"Ya, itu! Sebelah kiri. Dikit lagi. Buruan dong. Lelet amat sih?!"
"Rantingnya rapuh, Kak," protes Amaya pada kakak ketua OSIS yang sedang menengadah ke arahnya itu.
"Gak bakal jatuh juga." Shika tetap ngotot untuk menyuruh Amaya mengambilkan mangga yang ada di ujung dahan.
Yang mana Amaya harus memanjat pohon setinggi 2 meter untuk memenuhi perintahnya. Untung saja Amaya masih mengenakan celana legging di balik rok sekolah yang sedikit kependekan itu.
Sesuai dengan permintaannya. Semua siswa baru yang sedang menjalani masa orientasi harus menjalankan satu permintaan dari anggota OSIS sebelum mendapatkan tanda tangan, sebagai syarat agar tidak mendapat hukuman.
Sama halnya dengan Amaya. Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah di SMA Negeri 11. Dia dan teman seangkatannya sedang menjalani MOS di hari pertama.
Sialnya dia harus berurusan dengan Shika, si ketua OSIS yang terkenal galak itu. Dari wajahnya saja, gadis yang usianya dua tahun di atas Amaya itu tampak jutek. Rata-rata para adik kelas bisa langsung merinding disko jika berhadapan dengannya.
"Cepet dong!" teriak Shika lagi, yang mulai tidak sabar.
"Kalau lima detik, mangga itu belum sampai di tanganku. Bisaku pastikan kamu bakal dapat hukuman yang berat," ancam Shika.
Amaya langsung gelagapan. Mencari cara agar mangga di ujung sana bisa terjangkau oleh tangannya. Ia mengulurkan tangan tanpa berani melangkah maju. Tangannya yang lain digunakan untuk berpegangan pada dahan terdekat, mempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Hmmhhh... " dehem Amaya menahan kesal saat tangannya tak mampu lagi direntangkan lebih jauh.
"Satu... " Shika mulai menghitung.
'Ayo Amaya. Kamu bisa!' ucap Amaya dalam hati. Menyemangati diri sendiri.
Set!
Kaki kanan diseret lebih maju ke depan.
Kriieett...
Dahan tempatnya berpijak mulai melengkung.
"Dua... "
Namun usahanya masih belum membuahkan hasil. Waktu terus menipis, membuat Amaya tak bisa berpikir jernih karena panik.
"Tiga... "
Dilangkahkannya kaki lebih maju ke depan lagi untuk meraih ranting di depannya. Hampir. Sedikit lagi tergapai. Membuat semangat Amaya kembali berkobar.
Kretek!
Suara dahan yang retak tak terdengar oleh telinganya. Karena murid-murid lain mulai menyoraki, memberinya semangat.
"Empat!"
Yak! Hampir dapat!
Amaya memekik dalam hati. Sambil menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit.
Kretek!
Tangan gadis itu kini sudah menyentuh mangga sasarannya. Sedikit lagi. Dan...
Krakk!
"Kyaaaa...!"
"AMAYAAA...!" pekik siswa yang mengenal gadis itu, saat menyaksikan tubuh Amaya terjatuh bersamaan dengan patahnya dahan yang digunakan untuk berpijak tadi.
Amaya memejamkan matanya. Bersiap untuk menahan rasa sakit yang akan menjalar ke seluruh tubuhnya.
'Tak masalah. Paling hanya patah tulang,' pikirnya menenangkan diri.
Brughh!
"Awh... " erang Amaya masih dengan mata tertutup.
Tapi, kenapa ia tak merasakan sakit? Justru ini terasa nyaman.
Perlahan gadis itu membuka matanya. Yang langsung disambut oleh iris mata coklat yang teduh.
"Apa aku sudah ada di surga?" lirihnya.
"Kau masih hidup." Makhluk Tuhan yang tercipta begitu sempurna di mata Amaya itu menjawab.
"A-apa?!"
Buru-buru lelaki itu menurunkan Amaya dari gendongannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rion dengan tatapan hangat.
"I-iya... " Amaya tak mampu mengalihkan pandangannya dari lelaki yang baru saja menyelamatkan nyawanya itu, kalau saja suara cempreng Shika tak mengganggu pendengarannya.
"Dasar caper! Mana mangganya?!" tanya Shika ketus.
"I-ini, Kak," Amaya menyerahkan mangga yang berhasil ia petik sebelum jatuh tadi.
"Jangan keterlaluan, Shi." Rion menatap Shika dengan wajah tak bersahabat.
"Itu sah-sah saja, Rion," elak Shika tak mau kalah.
"Walaupun harus membahayakan nyawa seseorang?"
Kerumunan siswa-siswi di sekitar mereka tampak memandang remeh Shika dengan bisikan-bisikan tetangga mendominasi.
"Kenapa kau membelanya? Dia hanya menjalankan tugas sebagai siswi baru," tantang Shika balik.
"Karena aku menyukainya. Kau puas?" balas Rion dengan wajah serius.
Kerumunan itu semakin heboh. Mereka yang mengenal betul siapa Rion tentu akan terkejut bukan kepalang. Pasalnya, Rion adalah primadona di sekolah itu. Vokalis sebuah band yang digandrungi banyak ciwi-ciwi.
Namun, sifatnya yang dingin membuatnya masih menjomblo hingga saat ini. Siapa sangka dengan tiba-tiba Rion malah menyatakan perasaannya pada murid baru itu.
Sebagian siswi mulai meradang dan menatap ke arah Amaya dengan sinis. Tak terkecuali Shika yang wajahnya sudah merah padam.
"KALIAN SEMUA BUBAR!" teriak Shika lantang.
Membuat kerumunan itu segera membubarkan diri, meski enggan. Ingin menyaksikan keseruan yang akan terjadi selanjutnya. Yang mereka tahu, Shika tidak akan membiarkan gebetannya dimiliki oleh orang lain.
"M-maaf, Kak. Tapi... "
Sret!
Sebelum Amaya menyelesaikan ucapannya, Shika sudah lebih dulu menarik tangannya dengan kasar.
"Kak, sakit!" cicit Amaya saat Shika terus menyeretnya ke arah toilet.
"Stop!" cegah Rion yang sudah menarik tangan Amaya yang satunya.
"Lepas, Rion. Cewek ini udah guna-guna kamu. Dia main dukun," tuduh Shika yang membuat Amaya melongo.
"Jangan ngarang. Lepas gak?" titah Rion yang melepas paksa cengkeraman Shika dari tangan Amaya.
Kemudian, tanpa menunggu ceramah panjang lebar dari gadis pemilik wajah jutek itu, Rion langsung menarik Amaya ke halaman belakang.
"Kamu oke?" tanya Rion yang sudah duduk di bangku sambil menyodorkan botol minuman pada Amaya.
"Gak usah makasih, Kak. Aku harus--"
"Ambil!"
Mau tidak mau, Amaya menerima botol minum itu dari tangan Rion.
"Sama pacar sendiri jangan sungkan-sungkan," ujar Rion dengan senyuman jahilnya.
"Uhuk... Uhuk... "
Amaya langsung tersedak menanggapi ucapan Rion barusan.
"Pelan-pelan."
"Aku pikir, Kak Rion hanya bercanda waktu nembak aku tadi," Amaya memicingkan matanya.
"Untuk apa aku bercanda soal perasaan?"
"Untuk menyelamatkanku dari Kak Shika."
"Hahaha... "
Tampan. Kata itu yang Amaya sematkan pada lelaki yang tertawa lepas di sampingnya. Tak terasa matanya malah mengunci setiap inci wajah Rion.
Lelaki itu balik menatap Amaya yang terbengong. Manik coklat indahnya menatap lekat pada iris milik Amaya. Sedangkan kedua tangannya sudah menggenggam erat jemari gadis itu.
"Dengar, aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu," tuturnya mantap, tanpa keraguan.
"T-tapi kenapa? M-maksudku, kita baru saja bertemu. Bahkan aku tidak tahu nama panjangmu," protes Amaya.
"Oh, sampai lupa. Aku belum memperkenalkan diri." Rion menepuk dahinya pelan,"Perkenalkan namaku Rion Elang Sanjaya," lanjutnya.
Deg.
"E-Elang?" Amaya mematung di tempat.
Tangannya menjulur untuk menyentuh wajah lelaki di hadapannya.
"Benarkah ini kamu ... Elang?"
Rion mengangguk.
"Benar. Aku Elang. Apa kabar, May? Lama gak jumpa."
Tanpa Amaya sadari, air bening yang tadi melapisi mata kini sudah tumpah ruah membasahi pipi.
"Bagaimana bisa? Bukankah Elang yang aku kenal sudah meninggal 10 tahun yang lalu? Keluargamu mengalami kecelakaan pesawat waktu itu. Beritanya menyatakan, jika tidak ada yang selamat dari musibah itu ... Hiks ... "
"Nyatanya aku masih hidup. Aku ada di sini, di hadapanmu sekarang. Kau juga bisa menyentuhku. Aku nyata, May," jelas Rion, sembari menggenggam tangan Amaya yang berada di pipinya.