Jika menganggap semua sebagai hal negatif, maka hal positif pun akan kamu anggap negatif.
Bukankah kebebasan juga perlu pengorbanan.
Dan enaklah jika bisa berbuat semaunya, tak perlu terikat oleh apapun.
Justru hidup tanpa keperdulian adalah jalan yang hebat bukan.
///Tersenyum
***** Selamat Membaca*****
Namaku Deon Aganta Ahendra, 19 tahun. Aku putra bungsu dari sebuah keluarga yang terbilang kaya.
Orang pasti akan menilai kehidupan ku dengan penuh kebahagiaan. Namun nyatanya aku tak sebahagia itu .
Orang tua ku menikah tanpa cinta (Pernikahan Bisnis), mereka sibuk dengan keegoisan mereka, sekalipun tak pernah memperdulikan ku, aku di pisahkan dengan satu- satunya saudara ku.
Aku yang tak begitu menonjol hanya mendapat perhatian dari pengasuh ku dan nenek dari ibu (sekarang ada di luar negri), sedangkan kakakku yang terlihat menonjol sedari kecil, dibimbing secara langsung oleh kakek dari ayah, untuk dijadikan ahli waris perusahaan.
Kakak amat di sayang oleh kakek dan selalu di banggakan oleh orang tua kami, aku memang pernah iri dan membencinya.
Tapi sekarang semua itu tak penting lagi, aku merasa telah menemukan tujuan hidupku dan aku juga bebas.
Aku bahagia dengan kehidupan ku yang tak terikat oleh aturan maupun keegoisan orang lain. Yah meski rasa kesepian memang tak terhindarkan.
____***____
Tepat 8 tahun lalu, masih teringat paras cantik nya, bola mata yang besar berwarna ungu, senyum manis yang memikat, dan rambut panjang yang di gerai indah dengan warna hitam pekat, juga sifat yang tegas tapi juga lembut, mengingatkan ku pada kucing kesayangan ku.
Seorang gadis yang sama, yang merubah pandangan ku di awal kami bertemu.
Kini ia duduk di samping ku, sebagai teman sekampusku.
Setelah 8 tahun lamanya, baru sekarang ini kami sah berteman dan mengakrabkan diri.
Kesan pertama gadis itu, membuatku kagum.
Hanya karna pandangan kami saling bertemu, ia dapat mengenaliku seakan tak pernah melupakan ku.
Senyum manis yang dulu ku lihat, kini bisa ku lihat setiap hari.
Nama yang Indah mencerminkan penampilanya, Shirene Arthia itulah nama gadis yang menjadi pendukungku dalam rasa kesepianku.
Yang hanya sekali bertemu, Ia dapat memahamiku.
Ia adalah putri dari keluarga yang tak begitu menonjol.
Kami semakin dekat, pertemanan yang terjalin antara aku, Shirene dan keempat teman kami yang lain. Membuat kami saling mengenali jati diri masing-masing.
Hingga suatu hari aku memberi Shirene sebuah julukan "Gadis Kucing" yang kuambil dari ingatan masa kecil, ia terlihat kesal dan membalasku dengan memberi julukan pada ku "Tuan Muda Menyebalkan" .
Kemudian kami mulai terbiasa dengan julukan masing-masing, hingga muncul rumor kami berpacaran.
Meski kami tak menghiraukan nya, rumor itu menyebar dengan cepat, meskipun siswa lain mengaggap kami berpacaran, tapi kami belum memiliki hubungan yang lebih dari teman.
*****~~~~~~~~~~*****
Sore hari ketika aku mengantar Shirene pulang.
Didepan pintu rumah, gadis kucing itu melambaikan tangan, dan tersenyum manis seperti kucing yang menggemaskan.
Disaat yang sama, aku merasa berdebar, hingga aku menyadari,
bahwa perasaan ini bukan baru pertama kali muncul, ini juga bukan yang kedua kalinya, aku benar-benar jatuh hati padanya sejak 8 tahun lalu.
///Maluu (ngeblus dulu)
Ketika aku sampai di rumah. Suara yang jarang terdengar memanggil ku, suara dari orang yang tak pernah memanggilku bahkan menyebut nama ku. Aku sama sekali tidak menyukai suara orang ini.
Aku terdiam mengacuhkan suara itu, suara itu semakin dekat, tiba-tiba ada tangan yang meraiha pundaku dan aku dipaksa berbalik olehnya.
Seorang lelaki yang selama ini tak pernah pulang, berdiri di depan ku dengan tampang kesal, menatap ku tajam. Orang itu adalah ayah ku.
Ia mulai mengatakan niatnya, ia mengatakan agar aku tidak dekat dengan sembarang gadis, dan mempermalukan nama keluarga.
(Akibat rumor yang menyebar)
Seketika terlintas dibenakku.
Apa- apaan maksudnya?, keluarga!, yang bener saja!. (Deon sebenernya ga berfikir punya keluarga)
Tak sabar mendengar omong kosong itu, amarahku semakin memuncak, hingga aku mulai mengatakan banyak hal tanpa melihat situasi.
Aku berkata, bahwa aku bukan anggota keluarga ini, mereka hanya memberi uang tanpa kasih sayang, mereka tak pernah menganggapku ada, dan terus mengacuhkan ku selama ini, mereka juga tidak berhak akan semua yang menyangkut kehidupan ku.
Setelah mengatakan semua itu, lelaki itu terdiam.
Tak tahan dengan situasi itu aku pergi keluar dari rumah,
saat ingin membuka pintu mobil, sekali lagi ada yang memanggilku.
Kali ini aku merasa harus berbalik, karna aku mengenali suara itu.
Yah seperti dugaan ku, wajah yang mirip denganku, dengan suara yang sedikit lebih berat, yah dia orang yang kehidupanya berbanding terbalik dariku, kakak ku satu- satunya saudara ku yang dipisahkan dariku selama ini.
Kakak menghampiri ku dan memeluku, ia terlihat mengkhawatirkan ku. Aku cukup rindu denganya, tapi...
Aku mengatakan bahwa aku baik- baik saja.
Aku melepas pelukanya dan tersenyum, aku pergi masuk ke dalam mobil, kakak terdiam dan melihat ku pergi.
Aku memutuskan untuk menginap di rumah teman ku, yang bernama Keith.
(//teman baik Deon//)
Sampai esok hari aku pergi ke kampus dengan baju yang dipinjami Keith, dan tenyata kelas saat itu kosong, karna dosen tidak hadir.
Ketika kelur dari kelas, di arah berlawanan, ada Shirene memangil ku, senyum ceria yang manisnya membuat mood ku kembali.
Shirene mengajak ku pergi makan, karena kelas nya juga sedang kosong.
Seakan menghibur ku, ia terus mencari topik pembicaraan saat berjalan, akupun berfikir apakah aku ini mudah ditebak ya oleh wanita.
Sesamapainya di cafe, aku benar-benar merasa kacau, karna perasaan ku yang tak menentu. Semakin dekat denganya, aku semakin menyadari perasaan ku.
Dan tanpa ku sadari aku mengucapkan kata yang selama ini ku pendam.
Kata "Aku Menyukaimu... ", yang selama ini ku pendam terlontar dengan begitu mudahnya, saat sadar akan apa yang ku katakan, aku tak mampu menatap Shirene (Menunduk), meski ahirnya aku mencoba menatapnya perlahan (menengok). Dan aku justru kaget melihat ekspresi Shirene yang terlihat merona sambil menatap ku, pada ahirnya aku mencoba menjelaskan tetapi justru ucapanku semakin tidak bisa di mengerti.
(Definisi Salting ///plak)
Disaat yang sama, Shirene justru tertawa lepas, sehingga membuatku bingung di saat itu juga.
(Deon terlihat konyol)
Sambil tertawa Shirene berdiri dan berisik ditelinga ku, ia berkata "Aku juga Menyukai Deon kok...xixi", dan berjalan ke toilet.
(Deg) mendengarnya aku sama sekali tak bisa berkata-kata, terdiam dan masih tidak percaya bahwa perasaanku terbalaskan. (Otak Loading kah π_π)
Pada hari yang sama kamipun memutuskan untuk berpacaran, meski kami masih sedikit canggung.
(Penulis Nyaa: Lu yang canggung Deon, Shirene mah happy aja)
Hallo semua :)
Saya xiuoVia minta maaf jika ada kekurangan atau kesalahan.
Jujur ini pertama kali nyoba post cerpen, jadi mohon kemaklumanya >_< , dan kalo ga suka gpp dan Mohon Maaf , tapi klo ada yang suka, aku bakal lanjut part duanya dan Terima Kasih ^_^.
(///saya biang typo)
Sekali lagi Terima Kasih yang sudah membaca (⌒o⌒)....