"Cinta tak pernah datang terlambat. Tapi cinta selalu menunggu momen yang tepat. Kedatangannya nanti pun akan diiringi dengan orang yang tepat," begitu kiranya keyakinanku selama ini.
Sedari pertama aku jatuh hati, dan kupendam rasa indah itu terhadap dia yang kusukai.. Sampai aku merasakan patah hati, oleh sebab si 'dia' yang berlalu pergi dengan bidadari pilihan hatinya.
Aku selalu meyakinkan diriku, pasti ada sebabnya aku menyukai 'dia'. Ada sebabnya hatiku terpukau oleh pesonanya. Ada tangan tak terlihat yang sudah menggerakkan jantungku hingga senantiasa berdebar, tiap kali kami bersua.
Pastilah ada sebab yang tak kuketahui dan belum kupahami maksudnya. Mengapa cinta mengarahkan hatiku untuk menyenandungkan namanya dalam bait-bait rindu.
Pastilah ada sebabnya. Mengapa sedih dan bahagianya 'dia' mampu membuat hidupku jadi ikut sendu.
Pastilah ada sebabnya. Itu keyakinanku.
Lalu, bilangan tahun memisahkan kami. Kata-kata dan tutur sapa menjadi sesuatu yang tiada lagi di antara kami.
Aku meniti jalan hidupku.
Dia pun berlayar di atas bahtera yang ia bangun bersama dengan wanita lain.
Aku sempat tersuruk merasa rapuh, atas perpisahan kami yang tanpa kata.
Aku sempat menyimpan luka, akibat perasaanku terhadapnya yang tak sempat tersampaikan.
Tapi itu bukan salah dia. Bukan pula salah takdir. Bukan pula salah ku. Aku berusaha meyakinkan diriku dengan keyakinan itu.
Kuanggap saja pertemuan kami adalah satu garis yang memang mesti terjadi. Pun jua dengan perpisahan yang terjadi di antara kami. Itu juga adalah garis takdir lain yang mungkin sudah sepatutnya terjadi.
Jadilah akhirnya kami memilih jalan kami masing-masing.
Hingga bertahun-tahun kemudian..
Kami merimba dalam hunian yang berbeda..
......
Lalu, sampailah kami pada titik ini..
Ketika kami dipertemukan kembali dalam perjumpaan yang tak terduga.
Dan kami pun akhirnya diperkenankan untuk mengukir cerita bersama.
Tentang aku, dia dan waktu.
Bersama-sama melukis senja, di penghujung usia.
Meski masa kebersamaan kami mungkin hanya tersisa sedikit saja di dunia ini, melihat mahkota putih keperakan yang telah disematkan oleh waktu pada kepala kami. Aku akan tetap mensyukurinya.
Karena kesempatan bersama dengannya ini sangatlah mahal.
Akan kulukis senjaku bersamanya, dalam rona cinta yang masih tetap sama seperti sejak puluhan tahun yang lalu.
***
"Amarella, would you be my world, whenever, wherever (Amarella, maukah kamu menjadi duniaku, kapanpun dan di manapun)?" ucap sang mempelai pria di hadapan para tamu, saksi dan altar pernikahan.
"Yes, i do (ya. saya bersedia)!" sahut sang pengantin wanita berambut putih.
***