Jo memandang ke arah bulan malam ini, sinarnya menurut Jo sangat indah, berbeda dengan malam sebelum-belumnya.
Itu terbukti dengan pohon uang yang ada dihadapannya, daun uangnya rontok dan berkembang lebih cepat dari malam sebelumnya.
Ia menaikan kaca mata khususnya ke kepala, mengusap sudut matanya yang berkaca, "Monika" Gumannya lirih.
"Monikaaaaanya Mamiiiiii" jeritan kencang lalu berlari memeluk pohon uang itu.
Dicatatannya yang telihat dikacamata khususnya, Monika sangat senang malam ini.
"Mamiii cinta kamu nak!" Serunya. Amber hanya mengeleng. Melihat tingkah partner teamnya itu. Menempel erat pada pohon dengan jas putih lab yang masih melekat pada tubuhnya.
Padahal waktu kerjanya sudah selesai, sebenarnnya DarkHole Lab, memiliki jadwal layaknya office hour, nine to five, tapi jika masih ingin meneliti di lab pun diperbolehkan.
Jangan sampai ada peringatan dari Melvra, si komputer utama yang mengamuk. Bahaya! kau akan diblokir untuk tiga hari kedepan tanpa fasilitas DarkHole.
"Mamiii sayang kamu nak, mami buat ini, semua untuk kamu nak" Jo mengelus pohon dengan kulit kasar itu.
"Nanti kamu mau Mami dongengin apa?" Sambil membuka ipadnya, mencari cerita dongeng manca negaranya.
"Atau kita marathon movie time! Gimana??" Tawar Jo.
"Nanti Mami pasang tenda? Melvra tenda please!"
"Yes Madam"
Skriiiiitt...
Kret...
Kret...
Skriiiiittt...
Jlek...
"Thanks Melvra" Ucap Jo, tenda besar dengan kasur tidur juga selimut empuk, dan bantal empuk terpasang tak sampai 10 menit.
Tak lupa Melvra memunculkan makanan ringan untuk cemilan sang madam. Beberapa kantong keripik kentang, pizza, popcorn juga cola.
"Aku mau susu coklat hangat Melvra juga marshmallow" Pedro datang dengan marshmallow lengkap dengan biskuit juga panggangan.
Jo menyengir melihat, Camy datang setelahnya.
"Kau mau camping dan tak mengajak kami?"
"Guys Jo camping di taman tengah, ayo yang mau ikut" Melvra si komputer pintar itu, menyebarkannya lewat pengeras suara yang sampai hingga kamar dorm.
Tak lama Amber, Wina, dan Willow datang mereka telah mengenakan baju tidur masing-masing.
"Aku hanya menengok sebentar, tapi sisakan aku coklat hangat dan tumpukan marshmellow, coklat, selai kacang dan biskuit itu" Riby masih mengenakan jas lab yang ada beberapa bercak darah. Melihat tumpukan s'more yang menggoda perutnya.
"Kau mandi sana, baumu sama seperti karya eksperimenmu" Wina menutup hidungnya, wangi anyir menguar dari tubuh Riby memang.
"Berapa hari kau tak mandi memang?" Tanyanya lagi.
Riby mengendusi tubuhnya, lalu mengerucutkan mulutnya, "Entah 3 hari mungkin"
Riby pun ngeloyor pergi dari taman tengah.
"Aku tak gabung guys, besok jadwal penuh dan mau membabat si botak Balton, Maaf" Bharat video call pada Melvra.
"Druw mana?" Pertannyaan Willy, sambil memanggang sosis yang tadi ia pesan dari Pedro.
"Madam Druw sudah tidur, madam, jadwalnya padat hari ini pada 3 rumah sakit" Melvra memperlihatkan jadwal Druw. Yang lain mengangguki.
"Nonton apa kita?" Amber memilih film pada ipadnya.
"Horor dong!" Riby datang dengan rambut basahnya.
"Ck! Ini bocah, selalu---"
"Pedro hair dryer" Wina mendekat pada Riby yang sibuk mengunyah sosis milik Willy.
"Berapa hari tak makan?" Tanya Amber yang memberi mie cup pada Riby. Riby menyengir. Penuh terima kasih.
"Kemahreenn mhanhan" Riby kepanasan. Ia terus mengunyah, Willow memberikan beberapa sosis yang telah ia bakar.
Film horor jadi pilihan pertama mereka. Jo tidur di bawah pohon. Layar besar sedang memutar film. Amber sibuk dengan keripik kentangnya.
Camy sudah tertidur, dengkuran halusnya terdengar. Ia tidur disamping Jo. Riby masih mengunyah, sekarang sedang menikmati se-ember es krim yang ia letakkan di atas perutnya setelah menghabiskan seloyang pizza peperoni ekstra keju mulur.
Wina menyebutnya perut kadut. Karena makan banyak tapi tak gendut.
Dan mereka tepar ditempat sebelum satu film mereka selesaikan.
Quality time yang tak terencana ini membuat DarkHole Lab terasa lebih hangat.
"Hai monika Mami suka seperti ini, kehangatannya samapi didada, Hoooaaamm..." Jo mengelus pohon uang yang ia namai Monika itu. Melihat pada teamnya dengan senyuman sebelum kantuk merenggutnya.
Keesokannya mereka yang tetap tidur disitu akan terkubur lembaran dolar hijau.