"Kenapa kamu bawel sekali, Ana?" Dave menarik kedua pipi Ana sembari memicingkan mata.
"Auhh ... sakit, Dave." Ana berteriak kesakitan, tapi tak bisa melawan Dave.
"Makanya jadi anak ga usah bawel!" Kata Dave si mulut pedas, namun sayangnya tampan hingga Ana tak bisa berpaling darinya.
"Iya, aku ga bawel. Tapi lepasin dulu!"
Akhirnya Dave melepaskan pipi Ana tang sempat ia tarik hingga pipinya melentur seperti karet.
Cup
tiba-tiba Ana mencium pipi Dave sambil tersenyum memandang wajah pria di depannya. "Itu hukuman untuk mu karena sudah sembarangan menarik pipi ku." Dave menatap tajam Ana dan bersiap memarahi karena sudah berani mencium pipi nya.
Namun, saat menatap mata teduh itu ia mengurungkan niatnya. Dave tidak tega melihat tatapan cinta Ana yang ditujukan padanya.
Akhirnya Dave menarik tubuh Ana untuk dibawa ke dalam dekapan. "Ga usah bawel, jadilah gadis yang baik dan penurut." Dave mengelus punggung Ana dengan gerakan pelan.
Ana yang diperlakukan seperti itu tentu sangat bahagia, akhirnya Dave memperlakukan nya dengan baik.
"I love you, Dave." Kata Ana yang terdengar seperti bergumam karena suaranya tertahan oleh delapan Dave, hingga membuat kepala Ana tenggelam di dada bidangnya.
"Hmm... " Dave hanya bergumam menanggapi ungkapan cinta Ana. Dagunya ia letakkan di atas kepala Ana sembari menghirup dalam-dalam aroma rambut Ana yang begitu menyeruak dalam Indra penciuman nya.
Ana mendongakkan kepala hingga membuat kepala Dave tegap seperti semula. "Apa kamu tidak mencintai ku, Dave?" Tanya Ana seraya menatap manik mata Dave yang terlihat begitu meneduhkan dan menenangkan.
Dave menaikkan sebelah alisnya "Apa aku terlihat tidak mencintai mu?"
Ana menggeleng, karena yang ia lihat, Dave sangat mencintai dirinya meski tak pernah mengungkapkan rasa cintanya pada dirinya.
"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?" Dave menangkup kedua wajah Ana.
"Aku hanya ingin pengakuan, Dave." Kata Ana sembari meraih tangan Dave yang ada di pipi nya.
"Apa perlakuan ku selama ini kurang? hingga kau masih menginginkan pengakuan?"
Ana menggeleng cepat. "Tidak, bukan begitu, Dave. Tapi, aku hanya ingin memastikan karena aku tidak ingin kecewa." Ana menundukkan kepala.
Dave menghela nafas berat. "Baiklah, jika kau ingin pengakuan ku. Maka dengarkan ini baik-baik." Dave menghirup nafas panjang kemudian melanjutkan ucapannya.
"Aku, David Sanjaya Grey sangat mencintai Anastasia Laurencia Lemos, putri dari Dad Alexander. Aku ingin hidup bersama dengan mu, selamanya. Hanya kau lah, satu-satunya wanita yang menempati tahta tertinggi di hati ku selain mommy." Dave meletakkan telapak tangan Ana tepat di dada sebelah kirinya.
"Apa kau mengerti?" Tanya Dave lagi karena tidak mendapati respon dari Ana.
Ana hanya diam sembari menatap manik mata Dave dengan tatapan sulit diartikan.
Tanpa diduga, Ana langsung memeluk erat tubu Dave, di detik itu pula Ana menangis di pelukan Dave.
"Kamu jahat, Dave!" Ana memukuli dada bidang Dave sembari menangis haru diperlukannya.
"Iya, aku mencintaimu." Balas Dave, sembari mengusap kepala Ana dengan sayang.
"Kami jahat hiks ... " Tangan Ana masih bergerak memukuli dada bidang Dave meski pelan.
"Tapi, aku mencintaimu." Sahut Dave lagi. Dan itu berhasil membuat Ana semakin dibuat meradang.
"Ishh ... nyebelin!" Ana memberangut kesal sembari mengubah posisi duduk nya menjadi tegak,emarik kepala nya yang ada di dekapan Dave.
"Tapi kamu cint kan?" Dave sengaja menggoda Ana. Ia tertawa geli saat melihat wajah Ana semakin masam saat dirinya manoel dagu nya.