Namaku Relakan, umur sudah 25 tahun aku anak pertama dan tunggal dari keluarga yang sederhana dan profesiku hanya sebagai perawat biasa disalah satu rumah sakit swasta terdekat dirumahku dan aku memiliki kekasih hati dan sudah sah menjadi tunanganku dia bernama Relawan, hubungan kami sudah berjalan hampir 8 tahun.
Di dalam hidup ada hal yang selalu kita hadapi, namun jarang orang dari semua pasangan mengalami hal yang menimpa kisah cinta ku dan mencoba untuk menelan ludah sendiri ketika sadar dengan apa yang telah terjadi pada pada kekasih hati ku.
Malam itu ketika mendengar kabar mu yang sedang kritis di IGD dari orang tua, kepanikan dan kekhawatiran membuat ku mendengar tiga kata di telinga kiri dan kanan yang membisikkan " DIA SUDAH MATI" sa'at itu tanpa sandal dengan mengenakan piyama lengan panjang yang tipis rambut dikepala yang berantakan, sebisa mungkin berlari dengan sekuat tenaga dan langkah kaki yang cepat.
Disepanjang langkah aku teringat sedang marah dan merasa curiga padanya karna selalu melarang ku untuk bertemu dengan nya di asrama kores, ternyata sudah dua hari aku mendiami nya dan tidak merespon setiap pesan apa lagi menjawab panggilan telepon dari nya. menyadari hal itu untuk pertama kalinya aku memukul-mukul kepalaku dengan kuat dan mengatai diriku bodo, begok, tolol dan tidak berguna.!
lalu aku melewati semua lorong, menorobos ruang piket IGD tanpa peduli lagi dengan piket dan para senior, terus berlari cepat dengan berlinang air mata hingga semua mata tertuju pada ku. ketika tiba diruangan nya, terlihat seragam polisi itu penuh darah dan terkoyak dilantai ada sosok lemah yang terbaring tidak sadarkan diri dan tak berdaya dengan perban dan darah yang terus mengalir tanpa berhenti sa'at pertama melihat tubuh itu dengan refleks langsung memberikan penilaian dalam hati "pasien ini tidak akan bisa selamat"
Perlahan mendekati tubuh polisi tampan yang tidak berdaya itu.! ku genggam kuat kedua tangan nya, mengelus lembut pipi nya, memberanikan diri untuk mengecup kening dan menciumi bibirnya terasa sangat hangat dan manis
Ya.. inilah ciuman pertama ku untuk kekasih yang sudah sah jadi tunangan ku
Malam itu semua polisi yang menjaga kekasih hati ku terus memperhatikan dengan tatapan kasihan termasuk adik kekasih ku dengan tegap dan perkasa ia berdiri dibawah bed abang nya, tidak lama kemudian dia sadar dan membuka mata semua cara perawatan terbaik yang telah ku pelajari dan ketahui ku lakukan padanya dengan penuh cinta dan kelembutan yang ku punya.
Aku merawat dia semampu ku dengan mengambil alih seluruh tugas dan tindakan perawat yang sedang bertugas, wajah tampan yang lemah itu tersenyum sangat lama melihat dan merasakan cara ku merawat dan memperlakukan nya dengan sangat hati-hati tidak ku biarkan dia merasakan sakit dan menjerit.! aku menyempatkan diri untuk memohon ma'af atas kelakuan ku yang tidak merespon pesan darinya dan panggilan telepon dari nya.! diapun tersenyum dan mengedipkan matanya pada ku tanda iya mema'afkan ku
Setiap gerakan kesakitan dari nya ku balas dengan ciuman kecil yang lembut mulai dari kening, ke dua mata, hidung, pipi kiri kanan dan bibir nya. terus ku elus lembut rambut kepalanya hingga tidak terdengar oleh ku jeritan nya yang melukai hatiku. ku tau dia mulai sesak ku ulurkan tangan kiri ku untuk dijadikan bantalan kepala nya terlihat kekasih ku kembali tersenyum bahagia namun dengan keada'an yang semakin melemah.
Sempat dia tertidur ketika perlahan telapak tanganku memberinya relaksasi dari kepala bagian belakang nya dan ku arahkan kepalaku disamping kepalanya dimana hidungku menempel di pipi kanan nya, tangan kanan ku menggenggam erat tangan kanan nya yang mulai mendingin lalu ku bisikkan kata-kata dari relung hatiku yang mengatakan aku tidak akan berpaling dari nya, menerimanya dalam keada'an cacat. sekalipun tidak lagi menjadi seorang polisi dan dalam kondisi apapun itu ku sanggupi asalkan dia berjuang melawan kejamnya tusukan benda tajam yang merobek semua tubuh nya, mendengar kalimat itu dia kembali membuka mata tersenyum menangis dan menggelengkan kepala nya yang juga disaksikan oleh adik dan rekan nya.
Aku tau arti dari gelengan kepalanya seakan berkata "JANGAN.! WAKTU KU SUDAH TIBA, AKU HARUS PULANG" dan sejak itu keada'an nya semakin menurun,
semakin melemah,
jeritan demi jeritan,
erangan demi erangan terdengar pilu lagi dan lagi.!
Lalu ku ulang lagi memperlakukan nya dengan manja dan penuh cinta, kulakukan lagi dengan sepenuh hatiku untuk mengalihkan perhatian nya dari rasa sakit nya tapi, aku semakin takut sangat takut dan takut sekali. karna aku sangat menyayanginya, masih terlalu mencintainya dan aku sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi aku berusaha untuk tetap optimis mengharapkan mujizat dari yang maha kuasa karna ku tau tangan Tuhan itu perkasa penuh dengan keajaiban, aku terus berdoa dengan setulus hati, terus dan terus menggenggam tangan kekasih ku masih tidak ada kata hati untuk rela dan ihklas pada nya dan aku benar-benar tidak bertulang melihat kelemahan nya.
Mungkin tau dengan keraguan ku, adik tunangan ku mengangkat tangan abang nya menaruh nya diatas kepala dan berjanji dengan tulus akan menjaga ku dengan sepenuh hati nya, ku lihat jelas tatapan setuju dari tunanganku itu. hanya saja dia sudah tidak lagi mampu mengangguk atau menggelengkan kepalanya karna luka tusuk di lehernya. ia hanya bisa mengedipkan matanya dan penuh senyum di bibirnya, sejak sa'at itu Relawan terus menggenggam tangan adiknya.
Jujur sa'at itu bukan janji adik tunangan ku yang ku butuhkan, aku butuh kekasih ku utuh, aku butuh tunangan ku yang akan jadi calon suamiku. aku ingin menepati janjiku menjaga kehormatan dan kesucian ku untuk ku berikan padanya ketika waktunya tiba.!
aku tidak ingin yang lain.!
aku butuh Relawanku bukan yang lain.!
aku sudah cukup lama menunggu nya.!
7 tahun 9 bulan lama nya, tidak mungkin bagi ku melepasnya begitu saja dan mengantikannya dengan sang adik.
Hingga ku tau, sudah tidak ada lagi waktu untuk nya bertahan.!
ia terus menggenggam tangan adiknya, aku menangis!
dan aku terus menangis, ku bisikkan kembali ditelinga nya sambil memeluknya dengan erat dengan mengeluarkan seluruh kata dan isi hati ku kembali.
"Aku wanita yang sangat beruntung mendapatkan permata langka bernilai tinggi, lelaki seperti mu adalah lelaki kepunya'an tuhan. cinta mu untuk ku tapi tubuh dan raga mu untuk Tuhan, aku percaya kemanapun ragumu berada, jiwa mu selalu bersama ku." dan ku katakan lagi bahwa
"aku mencintai mu tulus, rasa sayang ku ini tidak dapat digantikan oleh siapapun lagi jika, abang sudah lelah, beristrahatlah tutup mata mu dan berdo'a agar malaikat terbaik Tuhan yang datang menjemput mu dan ketika sampai jangan berjalan lagi, duduklah saja karna kamu lelah dan terus lihat aku dari atas sana aku merelakan mu karna aku sangat mencintai mu."
Semua kata hati yang begitu berat ku luapkan tanpa sisa, kekasih ku semakin tersenyum dan kembali meneteskan air mata namun, kali ini matanya tidak tertutup melihat ada sedikit pergerakan aku semakin khawatir karna bukan pergerakan kesembuhan, melainkan pergerakan menarik urat agar segera putus. entah kekuatan dari mana aku naik di atas bed pasien duduk dan langsung mengangkat tubuhnya, ku sandarkan dia di dadaku, ku arahkan kepalanya dileher ku, hingga pandangan matanya kearah dada ku.
Aku sama sekali tidak mendapatkan teguran dari dokter, karna mereka tau sudah tidak tertolong lagi.!! terus ku peluk dia dari belakang, ku ciumi terus menerus kening nya terakhir kulihat dia tersenyum melirik ku dan kemudian melirik adiknya yang sejak tadi menggenggam erat tangan tunanganku. setelah itu hanya lima detik terdengar suara dari layar monitor yang berhenti bergerak, suara tangisan ku pecah bersama'an dengan tangisan sang adik. kami berdua memeluk erat tubuh yang sama.
berteriak dan meronta semampu kami, menangis sejadi - jadinya tidak terkendali.! seketika Dunia ku terhenti, mataku buta melihat kegelapan didepan ku.! badan ku berputar bagaikan kipas angin, kesadaran ku seakan hilang, namun aku berusaha kuat hingga tidak kubiarkan tangan dokter itu menyentuh Relawan ku.
ku tau mereka berusaha melepaskan tangan ku yang sudah memeluk tubuh tunanganku, akhirnya mereka menyerah membiarkan ku memeluk untuk terakhir kalinya dan jam kematian nya sudah ditetapkan tepat pada jarum jam 05:00 ia, sudah cukup berusaha berjuang selama puluhan jam namun, Tuhan lebih menginginkan nya sekalipun ku ucapkan berkali-kali kalau aku lebih menginginkan nya tapi sepertinya sainganku berat. Ya.. Tuhan menyaingiku!.
Aku terus menangis dan tanpa sadar ku rasakan hangat dan menenangkan pelukan sang adik ditubuh ku, dia mengelus pipi dan menguatkan ku, dia berjanji tidak akan membiarkan ku berjalan sendiri.! suara itu, persis seperti suara Relawanku.!
sentuhan tangan itu seperti sentuhan tangan Relawanku.!
hangat, lembut dan ramah itu Relawanku.!
Tapi, setelah ku toleh aku sadar lagi ternyata itu bukan Relawan ku.!!
Relawan terbaikku telah pergi.!
Cintaku kandas karena kematian.!
Ketulusan cinta yang kumiliki ternyata bukan ukuran untuk mempertahankan nyawa seseorang, diatas langit masih ada langit diatas.! segala aturan adalah miliknya Tuhan karena itu apa yang terjadi adalah bagian dari aturan Tuhan dan aku menantikan pelangi sehabis hujan.