"Kenapa kamu selalu menggambar bulan?"
"Karena namaku bulan."
Dulu saat berada di sekolah dasar aku selalu di tanyakan kalau jam seni budaya, kenapa aku selalu menggambar bulan bahkan di siang hari.
Jawabanku selalu sama, karena namaku Bulan dan aku sangat menyukainya, itu nama yang di berikan oleh almarhum papaku.
"Bulan Sabita"
Itulah namaku. Semua orang memanggilku Bulan yang malang.
berusia lima tahun, kemudian setelah dua tahun menjanda ibuku menikah dengan papa tiriku. Baru menginjak tiga tahun pernikahannya, mamaku meninggalkan papa tiriku, lari dengan mantan pacar SMAnya.
Dan aku?
Aku si tinggalkan bersama papa tiriku, begitu saja.
Aku di besarkan oleh papa tiriku yang bahkan tak punya hubungan darah denganku.
Apakah nasibku begitu tragisnya? Sehingga setiap orang aku menatapku iba jika tahu kisahku ini?
Tanpa mama aku baik-baik saja, papa membesarkanku dengan baik seperti puteri kandungnya bersama dengan kakak tiriku, Langit yang selisih 5 tahun umurnya dariku. Aku cukup dekat dengan kak Langit, dia sangat posesif melindungiku. Saat dia masih di bangku SMA dan aku di SMP, dia akan menghajar siapapun yang mengangguku, bahkan laki-laki tak ada yang berani mendekatiku.
Sebagai atlet taekwondo, siapa sih yang berani dengan kak Langit jika dia sedang murka.
Sekarang aku sudah beranjak remaja, usiaku 17 tahun dan sudah berada di kelas 12 SMA. Kak Langit kuliah di kota yang jauh dari kota tempat papa dan aku berada.
Dan sekarang aku sedang berpacaran dengan Bintang, teman sekolahku.
Aku sangat memuja Bintang, mantan ketua osis sekolah kami yang tampan. Dia terkenal di taksir oleh banyak cewek dan selama aku berpacaran dengannya aku seringkali mendengar rumor dia memiliki pacar yang lain.
Tapi, aku tak percaya itu. Aku hanya percaya apa yang di katakan Bintang saja.
"Bulan, kita putus..." Hari ini, di saat pesta perpisahan sekolah, Bintang memutuskan hubungan denganku.
"Putus?" Aku melongo seperti orang bodoh.
"Ya, putus."
"Kita ada masalah apa? rasanya kita baik-baik saja?"
Aku masih bingung dan tak mengerti.
"Sebenarnya, aku telah lama ingin putus denganmu, cuman sayang saja sebelum ujian selesai. Paling tidak tugas-tugas akhirku masih bisa di kerjakan olehmu." Jawaban Bintang membuatku tak bisa menutup mulutku.
"Kamu terlalu lugu, Bulan. Bahkan aku telah berpacaran lima kali selama menjadi pacarmu. Entah kamu bego atau bucinmu mode akut berat." Bintang tertawa, seolah dia sedang mengumbar lelucon sementara menghancurkan hatiku sedemikian rupa.
Aku mrnangis sejadi-jadinya, pulang dari pesta perpisahan itu. Aku tak pernah menyangka, Bintang sejahat itu padaku. Dia hanya memanfaatkan aku saja. Dan rasanya sakitnya luar biasa.
Malam baru saja turun, aku duduk di taman kota, aku belum ingin pulang. Rasanya sakit sampai jantungku.
Ponselku berbunyi, panggilan dari Kak Langit, dia memang baru tiba tadi pagi, setelah menyelasaikan yudisiumnya.
"Hallo..."
"Bulan kamu di mana?"
"Aku di perpisahan sekolah..." Jawabku sambil menyeka airmataku.
"Tapi Dini menelponku, katanya kamu pulang lebih awal, dia menelpon dari tadi tapi tidak di angkat."
Aku menahan isakku, Dini memang menelponku tetapi aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Aku sedang patah hati.
"Kamu di mana?" Pertanyaan kak Langit terdengar tegas dalam nada cemasnya.
"Aku di taman kota." Jawabku kemudian.
"Sedang apa kamu di sana?"
Aku mendonggak ke arah langit yang muram,
"Aku sedang melihat bulan." Jawabku dengan lirih.
"Aku akan menjemputmu ke sana, jangan kemana-mana."
KLIK
Panggilan itu di tutup.
Kak Langit tahu jika aku sedang sedih, aku hanya ingin melihat bulan.
Lima belas menit kemudian, Kak Langit tiba sementara aku masih duduk di kursi taman yang sepi. Hanya beberapa orang ada di sana.
"Kenapa denganmu?" Kak Langit duduk di sampingku.
"Aku hanya ingin melihat bulan." Aku tak pernah bisa menyembunyikan kesedihanku di depan kak Langit.
"Siapa yang menyakitimu?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku akan mencari Bintang! Dini mengatakan kalau kamu habis bertengkar dengan laki-laki bernama Bintang!" Dia berdiri, tetapi tanganku reflek menahannya.
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Aku sudah tak punya hubungan apa-apa dengannya."
Pandangan kami berdua bertemu, mata yang semula nyalang itu menatapku lurus.
Lalu dia duduk kembali di sampingku,
"Kamu mencintainya?" Tanya Kak Langit parau.
Aku tak mengangguk atau menggeleng tetapi alu hanya terisak,
"Aku sudah bilang padamu, jangan memberi hatimu pada orang lain." Suaranya terdengar datar.
Aku menoleh pada kak Langit.
"Karena.. " Dia meraihku ke dalam pelukannya.
"Karena hanya aku yang tak akan pernah bisa menyakitimu." Bisiknya.
Aku merasa nafasku sejenak terhenti, mataku tertuju pada bulan yang tiba-tiba menyembul dari balik awan gelap. Langit yang semula temaram tiba-tiba menjadi cerah, angin telah membawa awan gelap tadi entah kemana.
"Bulan...aku mencintaimu...hanya aku yang benar-benar mencintaimu." Volume suaranya hampir tak terdengar tapi sanggup menghipnotisku, dadaku bergemuruh menghalau debar jantungku yang tak beraturan.
Aku berusaha melepas pelukannya karena begitu ingin melihat wajah kak Langit, meyakinkan diriku bahwa kalimat itu datang dari bibir seseorang yang selalu nenjagaku ini.
Tetapi pelukannya bertambah erat, dia menyusupkan kepalanya di belakang rambut panjangku. Dan berbisik dengan suara parau,
"Lihatlahnya ke atas, tak ada yang menandingi indahnya bulan malam ini.'
TAMAT
(Yukkkk...mampir di cerpen dan novel2ku...di jamin baper sampei ke sumsum😂😂😂)