Kakiku tiba-tiba gemetar. Mobil yang dikendarai sendiri telah aku parkir di sisi kanan gedung ini.
Keringat tiba- tiba mengucur dari keningku meski AC mobil belum aku matikan.
"Ah....aku sudah menduga semua ini. Namun aku harus kuat untuk melangkah," ucapku memberi semangat pada diri sendiri.
Tekadku untuk menghadiri undangan itu harus mengalahkan mentalku yang mulai layu.
"Aku harus kuat. Aku harus bisa mehanan sikap. Mereka berdua adalah temanku. Aku akan memberikan ucapan selamat pada mereka berdua. Semoga pernikahan mereka samawa mawadah dan warahmah," ucapku lagi.
Sebelum turun, aku memastikan penampilanku terlebih dahulu. Makeup tipis yang melapisi kulit mukaku yang putih masih terlihat rapi. Padanan krudung oranye yang aku kenakan memantulkan rona jingga di wajahku.
" Smart and beauty," begitulah komentar teman-teman yang kerap memuji penampilan.
Aku ingin tampil maksimal namun jauh dari kesan glamor. Aku ingin menunjukkan pada Mas Rafly bahwa aku baik-baik saja tanpa dirinya. Aku ingin terlihat tegar dan kuat meski rasa sakit ini masih membekas.
Dengan langkah pelan, aku turun dari mobilku. Suasana di parkiran sudah mulai ramai. Beberapa tamu undangan memberi salam padaku.
Mereka teman kantor mas Rafly yang sempat dikenalkan padaku. Sebagai rasa hormat, aku menundukkan badanku dan memberi senyum ke arah mereka. Satu dua diantara mereka ada yang menghampiri dan mengulurkan tangan ke arahku.
"Mei, sendiri aja?"
"Apa kabar, Mei? Lama ga ketemu," Sapan- sapan para tamu yang mengenalku.
Aku berusaha bersikap seolah aku baik-baik saja. Tujuanku hanya satu. Menghadiri dan memberi selamat atas pernikahan mereka. Selebihnya aku tak peduli. Aku tak ingin menafsirkan mimik mereka kala berpapasan dan menyapaku.
Hari ini, tepatnya 14 Desember 2019 adalah hari pernikahan mas Rafly. Waktu dan tempat yang ada dalam undangan itu persis sama dengan waktu yang telah disepakati oleh keluarga ku dan keluarga mas Rafly pada saat kami bertunangan tiga bulan yang lalu.
Namun ada yang berbeda dalam undangan yang aku pegang sekarang. Nama mempelai wanita yang tertera dalam undangan itu adalah Meryska, bukan Meirish.
Meirish tersenyum getir. Ia menyerahkan undangan itu pada panitia penerima tamu untuk ditukarkan door prize.
"Terimakasih, mbak," ucap Meirish ketika sudah mengisi buku tamu dan menerima cindera.
Setelah mengisi buku tamu dan memasukkan amplop di meja tamu, aku segera memasuki gedung yang di dekor dengan mewah dan elegan itu.
Langkahku begitu pelan, bukan karena menikmati aroma melati yang menebarkan harumnya di ruang ini. Namun aku berusaha menata hati, agar aku bukan seolah-olah orang yang tersakiti.
Dibeberapa sudut ruang terpajang foto-foto prewedding mereka. Aku melihat mas Rafly begitu gagah.
Aku begitu bangga, diri ini pernah menangis dipundaknya yang kekar dan berlindung pada senyumnya yang begitu teduh. Aku melihat senyum yang begitu bahagia pada pasangan itu. Hanya helaan nafas yang panjang yang mampu aku lakukan.
Dengan sedikit tarikan bibir yang meringis menahan tangis. Aku harus kuat. Aku sudah mengikhlaskan tunanganku untuk bersanding dengan wanita yang sanggup meregut dirinya dari pelukanku.
Aku tak lekas memberi salam pada mereka. Aku memandang sekeliling ruangan untuk mencari tempat yang nyamanan. Aku memilih tempat duduk di sudut ruangan yang jauh dari jangkauan kedua mempelai.
Aku melihat tim wedding organizer yang wara Wiri melayani tamu. Ruang perhelatan yang indah dan sangat berkelas. Ruangan yang lumayan besar hanya dihadiri undangan terbatas.
Ku dengar mas Rafly hanya mengundang keluarga dekat dan beberapa rekan kerja yang dekat dengan dirinya. Sedangkan dari pihak wanita, hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Jadi tidak lebih dari 300 orang yang ada di gedung ini.
Mereka tengah sibuk menikmati hidangan yang tersaji dan mendengarkan alunan musik. Beberapa diantara mereka kulihat sedang berfoto dengan kedua mempelai.
Aku duduk seorang diri. Untuk menghilangkan perasaan yang berkecamuk dalam diriku, aku mengambil satu mangkuk supazup yang terhidang tidak jauh dari tempat dudukku. Aku nikmati setiap suap yang masuk ke mulutku hingga aku siap untuk naik ke pelaminan dan memberikan selamat pada mereka
Beberapa lantunan lagu romantis sudah dibawakan dengan begitu manis oleh artis wedding organizer. Lagu melo bernuansa kekuatan cinta dipersembahkan sebagai hadiah pada mempelai yang tengah berbahagia.
Sesekali aku melirik ke arah pelaminan. Mereka memang begitu serasih. Pasangan yang begitu bahagia kala menerima ucapan selamat dari undangan yang datang.
Bagaimana mungkin mas Rafly bilang ia tidak punya perasaan apa-apa pada Meryska selain menganggap nya sebagai sahabat.
"Bulsyit," umpatku dalam hati
Yang ada ia hanya budak cinta yang tidak bisa bersikap tehadap perasaannya sendiri. Aku melirik dengan sorot mata yang menusuk hati dan menghujamkan ribuan kekecewaan.
Cukup lama aku menyendiri di sudut ruang ini. Hingga satu persatu diantara tamu yang hadir sudah mohon diri dan meninggalkan gedung yang mewah ini
Aku sadar, semakin lama aku di sini, semakin kejam aku melukai diriku sendiri. Baiklah....kuat tidak kuat, aku harus mengakhiri kemesraan yang aku saksikan sejak tadi yang cukup mencabik-cabik hati ini.
Aku segera berdiri dari tempat duduk yang memaku bokongku sejak tadi. Kurapikan gaun yang aku kenakan dan mengelap bibirku dengan tisyu agar tidak ada sisa makanan yang tertinggal di bibirku. Setelah menghela nafas berkali-kali, aku menguatkan diri menghampiri mantan tunanganku di pelaminan.
Aku ikut berbaris dengan undangan lainnya yang hendak memberikan ucapan selamat. Tidak terlalu panjang antrian, namun cukup membuat aku punya waktu untuk mengatur denggub jantungku.
Tiba giliranku naik ke atas pelaminan, aku langsung mendapati wajah penuh iba dari orang tua mas Rafly. Tampaknya mereka sejak tadi menyadari kehadiran ku seorang diri di pesta anaknya ini.
Tangan pria yang sempat aku panggil papa itu begitu kuat menggenggam tanganku. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Aku melihat matanya merah dan mulai merembes air mata.
Aku juga demikian, tak mampu berucap apapun ketika mengarahkan kedua tangan itu ke keningku. Aku mencium kedua tapak tangan itu sebagai bentuk rasa hormat pada orang tua yang pernah melamarku untuk anak laki-laki nya.
Cukup lama kami terdiam dan saling memandang, hingga pada akhirnya aku melepas senyum manisku dan membungkukkan badanku bergeser dari hadapannya.
Kini tiba giliranku bertatap dengan mama, wanita yang begitu dekat dengan mas Rafly. Tubuhku tiba-tiba ditarik kearahnya. Aku dipeluknya begitu erat. Tak henti-hentinya ia mengelus kepalaku dan mengucapkan kata maaf.
"Maafkan mama Mei, maafkan Rafly,"
Kata-kata itu terulang terus dari mulutnya dengan Isak yang tertahan.
"Iya, Ma,"
Tentu saja hal ini mengundang perhatian orang yang ada di sekitar pelaminan. Aku berusaha menahan diri, tidak ingin terbawa suasana. Aku tarik dengan pelan tubuh mungilku. Aku lepaskan pelukan yang begitu hangat itu dari tubuhku.
Kini aku ganti dengan ciuman di kedua belah pipinya. Aku tatap wanita paro baya yang berparas cantik dan lembut itu dengan senyuman manisku.
"Lupakan saja, Ma. Semua yang terjadi atas kehendak-Nya. Mei, baik-baik saja kok," sahutku lagi. Aku mencoba untuk bijaksana. Aku mulai menggeser langkahku setelah wanita itu tersenyum dan mengelus pipi kananku dengan lembut
Kini aku ada di hadapan Meryska. Wanita yang sudah mengambil tempatku yang sempat tinggal di hati mas Rafly. Wanita yang pernah meninggalkan mas Rafly dan menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Wanita yang senantiasa berkeluh kesah tentang suaminya yang sangat temperamen dan jarang di rumah pada tunanganku.
Wanita yang senantiasa menghabiskan waktu mas Rafly membalas chat via WA. Wanita yang kerap menampilkan sosok Mas Rafly sebagai malaikat tak bersayap yang senantiasa siap memberikan bahunya ketika ia dalam kegelisahan.
Wanita yang menganggap aku tak pernah ada dalam kehidupan Mas Rafly meski ia tahu kami sudah bertunangan dan menentukan hari pernikahan. Wanita yang dengan sikap cute, manis, dan kekanak-kanakan telah mengambil Mas Rafly dari sisiku.
Aku tak ingin mengingat itu. Aku berdiri dengan dagu terangkat. Aku ingin terlihat kuat dihadapan perempuan ini. Aku ingin ia tahu, duniaku tak akan hancur setelah ia mengambil tunanganku dari sisiku.
Aku mengulurkan kedua tanganku. Sekedar memberinya salam, tanpa pelukan juga tanpa ciuman. Biarkan dia berpikir tentang apapun. Aku hanya ingin tampil mewakili perasaanku. Aku tak ingin bersandiwara dihadapan wanita yang bernyawa namun tak punya jeroan ini. Hatinya telah terkontaminasi oleh hasrat untuk memiliki.
"Selamat, Ya," ucapku pelan.
Meski aku tak ingin berlama-lama memandang wanita ini, namun kaki ini begitu berat untuk bergeser. Bahkan mata inipun tak mampu melirik ke mempelai pria. Tiba-tiba dada ini begitu bergemuruh. Tangan yang begitu lemas terulur memberi selamat tiba-tiba menjadi begitu gemetar.
Bak robot saja tubuh ini. Aku menggeser langkah ini sesuai perintah hati. Kini aku berada tepat di hadapan mas Rafly.
Aku melihat wajah yang sejak tadi menebarkan senyum pada semua undangan yang datang, tiba-riba menjadi pucat.
Senyum itu tipis sekali. Aku juga ga mampu menggambarkan ekspresi wajahku kala itu. Kami hanya diam terpaku untuk beberapa saat lamanya.
Tangan ini pelan ku ulur. Ia menyambutnya dengan lembut. Aku merasakan tubuhnya yang dingin dan gemetar. Sorot mata yang kosong tertuju padaku yang sejak tadi tetap membisu.
Tak ada kata selamat keluar dari bibirku. Meski aku sudah menghapal untaian kata yang indah sejak semalam. Untaian kata itu terhapus seketika dari memori orakku. Tak ada yang bisa aku lakukan, kecuali terpaku, membisu, dan menatap nya dengan pandangan sayu
Aku mengenal pria yang ada dihadapanku, sebagai teman dan kemudian berani melamarku pada kedua orang tuaku.
Pria yang begitu tampan dan mapan, namun ia begitu selektif untuk berteman dengan kaum hawa. Pria yang sempat mengubah duniaku yang gila kerja pada sebuah mimpi untuk membina rumah tangga. Namun pria ini yang menghapus paksa lukisan indah yang pernah kami rancang bersama hingga tanpa bekas kecuali luka yang tersayat
Aku diam. Ia juga tak mampu berkata-kata apa-apa. Cukup lama, bukan sandiwara atau rekayasa. Namun hati ini menghendaki aku ingin menatapnya untuk yang terakhir kali. Menatap pria yang begitu aku inginkan untuk menjadi imanku.
Kini aku melihat ia bersanding bersamanya tepat di hadapanku. Aku memang mencintainya, tapi aku tak ingin menjadikan cinta itu menjadi buta. Aku tahu, aku kuat. Hingga aku tak mampu lagi mengingat apa yang terjadi setelah aku melepas tangan yang hangat itu dari genggamanku. Tiba-tiba saja pandangan ini menjadi gelap dan kedua kakiku tak mampu lagi menopang kakunya tubuhku dan kekarnya egoku.
Yang aku tau, ketika mata ini terbuka, ia benar-benar hilang dari pandanganku. Mereka benar-benar enyah dari hadapanku. Tak ada lagi senyum yang menahan tangis dari kedua orang tua Mas Rafly. Tak ada lagi senyum Meryska yang begitu bahagia di pernikahan nya yang kedua, juga tak ada tatapan kosong dengan senyum yang begitu tipis dari wajah mas Rafly yang begitu aku cintai.
Aku hanya mendapati pria dengan kumis tipis dan berwajah sedikit manis tersenyum kearah ku. Ia terlihat begitu elegan dengan jas putih yang melapisi kemeja hijaunya dengan stetoskop yang masih tersangkut di lehernya yang kekar.
Jakarta, 15/12/2019