semilir angin sore bertiup sepoi, membawa suasana terasa lebih sejuk dan segar seolah turut memberikan restu untuk kedua mempelai.
Tidak salah jika Langit memilih tempat dengan venue yang elegan untuk menggelar pernikahan bertema outdoor mereka, dengan latar sebuah teluk berhias jejeran rapi kapal yang bersandar pelabuhan dan bangunan bergaya modern di sisinya, indah sekali.
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more ...
Lagu merdu itu sengaja di request oleh Langit, khusus untuk 'walk down to the aisle' pernikahannya dengan Lenka. Ya, a thousand years cocok menggambarkan penantiannya yang terlalu lama untuk bisa berjalan berdampingan dengan cinta pertamanya itu.
Di saat rekan-rekan sebaya sudah merayakan ulang tahun perkawinan ke 10, 15, 20 bahkan kawin perak, Langit dan Lenka justru baru saja menapaki hari pertama mereka sebagai suami istri.
"Kenapa kamu menangis? Kamu bahagia atau sedih, akhirnya kita bisa nenikah?" Tanya Langit pada Lenka.
"Keduanya, Lang," sahut Lenka sambil menyeka airmatanya. "Aku bahagia karena hari yang pernah kita impikan dulu akhirnya terwujud dan aku sedih karena 2 hal, yang pertama kita telah menyia-nyiakan waktu bertahun-tahun dan yang kedua ... aku sedih karena pernikahan kita ini terkesan buru-buru, sampai-sampai aku tidak sempat menyemir ubanku. Lihatlah, kamu tidak malu mempelai wanitamu adalah seorang nenek-nenek?" Lanjut Lenka membuat Langit terbahak.
"Tidak ada yang sia-sia, semua sudah jadi ketentuan-Nya. Maaf, seandainya aku bisa bergerak lebih gesit tentu kamu tidak akan menikah dengan lelaki yang dijodohkan orangtuamu itu, dulu. Dan maaf, saat aku melihat peluang kedua, aku tidak ingin keduluan sama orang lain lagi. Persetan dengan ubanmu, aku justru bahagia ternyata kamu sebegitu cintanya sama aku ... dari masih gadis hingga sudah jadi nenek-nenek, dari rambutmu berwana coklat kehitaman hingga kini putih keperakan. Its ok, kamu selalu cantik di mataku."
32 tahun lalu, Langit dan Lenka adalah pasangan romantis se-kampus ITB. Lenka merupakan cinta pertamanya Langit dan begitu pula sebaliknya, Langit adalah cinta pertamanya Lenka.
Dulu, Langit yang 2 tahun diatas Lenka lebih dulu meraih gelar sarjana lalu mendapat pekerjaan di Tembagapura. Sempat ia meminang Lenka namun ditolak karena ayahnya Lenka ingin putrinya menyelesaikan dulu studinya dan bekerja, baru boleh menikah. Langit menunggu waktu itu, namun sayangnya ternyata Lenka memilih menerima perjodohannya dengan Amar. Sial, jargon jagain jodoh orang, nyata dialami Langit.
Ya sudah, barangkali memang tidak berjodoh, Langit terpaksa mengubur perasaan pada Lenka, cinta pertamanya itu dalam-dalam sambil mengharap keajaiban, atau setidaknya bisa menikahi Lenka meski hanya di dalam mimpi.
Mengamati dan mendoakan dari jauh selama 30 tahun adalah cara Langit mencintai Lenka. Mengetahui Lenka baik-baik saja dan bahagia menjalani pernikahannya dengan Amar, mampu membuat Langit tersenyum walaupun hatinya masih saja merasakan pedih akibat pilihan yang mengikat Lenka. Namun tidak lagi, saat beberapa bulan lalu Amar meninggal, Langit langsung bertindak.
Dan di sinilah ia berada, berdiri berdampingan, saling mengucap janji setia, sehidup semati dengan Lenka, pengantin perempuan berambut putih, yang mungkin sama putihnya dengan rambut di kepala Langit jika ia tidak mengalami kebotakan.