Kilatan bayangan putih berkelebat cepat dengan anggun di antara puluhan prajurit berpedang di medan pertempuran.
Darah bertumpahan dimana-mana. Tanah mulai berwarna merah. Ribuan prajurit dari kerajaan Dong tewas mengenaskan. Posisi mereka kelihatannya semakin terdesak.
Ini adalah perseteruan paling berbahaya setelah perjanjian gencatan senjata antara dua kerajaan besar itu sejak tiga bulan yang lalu.
Kerajaan Dong melanggar perjanjian dengan mengganggu dan berusaha menguasai daerah perbatasan yang masih dimiliki oleh Kerajaan Chan Mi.
Hal tersebut tentu saja membuat Kerajaan Chan Mi berang. Kasus terbunuhnya pasukan penjaga perbatasan menjadi titik awal penyebab suasana tegang di antara kedua kerajaan besar tersebut.
Kaisar Kerajaan Dong terkenal picik dan pintar bersilat lidah. Sang Kaisar yakin dapat menaklukkan Kerajaan Chan Mi dalam waktu dekat, mengingat pewaris kerajaan tersebut hanyalah seorang gadis muda yang manja, Putri Ahnjong.
Sayangnya prasangka Sang Kaisar ternyata keliru. Putri Ahnjong jauh sekali dari apa yang bisa dibayangkan oleh Sang Kaisar.
Putri Ahnjong sejak kecil sudah terbiasa dengan pendidikan militer kerajaan yang keras dan disiplin. Sejak kecil ia sudah mahir berkuda, bahkan mengayunkan pedang sambil berkuda telah menjadi kegemarannya.
"Yang Mulia... Situasi prajurit di medan pertempuran sudah sangat berbahaya." Lapor komandan Wu.
"Apa yang terjadi di sana?" Kaisar bertanya dengan suaranya yang berat.
"Aneh sekali, Yang Mulia. Putri tunggal dari Kerajaan Chan Mi ternyata ikut dalam pertempuran." Jelas sang komandan.
Wajah Kaisar memerah. Ia terlihat sangat murka.
"Dasar bodoh! Apakah ribuan prajurit kita kalah hanya karena seorang wanita manja itu?!" Bentak Kaisar gusar.
Komandan Wu terlihat gemetar. Wajahnya mulai terlihat pias.
"Bawa kepala gadis manja itu ke sini! Jika kau tidak ingin kepalamu sebagai gantinya!" Ancam Sang Kaisar.
"Ba... Baik, Yang Mulia." Ucap Komandan Wu terbata-bata.
Sang komandan bergegas pergi sebelum amarah Kaisar menjadi lebih parah.
Sementara itu di daerah perbatasan, keadaan semakin mengerikan. Puluhan prajurit dari Kerajaan Chan Mi juga telah tewas sebagai korban.
Namun semangat para prajurit yang tersisa seolah berkobar kembali ketika mereka melihat langsung kehadiran putri mereka, Putri Ahnjong, di tengah-tengah medan pertempuran.
Semua terpana melihat gesitnya Sang Putri yang cantik itu mengendarai kuda sambil memainkan pedangnya yang panjang nan tajam.
Tidak terhitung berapa banyak sudah prajurit yang tewas akibat ayunan pedang Sang Putri.
Putri Ahnjong seolah memiliki sihir tak kasat mata. Tidak ada seorangpun yang dapat mendekatinya dengan selamat. Seolah-olah ada prajurit tak terlihat di sekitar Sang Putri yang terus saja melindunginya.
Kini Putri Ahnjong terus bergerak maju. Dia telah berhadapan dengan Komandan Wu. Kuda yang dikendarai Sang Putri berhenti dan berdiri dengan gagah.
"Aku perintahkan kau dan prajuritmu yang masih tersisa untuk mundur!" Teriak Putri Ahnjong.
"Anda berani sekali, Tuan Putri. Saya sungguh terkesan." Komandan Wu menyeringai.
"Alangkah malangnya jika wajah cantik anda nanti terluka..." Ujar Komandan Wu dengan nada mencemooh.
Meskipun Putri Ahnjong mengenakan cadar putih menutupi wajahnya, aura kecantikannya tidak dapat ditutupi.
"Komandan Wu... Aku telah banyak mendengar tentang anda. Dan... Aku sudah mulai bosan!" Ujar Putri Ahnjong ketus.
"Kembalilah pada Kaisar mu yang bodoh itu!" Teriak Putri Ahnjong.
Komandan Wu tertawa terbahak-bahak. Tawanya terdengar begitu mengerikan hingga beberapa prajurit terlihat berhenti bertempur.
Semua terpana ketika melihat Sang Putri dan Komandan Wu yang kekar kini saling mengacungkan pedang. Sungguh lawan yang tak berimbang.
Komandan perang Kerajaan Chan Mi segera mendekati Putri Ahnjong.
"Yang Mulia Tuan Putri... Mundurlah... Saya akan melindungi anda." Kata komandan perang Kerajaan Chan Mi.
"Komandan Yoon, bereskan saja prajurit-prajurit mereka! Biarkan aku yang menghadapi dia!" Perintah Putri Ahnjong.
"Tapi Yang Mulia..." Komandan Yoon mencoba membantah namun kalimatnya terhenti ketika Putri Ahnjong mengangkat pedangnya.
"Komandan Yoon, ini perintah!" Teriak Putri Ahnjong.
Komandan Yoon menunduk dan mundur. Putri Ahnjong mulai menyerang Komandan Wu. Duel mereka benar-benar mencengangkan.
Komandan Wu terlihat kewalahan menghadapi Putri Ahnjong yang memberikan serangan bertubi-tubi dengan cepat. Bahkan angin terlihat meliuk-liuk mengikuti gerak arah tubuh Sang Putri.
Berkali-kali serangan Komandan Wu kepada Putri Ahnjong meleset tak tentu arah. Akhirnya hal yang mencengangkan pun terjadi. Putri Ahnjong berhasil membuat Komandan Wu jatuh tersungkur dari kudanya. Pedang yang digenggamnya terlempar jauh.
Komandan Wu merasa ada kekuatan ghaib yang menarik dirinya ke bawah dan menyebabkan pedang yang digenggamnya terlepas.
"Sang Putri sepertinya memiliki kekuatan sihir." Batin Komandan Wu.
Putri Ahnjong turun dari kudanya dan mengacungkan pedangnya yang panjang ke arah leher Komandan Wu.
"Komandan Yoon... Bawa tawanan perang kita ke istana! Kita akan membuat perhitungan dengan Kaisar bodoh itu!" Perintah Putri Ahnjong dengan suaranya yang terdengar tenang namun menyeramkan.
Prajurit dari Kerajaan Dong berhasil dilumpuhkan. Semua menjadi tawanan perang. Komandan Wu diseret dengan tangan terikat dan tubuh penuh luka.
Putri Ahnjong meninggalkan daerah perbatasan dengan kemenangan. Para prajurit berseru senang melihat kehebatan bertempur sang putri pewaris tunggal Kerajaan Chan Mi.
Rombongan petarung Kerajaan Chan Mi kembali bergerak menuju istana. Putri Ahnjong dengan tenang menghela kudanya.
Sang Putri bercadar putih terlihat begitu cantik, anggun, dan berwibawa. Semua rakyat berhenti dan membungkukkan badan memberi penghormatan terhadap Putri Ahnjong yang telah berhasil memenangkan pertempuran di daerah perbatasan.
***TAMAT***