Matahari telah menenggelamkan diri di ufuk barat sejak satu jam yang lalu. Cahayanya tidak lagi terlihat di belahan Bumi tempatku tinggal. Langit yang terang oleh cahayanya telah digantikan oleh gelapnya malam dengan jutaan bintang yang menghampar. Namun, dari banyaknya bintang yang berkelap-kelip di atas sana, bulan tetap menjadi favoritku. Selalu.
Sudah menjadi kebiasaanku untuk duduk di bangku kayu yang ada di halaman belakang untuk memanjakan mata seperti saat ini. Tidak hanya itu, juga untuk menunaikan hobi sederhana yang terasa begitu menyenangkan ini—mengamati langit malam berserta benda bulat yang dinamai bulan itu.
Aku merasa sangat beruntung karena bulan pada malam ini terlihat begitu cantik. Keindahannya begitu mempesona sampai-sampai aku tidak ingin mengalihkan pandangan barang sedetik pun.
Entah tepatnya sejak kapan aku mulai memiliki hobi untuk mengamati bulan. Mungkin saat pertama kali aku benar-benar memperhatikan kala bersantai tanpa sadar waktu di halaman belakang. Atau, bisa saja saat pertama kali Bunda menceritakan mengenai sebuah kapal yang terbang di langit kota untuk menyelamatkan anak-anak tidak beruntung dari kejamnya dunia. Katanya bayangan kapal itu akan terlihat di permukaan bulan. Aku selalu suka ketika mendengarkan Bunda menceritakan itu.
"Annelise, waktunya masuk! Kamu bisa terserang flu jika lebih lama berada di luar."
Suara tegas Ayah terdengar, membuatku sontak menoleh ke arah pintu di mana pria itu berada. Ayah masih berada dalam balutan kemeja dan celana Chino yang tadi pagi dikenakannya untuk bekerja. Itu menandakan jika pria itu baru pulang dari kantor.
"Bolehkah aku menetap sebentar lagi?" Aku masih belum ingin menyelesaikan hobiku untuk hari ini. Bulannya terlalu indah untuk ditinggalkan begitu saja.
"Ini sudah lewat dari waktu tidurmu, Ann. Kakakmu saja sudah tidur sedari tadi." Ayah menolak permintaanku, lagi-lagi dengan suara tegasnya.
Well, sebenarnya apa yang dikatakan Ayah sangatlah benar. Ini sudah hampir pukul sebelas malam, dan aku masih berada di luar hanya dengan sebuah selimut kecil yang menutupi tubuh atasku. Meskipun begitu, aku memiliki imun yang kuat. Aku tidak akan sakit semudah itu, apalagi disebabkan oleh udara malam yang setiap hari aku rasakan.
"Jika dalam hitungan kesepuluh kamu belum masuk, maka Ayah akan pastikan tidak ada melihat langit malam untuk tiga hari."
"A—apa?! Itu tidak adil, Ayah!"
"Kalau begitu sebaiknya kamu segera masuk, Ann." Setelahnya Ayah memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian terdengar suaranya yang mulai menghitung.
Aish! Aku terpaksa harus menghentikan hobiku untuk hari ini.
Namun, sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, aku melihat sebuah kapal yang terbang di atas langit. Tidak terbang terlalu tinggi sehingga aku bisa melihat dengan jelas ada anak laki-laki yang berdiri di balik kemudi kapal itu. Daniel, si anak laki-laki yang menggantikan Peter Pan setelah pria itu memilih untuk menikah dengan anak dari Wendy.
"Bahagia selalu kalian," ucapku dengan nada berbisik, lalu menutup pintu di balik punggungku saat hitungan Ayah mencapai angka delapan.
Sebagai rahasia kecil, selain menatap bulan, aku juga suka melihat kapal itu melayang di atas kota dan berhenti untuk menyelamatkan para anak kurang beruntung. Pastikan kalian bukanlah seorang pengadu.