Di perjalananku pagi ini aku seolah melihat permadani mahal yang indah, padi menguning tampak kemilau keemasan diterpa sinar mentari, tumbuh menghampar memenuhi lahan hingga tak terlihat olehku.
Sambil bersenandung aku mengendarai motorku menyusuri jalan yang belum tersentuh aspal, hanya ladang dan hutan berjejer di kiri-kanan jalanku. Hm, aku menghirup udara dalam-dalam. Segar sekali rasanya saat kesejukan merasuk ke rongga hidungku, sesuatu yang jarang ada saat aku masih di ibukota.
Dalam jarak kurang dari 200 meter, di depanku terlihat sungai berair kecoklatan, tampak kontras dengan langit yang berwarna biru cerah tiada berawan. Aku terkagum melihat indahnya lukisan nyata sang Kuasa. Mungkin bagi orang lain ini biasa saja tapi bagiku yang harus terpisah dari orang tua, terlepas dari segala fasilitas karena tugasku sebagai dokter desa terpencil, apa yang kulihat ini bisa dibilang sesuatu yang mewah dan memanjakanku.
"Yah terlambat deh," gumamku saat melihat kapal ferry itu menjauh dari tepian pelabuhan. Pagi ini seperti biasa, aku berdiri di pelabuhan sederhana ditepian sungai. Ikut menunggu giliran untuk menyeberang ke kecamatan.