---
Sinar mentari muncul ke peraduannya, menghantarkan rasa hangat di kulit. Sinar yang mampu membuat harapan baru bagi para tumbuhan untuk ber- fotosintesis, setelah hujan yang mengguyur tiada henti selama beberapa hari kemarin.
Cuaca sangat cerah di luar sana. Namun suasana berbeda tergambar pada sebuah rumah yang di dominasi warna abu-abu itu. Hening, dan terasa dingin. Hanya terlihat seorang pria paruh baya dan gadis cantik di depannya, yang sedang sarapan.
"Hari ini hasil ulangan mu keluar kan?" Pria itu membuka obrolan.
"Ingatlah! Jangan sampai nilaimu dibawah 90!" Lanjutnya penuh penekanan.
"Iya ayah, doakan saja." Ucap gadis itu mengulas senyum.
"Jika otakmu pintar, maka nilaimu juga akan tinggi." Sarkas pria yang dipanggil Ayah itu.
Si gadis hanya menunduk sambil mengaduk makanan di depannya saat mendengar kalimat sarkas dari sang Ayah. Itu sudah biasa baginya, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.
Melody Ayla. Gadis berdarah Jerman-Indonesia yang selalu tersenyum manis, membuat siapapun candu akan senyumannya. Senyum yang mampu mendeskripsikan dunia. senyumnya bagaikan bulan purnama di atas sana, -tanpa tau bahwa sang bulan tak bisa bersinar sendirian, mentari pagi selalu membantunya. Namun, jika sang mentari tak mau membantu sang bulan bersinar - apa yang akan dikatakan orang-orang?
---
Menatap keluar jendela, ia memandangi beberapa anak laki-laki sedang bermain basket. Ayla melamun beberapa saat, pikirannya mengulang memori menyakitkan yang terjadi tiga tahun yang lalu.
----∆----
'Ibu pasti akan sangat bahagia jika kelak melihatmu berdiri di altar dengan tambatan hatimu.'
'Putri ibu pasti bisa! Semangat ya!'
'Semoga kau selalu bahagia, ay'
"Ibu!!"
"Ibu bangunlah! Katakan ini hanya lelucon untuk ulang tahun ku!"
"Ay, mohon Bu.... Katakan ini hanya lelucon, bukankah ibu mau melihat ay menikah? Ayo bangun, Bu!"
//Plak!//
"Semua terjadi karena ulahmu! Kau sengaja membunuh istriku hah?!"
"A-ayah..... dia juga ibuku, apa yang kau katakan...?"
//Bugh! //
'Akhh...'
"Kenapa tidak kau saja yang mati, kenapa harus istriku!!"
"Ma-maaf..."
//Pyarr!//
"Aku tidak butuh maafmu, dasar pembunuh!"
Gadis itu terduduk lemas dengan air mata yang terus berderai. Mencoba menerima takdir yang seperti tak mau berbaik hati. Pikirannya berkecamuk, memikirkan berbagai asumsi-asumsi yang sebenarnya tak berdasar.
'Aku tidak butuh maafmu, dasar pembunuh!'
'Aku tidak butuh maaf...'
'Dasar pembunuh'
'Pembunuh'
Kata itu terngiang di kepalanya, membuatnya semakin sakit. Benarkah itu? Pembunuh? Dan parahnya lagi, Ayahnya sendiri yang mengatakan itu padanya. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, mencoba menghalau pusing yang mendera.
Gadis itu bangun lalu tertawa dengan lepas -tepatnya tertawa miris. Benar, dia seorang pembunuh. Ia membunuh ibunya sendiri. Andai, ia tak menerima ajakan temannya waktu itu. Andai, ia tak pulang malam saat itu. Andai, ia mengabari ibunya lebih awal. Andai.... Andai..... Dan andai.... Itu semua hanyalah andai karena semua sudah terjadi, itu semua hanya andai tanpa ada pengulangan tragedi.
Ingin sekali Ayla menyalahkan takdir, tapi toh dia siapa berani menyalahkan takdir? Dia bukan Tuhan. Pada akhirnya, semua sudah dituliskan dalam buku kehidupan.
----∆----
Seseorang menepuk bahunya pelan membuatnya tersentak juga lamunannya buyar seketika. Ayla tersenyum saat mendapati bahwa itu adalah sahabatnya.
"Ada apa?" Tanya sang sahabat.
Ayla yang mendapatkan pertanyaan itu hanya mengernyit tak mengerti.
"Hahaha, maksudku kamu kenapa?" Ulang nya lagi.
Ayla menghela, sepertinya dia ketahuan lagi. Gadis di depannya itu tak bisa dibohongi. "Ga papa, Vi." Balas Ayla sambil tersenyum lebar.
"Beneran? Awas kamu! Kalo ada apa apa cerita aja Ay, ada aku disini." matanya menatap tajam tepat pada kedua iris Ayla, ia hanya mengangguk.
Alivia atau biasa dipanggil Via. Sahabat Ayla satu-satunya itu sangat pengertian, bawel dan sedikit cerewet. Mereka bersama sejak tahun pertama menginjak di SMA ini. Satu hal yang membuat Ayla takjub akan sahabatnya ialah, Via selalu tau apapun yang ia sembunyikan, ia selalu tau hanya dengan menatap matanya.
---
Bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu, namun Ayla masih terduduk di bangkunya dengan Via yang menatapnya khawatir.
"Ay, kamu ga papa? Kita ke rumahku aja ya?" Tawar Via menatap sahabatnya lekat-lekat.
Ayla terdiam. Pandangannya tak lepas dari kertas yang dibagikan guru beberapa saat lalu -menampilkan angka tujuh dengan sebuah lingkaran di sampingnya. Kemudian ia menatap keluar jendela, menerawang segala hal buruk yang terus menghantui pikirannya.
"Gelisah, ga tenang. Kamu pulang aja ga papa." Lirih Ayla menurunkan pandangannya.
"Ay...."
---
//Cklek//
"Darimana aja kamu?" Suara bariton sang Ayah menyapa rungunya, membuatnya pasrah jika hari ini ia harus ke dokter (lagi).
Pandangannya menelisik tubuh sang putri, ia mendapati sebuah kertas yang berada di genggaman anaknya. Kemudian tangannya menjulur, memberi isyarat agar kertas itu di berikan padanya.
Ia menerima kertas itu dengan pandangan yang tak lepas dari wajah cantik putrinya -menatapnya tajam. Beralih kepada kertas di tangannya, pria itu mengernyit tak suka dengan angka yang tertulis di atasnya.
"Apa ini? Tujuh puluh, lagi?!" Bentak Ayahnya, membuat Ayla memejam matanya kuat.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, "Belajarlah yang benar! Gunakan otak mu itu, dasar brengsek! " Lanjutnya dengan suara tinggi sebelum membalikkan badannya lalu berjalan menjauh.
Ayla mengepalkan tangannya, matanya menggenang penuh dengan air mata. Ia selama ini diam saja, namun untuk kali ini dia mau melawan -mencurahkan segala isi hatinya.
"Apa nilai itu lebih penting dari segalanya?" Lirihnya pelan, namun masih bisa di dengar oleh sang Ayah.
Pria itu terdiam di depan tangga, kemudian menoleh untuk melihat presensi sang anak.
"Apa yang-"
"Jika diberikan pilihan, Ayah lebih memilih nilai sempurna atau nyawaku?" Ayla mengangkat pandangannya, hazel itu bertemu dengan netra legam di depannya.
"Lebih baik kamu pergi ke kamar dan-" lagi-lagi ucapannya terpotong oleh sang anak.
"Aku bertanya Ayah! Sebegitu tidak berharganya 'kah aku?!" Bibirnya bergetar, tangannya semakin mengepal erat.
"..."
"Jika memang begitu maka aku -ah maaf maksudku, saya akan dengan senang hati pergi dari sini." Ayla menahan isakannya untuk tidak keluar, air matanya sudah tumpah sejak tadi.
Ayla membalikkan badannya lalu melangkah keluar dari pintu rumahnya, sebelum suara sang Ayah menghentikan langkahnya.
"Sayang...." Lirih pria itu, hatinya entah kenapa sakit saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut putrinya.
"Maaf Tuan Jevan yang terhormat, saya bukan kesayangan anda lagi. Saya bukan putri anda" Ucap Ayla dengan suara dingin yang membuat siapapun takut.
Jevan yang mendengar kalimat itu sangat terkejut, matanya memanas, "Ay....." Panggilnya lagi.
"Siapa itu yang anda panggil Ay? Maksudnya putri anda? Sekali lagi saya tekankan, saya bukan putri anda."
"Saya hanyalah orang asing yang berani membunuh istri anda,-nyonya Anindita. Oh iya satu lagi, Ayla sudah mati, aku yang membunuhnya." Lanjutnya. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia pergi dan hilang di balik kegelapan malam.
~~~~✓~~~~
Satu bulan berlalu sejak kejadian itu. Jevan ingin sekali mencari putrinya dan meminta maaf, namun egonya lebih besar. Ia menyibukkan diri untuk melupakan apa yang telah terjadi satu bulan lalu.
Menutup layar laptopnya lalu merebahkan diri di atas kasurnya, Jevan memijat pelipis lelah. Sejak satu minggu yang lalu ia disibukkan dengan projek yang di dapatnya, keuntungan yang besar membuatnya bekerja keras. Siapa yang tak mau keuntungan? Semua orang pasti mau, karena nyatanya manusia diciptakan dengan hasrat memiliki.
//Tring! Tring!//
Jevan berdecak sebal, siapa yang menelpon hampir tengah malam seperti ini? Tak taukah ia bahwa ini saatnya mengistirahatkan raga? Akhirnya dengan langkah berat, Jevan mengangkat telepon itu dan suara seorang wanita menyapa pendengarannya.
"Halo?"
"....."
Jevan terkecat di tempatnya, tubuhnya kaku seketika.
"Di..dimana?"
"....."
//Brak!//
Menutup pintu dengan keras menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga, Jevan segera melajukan mobilnya dengan tergesa menuju ke sebuah gedung putih yang sangat ia benci.
---
Berlari bagai kesetanan di sepanjang koridor membuat beberapa pasang mata menatapnya heran, ia mengabaikannya. Tujuannya hanya satu dan itu adalah-
"Via!!" Teriak Jevan ketika mendapati gadis itu di depan sebuah kamar rawat.
"Om..." Ucap Via dengan keadaan yang berantakan, matanya sembab dan- Jevan semakin gelisah, -baju anak itu penuh darah.
"Apa yang terjadi?! Katakan padaku apa yang terjadi!!" Mengguncang tubuh kecil Via, ia dihantui rasa penasaran.
//Cklek//
Seorang perawat baru saja keluar dari ruang rawat, diikuti oleh seorang dokter wanita ber-name tag Fira, -yang ia tau bahwa itu adalah ibu Via. Fira tersenyum tipis lalu mempersilahkan Jevan untuk masuk ke dalam kamar rawat.
---
Jevan dengan perlahan melangkahkan kakinya, ia bisa melihat anaknya terbaring dengan mata indah yang masih setia menutup. Berbagai macam alat terpasang pada tubuh mungil putrinya membuatnya meringis, bunyi EKG di sampingnya juga sangat menggangu -membuatnya Deja vu.
Wajah cantik yang selalu tersenyum itu kini tak lagi memancarkan kebahagiaan, hanya ada semburat lelah disana. Jevan merasa sangat bersalah telah memperlakukan putrinya dengan seenaknya. Ia menangis disana sambil menggenggam tangan kecil itu, tak peduli ia diperhatikan oleh tiga orang tadi yang sudah berada di sampingnya.
Sepuluh menit berlalu. Jevan tercekat ketika suara EKG itu berbunyi nyaring, menampilkan garis lurus yang sangat ia takuti. Garis lurus yang membuatnya seakan kehilangan jiwa.
Via yang berada di dekatnya langsung merengkuh, memberinya kekuatan. Menepuk pelan punggung Jevan, mengucapkan kata-kata penenang yang semoga bisa membuatnya bangkit.
Catatan kematian.
Nama pasien : Melody Ayla
Tanggal kematian : 03 November 20xx
Jam kematian : 23.55 Wib
Penyebab kematian : Pendarahan banyak di kepala
"Ay...." Lirih Jevan memanggil putrinya.
Via menepuk bahu Jevan perlahan membuatnya menoleh, melihat presensi gadis di sampingnya. Via mengambil sesuatu lalu memberikan sebuah kotak beludru berwarna biru kepadanya.
"Om... selamat ulang tahun..... dari Ayla." Bibir gadis itu bergetar hebat, ia kemudian berlari keluar setelah memberikan apa yang memang harus diberikan.
Jevan menatap sendu kotak itu, ia menoleh -menatap Dokter wanita di sampingnya. Fira yang mendapat tatapan itu hanya tersenyum lalu mengangguk.
Dan perlahan ia membuka pelan kotak itu, kotak biru yang berisi sebuah jam tangan dengan sebuah kertas yang terlipat rapi.
Pria itu menunduk, merasa menyesal telah memperlakukan putrinya dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaan nya. Kemudian, ia mengambil kertas itu lalu membacanya.
Ayah....
Selamat ulang tahun!
Mungkin apa yang Ayla lakuin selama ini belum bisa membanggakan Ayah.
Maaf, Yah...
Mungkin Ayla memang tak pantas hidup.
Mungkin Ayla hanya sampah yang perlu dibuang, -mau ditimbun dengan tanah pun pasti perlu banyak waktu untuk terurai.
Ayah.....
Ayla bakal pergi sesuai keinginan Ayah.
Dengan begitu Ayla gak akan nyusahin Ayah lagi.
Terima kasih untuk semua yang Ayah berikan.
Terima kasih untuk waktu yang Ayah luangkan.
Ayah jaga diri baik-baik ya?
Ayla sayang Ayah....
-selamanya dan akan tetap seperti itu.
Cencerely
Melody Ayla Jevantara.
Jevan tak kuasa menahan air matanya, bibirnya bergetar begitu hebat, tangannya gemetar. Pria itu mengingat saat bagaimana ia menyakiti putri kecilnya tanpa rasa kasihan, bahkan lenguhan serta rintihan kecil Ayla memutar di otaknya bak film hitam-putih.
Ia menyesal, sangat menyesal. Kenapa ia begitu kasar pada Ayla? Kenapa ia selalu meninggikan suaranya di depan Ayla? Apakah luka yang ditorehkan sehari bisa merusak kebaikan selama belasan tahun? Egonya terlalu besar, bahkan sampai menyakiti anaknya sendiri.
Jevan berdiri lalu mengecup kening putri yang selalu tampak kecil bagi dirinya itu untuk yang terakhir kali.
-Fin-
`Percayalah luka itu memang tak kering, namun apakah luka yang tak terlalu besar itu mampu membuatmu menyakiti seseorang dengan meninggalkan bekas luka juga?`