Hans menatap sekitar, ia menarik napas dalam. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakan kaki lagi di kota kelahirannya. Setelah dua tahun ia sekolah menengah pertamanya di luar negeri dan dilanjutkan dua tahun sekolah menengah atas, namun sekarang ia kembali. Suasana luar kota dengan kotanya sendiri tidak jauh berbeda. Tapi tentu saja, ia lebih menyukai kota kelahirannya ini.
Buk!
Hans tersentak ketika seorang gadis tidak sengaja menabraknya. Tas jinjing gadis itu kini terjatuh. Dengan sigap dan rasa tidak enak hati Hans mengambil tas milik gadis itu. Saat Hans mendongak, ia dikejutkan oleh sesosok wanita cantik yang menatapnya dengan khawatir.
“Anda baik-baik saja?” Hans mengeluarkan suara. Tanpa bereaksi apapun, gadis itu hanya memandang Hans dengan pandangan tidak percaya, seolah gadis itu baru saja melihat sesosok hantu saat menatapnya.
“Nona? Anda baik-baik saja?” Ulang Hans.
Gadis itu tetap tak bergeming. Hans yang mendapat tatapan intens itu berusaha mengalihkan pandangannya, ditatap seperti itu membuatnya salah tingkah, karena gadis dihadapannya benar-benar cantik bak anime yang sering ia tonton. Rambut cokelat panjang terurai, pipi tembam dan hidung mancung, body ideal yang tidak terlalu gemuk namun berisi. Ayolah ini adalah body waifu kesukaannya kkkkk~
“Oh, maaf sudah menabrakmu. Terimakasih.”
Tanpa sepatah katapun gadis itu mengambil tas yang Hans genggam dan meninggalkan Hans yang masih memandangnya tidak percaya. Hans mengembangkan senyumannya, ia harap bertemu gadis itu merupakan suatu pertanda kebaikan.
___________________________________________
Pria dengan tinggi 170cm dengan badan kekar namun langsing itu memandang sekitar, ini adalah pertama kalinya ia memasuki sekolah di kota ini. Ternyata lingkungan di kota ini tidak terlalu banyak berubah, masih asri dan sejuk seperti empat tahun yang lalu.
“Hans!”
Hans menoleh ke belakang kala seseorang memanggilnya. Pria dengan rambut hitam dengan kulit kecokelatan itu menghampirinya dengan senyuman hangat. Hans menatap pria itu heran, apa ia mengenalnya?
“Kapan kau balik?” Pria dengan rambut hitam legam itu menatap Hans heran. Hans seolah terlihat gugup, selanjutnya pria itu tertawa kecil.
“Sial, kau pasti lupa padaku. Aku Jack.”
Mendengar ucapan pria itu seketika Hans memandang Jack tidak percaya. Empat tahun lalu Jack hanya setinggi pundaknya, namun kini ia menjulang tinggi, lebih tinggi sekitar lima sentimeter dari dirinya. Dari pada kota ini, pertumbuhan Jack jauh lebih menakjubkan bagi Hans.
“Jack, sudah lama tidak bertemu. Kau benar-benar tinggi.”
“Itu suatu pujian atau sebuah hinaan?"
Selanjutnya mereka berdua tertawa mendengar ucapan Jack. Sebenarnya dulu mereka memiliki kelompok basket beranggotakan lima orang dan salah satunya adalah Jack. Namun karena suatu insiden yang tidak mengenakan, kedua orang tuanya mengirimnya pindah ke luar kota. Dan Hans harap para temannya itu melupakan kejadian itu walaupun Hans sangat tahu pasti kejadian itu begitu sangat membekas bagi mereka.
“Bagaimana kabar Dico, Kevin dan juga Billy?”
“Setelah kejadian itu Kevin juga dikirim orang tuanya ke luar kota, Billy dan Dico pindah sekolah, hanya tersisa aku disini.”
Jack tersenyum tipis, ia mengenang masa lalu mereka saat masih bersama, sekitar empat tahun lalu. Ketika remaja gila yang suka mengerjai murid lain hingga guru. Dan sampai sekarangpun Jack merasa tidak ada yang dapat menggantikan keempat temannya itu. Tapi disinilah ia sekarang, saat ia melihat salah satu sahabat kecilnya kembali dan memasuki gerbang sekolahnya.
“Aku minta maaf mengenai kejadian beberapa tahun lalu, aku minta maaf.”
“Ayolah itu salah kita semua, kita begitu menggila saat itu.” Jack tersenyum tipis, namun Hans tahu Jack juga begitu trauma dengan kejadian itu.
Buk!
Hans tersentak saat lagi dan lagi seorang gadis menabraknya. Hans dapat melihat gadis itu kini mencengkeram kedua lengannya dan menatap tepat dimanik matanya. Tatapannya begitu menyedihkan, seolah Hans pernah melihat tatapan ini sebelumnya.
“Nona, apa yang-“
Hans menghentikan kalimatnya saat memandang wajah gadis dihadapannya ini. Hans ingat, ia adalah gadis yang sama, yang ia temui lusa kemarin di bandara. Gadis cantik dengan wajah seperti anime kesukaannya.
“Hans? Kau Hans, kan?”
Gadis itu berucap sangat pelan, bahkan Hans nyaris tidak mendengarnya. Jack yang melihat kejadian itu hanya menatap mereka tidak percaya, Hans hanya meneliti wajah gadis dihadapannya ini dengan saksama. Apa ia mengenal gadis ini?
“Ayolah Ryn jangan membuat aku muak!”
Hans terkejut ketika dua pria yang memakai baju seragam sepertinya menghampiri mereka dengan wajah yang merah karena amarah. Sedangkan gadis yang tidak dikenali Hans itu kini bersembunyi dibalik tubuhnya yang tinggi, seolah sedang meringkuk ketakutan.
“Nona tu..tunggu aku..aku-“
Hans menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mengapa sekarang ia berada di situasi seperti ini? Bahkan ini pertama kalinya ia menginjakkan sekolah di kota ini setelah empat tahun terakhir. Bahkan ia tidak tahu siapa semua orang ini, tapi gadis ini mengenal dirinya.
“Aku mencintaimu Hans, kau kekasihku kan?”
Gadis yang Hans tahu bernama Ryn itu kini menatapnya dalam, Hans hanya menatapnya canggung. Kini ia menoleh kearah Jack, ia cukup terkejut melihat Jack yang terlihat khawatir dan begitu gugup. Sebenarnya ada apa dengan ini semua?
“Jangan membual Ryn! Bukan waktunya untuk bercanda!”
Pria yang memiliki badan kekar itu terlihat menatap gadis itu dengan tatapan tajam, Hans hanya terdiam, ia tidak tahu harus memihak siapa. Terlebih wajah Jack kawannya yang menunjukkan kegugupan yang berlebih, seolah ia tahu situasi ini.
“Aku tidak bercanda! Hans memang kekasihku, iya kan Hans?”
Gadis itu kini kembali mengenggam tangan Hans erat. Ia menatap sekeliling, dua orang pria, dan seorang wanita yang mengenggam tangannya. Ini semua seperti dejavu, seolah ia pernah merasakan disituasi seperti ini. Namun ia benar-benar tidak mengingatnya.
“Kau tidak mengingatku?” Hans dapat melihat mata gadis itu berkaca-kaca memandangnya.
“Aku Shearen.” Seketika Hans mematung setelah mendengar ucapan gadis itu, kejadian empat tahun lalu kembali terulang dalam benaknya. Gadis dengan wajah terbakar seketika memasuki ingatan Hans.
“Dia primadona sekolah Hans, Shearen. Gadis yang wajahnya dibakar olehmu." Jack berucap dengan tersenyum sedih.
The end.