Sesungguhnya manusia di ciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dan paling Indah. Karena keseimbangan bentuk dan parasnya yang sangat Indah. Dengan tujuan besar dan mulia yakni supaya manusia mengkhususkan semua ibadahnya kepada Allah semata.
Namun kesininya manusia semakin pandai menggunakan otaknya untuk selalu menciptakan rupa dan paras manusia melebihi ciptaan Tuhan. Dengan mempermak penampilan dengan dalih menjaga dan merawat pemberian sang pencipta.
Mery Antisa adalah gadis kuliahan semester akhir yang sudah sangat sering berada di atas meja operasi untuk terus menginovasi penampilannya. Agar senantiasa terlihat cantik, putih, mulus tanpa cacat cela.
Semua itu perlu dana yang tidak sedikit. Apapun yang ia lakukan terhadap tubuh dan wajahnya memang pilihan, tetapi dengan keadaan ekonomi orang tua yang pas pasan, bahkan tergolong miskin. Tentu itu adalah suatu paksaan bukan.
Maka suami orang yang mapanlah yang menjadi targetnya untuk mencukupi semua biaya perawatan dan permakan tubuh juga wajahnya, agar selalu tampil mempesona lawan jenisnya.
Jangan tanya keperawanannya, ia bahkan telah tak punya itu sejak usia tujuh belas tahun. Saat pesta perpisahan SMA mereka bersama teman seangkatannya. Yang mereka lakukan dengan senang di bawah kendali minuman beralkohol.
Sudah beberapa pria yang berhasil ia kencani dan ia keruk uangnya, tetapi tak pernah bertahan lama, sebab ia memang tipe habis manis sepah di buang.
Tapi tidak dengan Damar. Pria yang sudah memiliki anak dan istri kali ini. Tak hanya ingin ia habiskan uangnya, tetapi sungguh ingin ia miliki seutuhnya. Damar tampan, belum terlalu tua, juga kaya raya. Seorang presdir di sebuah perusahaan industri gula pasir. Yang telah memiliki beberapa anak cabang hampir di sepuluh provinsi ternama di Indonesia.
Istri Damar cantik, dari bentuk tubuh, paras hingga hatinya sungguh sempurna tanpa operasi, sebab memang telah menjaga asupan gizi, merawat tubuh juga di didik di sekolah ternama sejak dini. Sebab Shyeril lah, yang berasal dari kalangan konglomerat iti, bukan Damar.
Perihal hubungan suaminya berselingkuh. Bukan hal yang sulit baginya untuk mendapat informasi. Ia telah mendapatkan beberapa laporan dari orang orang yang bekerja untuknya.
Bahkan perubahan prilaku sang suamipun, dapat ia rasakan. Sepandai pandainya suami menyimpan perbuatan serongnya dari istri. Percayalah, istrilah orang pertama yang menyadarinya dan tau bahkan tanpa di beri tahu dari orang lain maupun pengakuannya sendiri.
Hanya...
Kadang para istri tak mau peka dengan keadaan. Memilih bersembunyi dengan ketidaktauannya. Berdalih tak merasa perubahan dalam hubungan mereka sebagai suami istri.
"Mama... Rapi sekali. Mau kemana? Papa antar yah..." tawar Damar ramah pada istri cantiknya dengan mesra, sambil memeluk tubuh sempurna Shyeril.
"Papa ga sibuk?" tanyanya memastikan.
"Buat mama... Apa sih yang ga ? Sekarang bilang, mama mau ke mana?" tanyanya curiga sekaligus takut. Jika saja istrinya tau akan perselingkuhan yang ia lakukan sekarang.
"Mama mau ke dokter mata, pa." Jawabnya singkat, lalu meraih tas tangan yang sudah ia siapkan.
"Mata mama sakit? Kita ke Singapura saja, berobat?" Ajaknya penuh perhatian.
"Ya... Mungkin. Tergantung hasil konsultasi dari dokter mata namti pa." Jawabnya lembut.
"Parah banget ya ma?'
"Kan belum di periksa pa."
"Setidaknya ada keluhan apa gitu ma. Perih? Gatal? Kabur? Ga liat jauh atau dekat.? Damar agak ngeyel. Merasa tak ada keluhan sakit mata istrinya selama ini.
Mendengar suami yang begitu antusias ingin tau penyakit yang di deritanya.
"Papa... Mata adalah pelita tubuh. Jika mataku baik, maka teranglah seluruh pengelihatanku. Dan mata juga memiliki saraf yang kemudian menyampaikan yang di lihatnya pada otak dan hati." Sheryl duduk merapat pada suaminya.
"kita pernah sedemikian rupa meraih restu untuk di ijinkan menikah. Dan mas Damar selama ini selalu bertindak manis, baik dan mesra. Aku tak mau mataku melihat hal jahat dan buruk yang mas lakukan." Senyap.
"Lebih baik aku buta dari pada harus melihat sebuah kebenaran yang menyakitkan. Maaf mas, aku sudah mendengar tentang hubunganmu dengan Mery Antisa." Damar terangah, tak dapat bicara.
"Aku akan ke dokter mata, untuk menkonsultasikan kornea mataku. Ingin aku sumbangkan saja kepada orang yang masih ingin melihat dunia. Aku tak sanggup melihat kebenaran. Sebut saja aku pengecut, sebab memilih untuk menghindari kenyataan suamiku telah berselingkuh." Damar kaku, masih dalam diamnya.
"Aku tak mau mataku tercemar demi melihat kemesraanmu dengan wanita lain. Aku mencintaimu, mas. Dengan segenap jiwa dan ragu. Untuk itu, ku ingin melihat hal indah saja, selama aku bisa melihat." Sontak Damar mencium kaki istrinya memohon ampun dan bersumpah akan melepaskan wanita simpanannya itu, demi keutuhan rumah tangga mereka kembali.
Tamat