Hai semuanya 🤗
Perkenalkan saya Star 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan Cerpen yang star buat... 😊
Atas like dan komennya Star sangat berterima kasih 🙏😇 Star tidak akan mampir kekarya Kaka jika tidak sempat membaca karna dengan membaca tandanya Star menghargai usaha Kaka sekalian... Jadi maaf kalau Star mampirnya telat ya... 😉
Dahulu kala, ada seekor burung puyuh yang sangat ingin bisa terbang tinggi di angkasa. Namun, saat ia meminta sang ibu untuk mengajarkannya ibunya malah menolak.
"Ibu... Kenapa ibu selalu menolak keinginanku untuk bisa terbang ke angkasa?" tanyanya merasa sedih.
"Anakku... Sejak dulu kita memang tidak dapat terbang bebas di angkasa seperti burung - burung lainnya," jawab sang ibu sambil membelai wajah anaknya.
"Tapi kenapa bu?" tanyanya seperti tak terima.
"Karna itu sudah menjadi takdir kita sebagai burung puyuh, sama seperti ayam." jelas sang ibu.
"Kenapa takdir kita begitu ya bu? padahal Yuyut sangat ingin bisa terbang bebas," keluhnya lagi.
"Kamu harus bisa menerima takdirmu sebagai seekor burung puyuh ya... Jangan sampai terlalu mengeluh soal takdir. Karna setiap makhluk hidup punya kelebihan dan kekurangannya masing - masing," nasehat sang ibu.
"Baik bu," jawabnya pasrah.
Suatu hari Yuyut sedang asyik bermain dengan teman - temannya di area sawah yang sudah kering.
Mata Yuyut tak berhenti menatap kagum puluhan burung yang sedang terbang menembus awan dengan riang.
"Yuyut! kenapa kamu bengong aja? mari main lagi bersama," ajak temannya yang menghancurkan lamunannya.
"Aku ingin bermain sambil terbang," ucapnya merasa sedih.
"Yuyut... Kenapa kamu sangat ingin terbang? padahal di udara lebih berbahaya dibandingkan didarat," tanya temannya merasa heran.
"Kamu tidak tau jika pemandangan diatas itu jauh lebih indah di bandingkan kita lihat dari bawah," beritahu Yuyut.
"Dari mana kau tau?" tanya teman - temannya.
"Karna aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," jelasnya yang langsung saja membuat teman - temannya terkejut.
"Ayo ikut aku," ajaknya dan hanya di ikuti oleh beberapa temannya, sedangkan sebagian yang lain memilih untuk melanjutkan permainan.
Kini Yuyut membawa mereka kesebuah pohon besar yang letaknya tak jauh dari kawasan tersebut.
Pohon itu dihuni oleh seekor ular raksasa yang sangat baik hati dan namanya adalah Luri.
"Luri," panggil Yuyut pada temannya itu.
"Eh kamu! sudah lama kita tidak bertemu ya Yuyut," ucap sang ular sambil mendesis.
"Iya," responnya sambil tersenyum.
"Ngomong - ngomong ada hal apa kamu kesini sampai membawa banyak temanmu segala?" tanya sang ular yang kembali mendesis usai berbicara.
"Oh... Ini... Aku ingin kamu juga membuat mereka merasakan gimana rasanya bisa terbang di udara," jelasnya.
"Baiklah! kalau begitu kemarilah," pintanya yang langsung dituruti oleh mereka.
Ada seekor burung puyuh yang bergetar ketakutan saat melihat sang ular.
"Kamu kenapa?" tanya temannya yang lain.
"Aku takut dimakan olehnya," jujurnya yang sontak saja membuat sang ular tertawa terbahak - bahak.
"Ya ampun... Mana mungkin aku si ular raksasa suka memakanmu yang hanya seekor burung puyuh kecil! itu sangat tidak memuaskan," ucapnya yang membuat getaran pada tubuh burung itu menghilangkan dalam sekejap.
"Benarkah?"tanyanya tak percaya dan sang ular hanya mengangguk sebagai jawaban iya.
"Baiklah kalau begitu! aku ikut," semangatnya dan sang ular hanya menggeleng - gelengkan kepala saat melihat tingkah burung puyuh yang satu ini.
Setekah semuanya berbaris menyamping dangan rapi, sang ular pun menurunkan ekornya kebawah lalu melilit mereka pelan.
Mereka dibuat seperti menaiki mainan perahu yang terus berayun diudara. Teriakan kecil penuh kegirangan membuat mereka yang awalnya merasa takut jadi ketagihan untuk terus melakukannya.
Setelah puas, mereka meminta sang ular untuk menurunkan mereka lalu mengucapkan terima kasih sebelum pamit kembali ke rumah.
Sang ular pun menjawab "sama - sama," dan memerhatikan punggung mereka yang kini mulai berjalan menjauh.
"Nah! bagaimana? seru kan bisa merasakan sesuatu seperti terbang di udara?" tanyanya pada teman - temannya.
"Iya seru banget..." ucap salah satu dari mereka.
"Aku sampai ingin naik lagi," sambung yang lainnya.
"Kalian aja ketagihan! kalau aku memang sudah niat banget ingin belajar terbang! tapi tubuhku benar - benar sedang tidak mendukung," keluhnya.
"Yaudah sabarin aja ya... Kami hanya berniat untuk bersenang - senang saja kok... Kalau bermimpi untuk terbang ke angkasa seperti mu kami masih tidak memiliki nyali," ucap salah seorang dari mereka dan yang lainnya hanya mengangguk membenarkan apa yang ia katakan.
"Huh! kalian selalu saja seperti itu," ambeknya merasa kecewa.
"Kami minta maaf," jawab mereka bersamaan lalu pamit untuk menuju kerumah mereka masing - masing.
Yuyut yang sudah tidak mempunyai tujuan memilih untuk pulang juga kerumahnya.
Sesampainya di rumah sang ibu hanya memandang sedih sikap anaknya yang akhir - akhir ini selalu saja bersikap murung, ia berharap anaknya bisa kembali ceria seperti biasanya.
Kini puyuh sudah membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang terbuat dari rumput ilalang yang menurutnya sangat nyaman.
"Aku sangat berharap ketika aku membuka mata esok, aku sudah mempunyai dua pasang sayang besar yang dapat membawa tubuhku terbang ke angkasa." harapnya lalu mulai memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Yuyut terbangun dari tidurnya dan melihat sang ibu yang sudah tidak ada lagi dirumah seperti biasanya.
"Ibu... Ibu..." panggilnya.
"Ada apa anakku? apa kamu tidak lihat kalau ibu sedang membersihkan atap rumah kita yang sudah penuh dengan dedaunan lain?" tanya sang ibu.
Yuyut hampir pingsan dibuatnya, bagaimana mungkin ibunya bisa terbang? bukannya ibunya pernah bilang jika burung puyuh tidak bisa terbang sejak dulu," herannya.
"Ibu... Kenapa ibu bisa terbang? bukankah kita kaum burung puyuh tidak bisa melakukan hal itu," tanyanya lagi pada sang ibu.
"Kamu bicara apa sih anakku? kita sejak dulu memang sudah ditakdirkan untuk bisa terbang," elak sang ibu membenarkan ucapan anaknya.
"Tapi ibu dulu pernah bilang begitu padaku," ucapnya mencoba mengingatkan.
"Bagaimana mungkin? sudah, lebih baik sekarang cepat kamu pergi ke sekolahmu untuk belajar terbang." suruh sang ibu.
"Apa? sekolah untuk belajar terbang! yang benar saja," herannya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sudah sana berangkat," suruh ibunya.
Yuyut hanya menurut, lalu berangkat untuk menuju ketempat tersebut.
Awalnya ia sempat bingung dimana lokasinya, beruntung ia bertemu dengan temannya yang juga ingin kesana.
Sesampainya disana mereka memulai pembelajaran yang pertama, lalu setelah diajarkan caranya mereka disuruh mempraktekkannya dari atas pohon besar.
Yuyut jadi bergetar dibuatnya.
"Ada apa denganku? bukankah ini yang sejak dulu kau inginkan," batinnya menyadarkan diri sendiri.
Kini giliran Yuyut yang mempraktekkan apa yang sudah diajarkan oleh gurunya.
Ia mulai melebarkan sayapnya perlahan, lalu mencoba untuk fokus setelah menghembuskan nafas pelan.
Setelah yakin, ia pun langsung terjun dari atas dahan pohon yang besar itu.
Ia sangat terkejut saat membuka matanya yang sempat tertutup.
"Aku terbang? ye... Akhirnya aku bisa terbang! yuhu... Terbang bebas! di angkasa," girangnya yang terus berputar kesana kemari sambil menikmati pemandangan indah dari atas.
Semua yang melihat hanya bertepuk tangan atas kehebatannya yang baru sekali mencoba langsung bisa.
Namun, sang guru mulai khawatir saat Yuyut malah terbang semakin tinggi, ia melewati batas yang dipinta oleh sang guru.
"Waw! ada burung kecil gendut! nyam - nyam! bisa kenyang aku hari ini," ucap si burung elang berukuran sedang.
Yuyut yang panik langsung terbang kesana kemari dan berniat untuk mendarat kembali ditempat pertama kali ia terbang.
Dengan sekuat tenaga ia terbang ketempat tersebut tapi sayapnya merasa lelah hingga ia jadi jatuh ketanah dan sang elang yang kegirangan dengan mudah membawa tubuhnya untuk di mangsa nantinya.
"Tidak..!! lepaskan aku! lepaskan aku," teriaknya ketakutan, tapi tak ada yang berani menolongnya saat tubuhnya sudah dalam cengkraman erat sang elang.
"Ternyata takdirku sebagai seekor burung puyuh yang tak bisa terbang itu jauh lebih baik dibandingkan bisa terbang dengan segala macam bahaya yang lebih beresiko, aku menyesal karna dulu tak mensyukuri takdirku! aku ingin kembali seperti dulu... Seandainya aku bisa kembali aku akan menjadi burung puyuh yang lebih mensyukuri takdirku sendiri," ucapnya sambil menangis deras.
Detik itu juga ia terbangun dari tidurnya, keringan dingin masih setia membasahi tubuhnya.
Ia mencoba melihat keluar, berharap kejadian tadi hanyalah mimpi semata, dan senyumannya semakin mengembang tak kala ia melihat ibunya sedang membersihkan atap menggunakan ranting kayu dan bukan dengan cara terbang.
"Syukurlah ibu membersihkannya dengan cara memakai ranting dan tidak terbang," senangnya.
"Apa yang kamu bicarakan anakku? sepertinya kamu sangat terobsesi untuk bisa terbang di angkasa. Bagaimana mana kalau ibu meminta tolong salah satu rekan burung ibu untuk mengajarkanmu, siapa tau nanti kamu-" belum habis ibunya berkata Yuyut langsung saja memotongnya.
"Tidak mau! Yuyut lebih suka jadi burung puyuh yang tidak bisa terbang! kalau gitu Yuyut pamit ya bu, mau main sama teman." ucapnya dan sang ibu jadi senang saat mendengar ucapan anaknya yang sudah menerima takdir kehidupannya.
Ia sangat bersyukur karna anaknya bisa kembali ceria, entah cara apa yang membuat anaknya menjadi sadar kembali ia tidak peduli sama sekali.
🍃 The And 🍃