Sekali lagi Anya bermimpi berada di sebuah kastil besar dengan banyak kamar dan sebuah singgasana raja dan ratu di tengahnya. Para prajurit dan pelayan melayani dan menyambut Anya, seolah dirinya adalah pemilik kastil.
Begitupun keesokan harinya, senang bukan main ia kembali lagi ke kastil besar namun kali ini ia tidak lagi disambut oleh para prajurit berpakaian besi yang bersikap sopan dan mau mengawalnya berkeliling kastil, juga bukan dilayani oleh pelayan bertangan terampil yang membantunya berpakaian cantik berenda dan gaun yang mengembang dan hingga lantai.
Berbeda pikirnya, kini ia disambut seorang laki-laki berambut merah ikal dan matanya seperti telah diberkahi Tuhan berkilau jernih seperti samudera sambil mengenakan pakaian putih longgar yang dadanya sedikit terbuka dan keatasannya ini dimasukan dalam celana panjang hitam.
"kamu siapa?", Anya yang bingung masih menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"nona sejak tadi menatapku dengan fokus akhirnya mulai mengatakan sesuatu", ia tertawa.
"ah maaf kalau itu membuat kamu tidak nyaman,
perkenalkan namaku Anya. Namamu, tuan?"
"Xander", ia melangkah mendekat Anya. "Alenxander lengkapnya, tapi sepertinya pertanyaan 'siapa' ini ditujukan untuk kamu". Pertanyaan ini malah hujan jutaan pertanyaan lainnya yang Anya dapat.
"tunggu!", Anya memangkas rumit isi pikirannya. "kenapa? Aku sering kesini tapi baru kali ini bertemu denganmu". Namun di respon dengan kekehan ringan.
"apa yang lucu?"
"maaf. Biar aku sekali lagi perkenalkan diri padamu nona Anya," Alenxander membungkuk dan mengecup punggung tangan Anya. "Aku pemilik kastil". Menampakan senyuman terbaik yang ia punya.
"....", hanya di respon dengan keheningan lain dan membuat Alexander semakin tertawa geli melihat Anya bengong namun ia tahan karena tidak mau membuat tamunya kesal kedua kalinya.
"mari nona Aku ajak berkeliling dan menjelaskan kebingunganmu".
"maka lakukanlah!", membalas cepat.
Mereka berjalan berdampingan, kening Anya berkerut kali ini memang ada yang berbeda dengan kastilnya. Ia tidak bisa ingat kalau ada lukisan potret Alexander di setiap lorong utama kastil.
Di ruang kerja Alexander mulai bercerita, bahwa Anya adalah tunangannya. Ayahnya sendiri yang membuat kesepakatan dengan Alexander atas takdir Anya. Meskipun si gadis marah, ia tidak bisa kembali pulang minta penjelasan sang ayah.
Dalam kamar, "oke tenang Anya ga perlu semarah itu, ini cuma mimpi. Ya tenang!" Ucapnya pada diri sendiri. "tapi masa seorang ayah tega gitu!? Kan itu mah istilahnya kaya ngejual anaknya sama bangsawan." Ia melanjutkan keluh kesahnya pada diri sendiri hingga tertidur.
Anya terbangun dan mulai sekolah, murid biasa namun berbakat menulis cerita dan ia telah menerbitkan buku tentang mimpi-mimpinya. Orangtuanya sangat bangga akan dirinya. Hari ini juga dia mendapat kejutan ulang tahun dari teman-temannya. Malam datang dan Anya sangat bersyukur dengan pencapaiannya dan tidak lupa menuliskannya dalam diarinya yang mungkin saja jadi bahan tulisan ceritanya nanti sebelum akhirnya tidur.
"nya... Anya... Anya!", suara Alexander menyadarkannya dan sambil melihat sekitar, mereka sedang menyantap hidangan bersama. "kalau kamu lelah, nantiku antarkan ke kamar". khawatir.
"a-aku baik!", tuturnya gugup.
Alexander tetap mengantarkan Anya sampai ke kamarnya setelah makan selesai. Pintu kamar terbuka dan mereka berdua terkejut ketika isi kamar begitu pintu di buka.
Kertas-kertas bertebaran di lantai penuh dengan coretan dan tulisan tangan.
"apa yang terjadi dengan kamarku!!?", teriak Anya. "siapa yang mencari barang berharga disini!? Aku bahkan bukan seorang yang memiliki harta!".
"baiklah kalau menurutmu tidak ada benda berharga maka tidak perlu mengkhawatirkan ada barang yang hilang bukan?". Alexander angkat bicara dan meminta pelayan segera membersihkan ruangan.
"atau bagaimana hari ini tidur di kamarku?", menggoda Anya untuk menghiburnya.
'Ah gila ini beneran serius?? Aku tidur bareng bangsawan asing???', dalam pikiran Anya yang kacau. 'mimpi ini mimpi, gapapalah ya rejeki nomplok!! hehehe'.
"o-oke", jawabnya sambil malu-malu dan berhasil membuat Alexander ikut terasa panas di wajah namun berhasil ditutupi dengan senyumannya yang menawan.
"Xander?"
"hmm?"
"belum tidur?"
"sudah! hehe", candanya. "kamu belum ngantuk? Sini-sini biar hangat", kemudian memeluk Anya dan merapatkan diri.
'gilaa!!! gimana bisa tidur kalau kaya gini!!!??', Anya berteriak dalam pikirannya lagi. 'duuuhhh jantung degupnya pelan-pelan aja, jangan sampe ketahuan!!' Lama-lama hening dan Anya nyaman dan tertidur dalam peluk Xander.
Ketika Anya tertidur dalam peluknya, Alexander bangun dan memandang Anya lekat-lekat sambil membisikan.
"Istriku, aku akan terus menunggumu ingat lagi kalau kisah kita bahagia. Entah seberapa sering kamu bilang ini adalah mimpi, kasih sayangku akan menembus waktu untuk membangunkan dan menyadarkan kalau cerita hidup tidak selalu bahagia adalah bagian dari kenyataan.
"putra kita yang berada di surga pasti tau kasih sayangmu yang banyak ini dan ia pasti bahagia, semoga aku bisa menyembuhkanmu", mengecup kening Anya dan kembali tidur sambil memeluknya.
End
*****