Lenka belum mengambil tindakan apapun, karena kulihat kedua tangannya menutup mulutnya sendiri.
Mungkin dia masih malu, terkejut atau mungkin juga dia bahagia tapi saat kulihat pancaran matanya, aku menebak kalau Lenka pasti akan menerima tawaran lelaki itu.
Ah, seandainya aku lebih cepat 5 menit saja dari lelaki itu ... aku pun berbalik, berjalan sendirian menyusuri jalan mencari tempat yang pantas menerima buket mawarku yaitu bak sampah.
Pupus sudah harapanku, pudar sudah impianku memiliki Lenka jadi kekasihku.
.
- Lanjutan Cerpen "Pupus"-
"Koko Langiiiit," aku menghentikan langkahku saat mendengar panggilan dan berbalik.
"Lenka, Rhea, ada apa?" Tanyaku.
"Menyusul koko. Koko mau ke mana, buket bunga itu untuk siapa?" Lenka menjawab pertanyaanku.
"Eng, anu ... ini em, ini tadinya mau aku kasihkan pada seseorang tapi sepertinya sudah tidak berguna lagi," sahutku apa adanya.
"Tidak berguna kenapa, ko? Itu buat cewek ya? Hei, koko mau ngasih bunga buat cewek. Wah koko romantis juga," ucap Rhea.
"I-iya. Em, aku mau buang bunga ini ke bak sampah di situ."
"Sayang sekali, ko. Bunganya cantik, buat aku aja, ya?" Pinta Lenka.
"Bukannya kamu sudah dapat bunga plus coklat plus teddy bear?"
"Jadi koko melihatnya? Kenapa tidak mencegahnya?" Tanya Lenka.
"Mencegah? Apa hak-ku?"
"Aku tidak menyukai lelaki itu, maka ku tolak saja."
"Oh, kasihan sekali. Padahal aku lihat dia sangat serius dan sungguh-sungguh."
"Tidak ko, yang kasihan itu aku?
"Lho kenapa Lenka?"
Rhea terlihat sedikit menjauh dari aku dan Lenka, sepertinya adikku yang rada gesrek itu mengerti kalau kami perlu waktu berbicara dari hati ke hati.
"Karena aku ... aku berharap koko yang memberikan hadiah itu sebagai pernyataan cinta," jawab Lenka manja.
"Hah? Pernyataan cinta? Haha ... Lenka, Lenka, aku ini koko Rhea, aku koko-mu juga mana mungkin bisa aku-"
"Tuh, kan Rhea aku bilang juga apa? Tidak mungkin ko Langit menyukaiku, dia hanya menganggapku adik saja," kata Lenka pada Rhea.
'Apa aku tidak salah dengar? Apa iya sahabatnya Rhea ini menaruh hati padaku?' Batinku.
"Ko, sebenarnya Lenka sudah lama suka sama koko. Apa koko tidak ada perasaan sedikitpun pada sahabatku ini?" Rhea yang berkata sambil melakukan sesuatu yang entah apa pada kameranya.
Aku menatap kedua gadis di hadapanku bergantian sambil berharap mereka gak lagi nge-prank aku.
"Apa kalian serius dengan apa yang kalian katakan?"
"Serius, ko!" Sambut mereka berbarengan.
"Lenka, apa benar kamu suka sama koko?"
"Iya ko, dari dulu malahan."
"Beneran?"
"Beneran, sumpah."
"Ish, jangan pakai kata sumpah dengan sembarangan, Lenka."
"Aku tidak main-main, ko."
Hah? Aku tidak sedang berhalusinasi, kan? Baru saja aku menata hati agar legowo melihat Lenka, gadis pujaanku 'ditembak' pria lain.
"Kamu mau jadi pacar koko?" Tanyaku memastikan.
"Iya, ko. Mau banget," kulihat rona bahagia di wajah Lenka.
"Kalau begitu, terimalah bunga ini," ucapku.
Pluk. Lagi-lagi adikku menepuk bahuku.
"Pakai cara yang benar, masa ngasih bunga sebagai pernyataan cinta, begitu? Protes Rhea.
"Berlututlah, ko dan ulangi sekali lagi perkataanmu tadi," sahut Rhea sambil kembali mengarahkan kameranya padaku dan Lenka.
Aku pun menurunkan sebelah kakiku sambil menyerahkan buket itu.
"Lenka, buket ini hanya ada 99 kuntum bunga, agar sempurna maukah kamu melengkapinya menjadi kuntum ke 100?"
"Mau, mau," Rhea antusias.
"Agar makin indah, aku memintamu jadi pelengkap kuntum ini menjadi 100, sama seperti harapanku memintamu melengkapi hidupku mulai sekarang dan selamanya."
"Yaaa ... terima, terima," suara cempreng Rhea membahana sambil terus mengabadikan momen mendadak istimewa kami
Lenka menutup mulut yang terenyum dengan kedua tangannya, mungkin dia malu, mungkin juga terkejut aku telah menanggapi perasaannya, sama sepertiku yang tidak menduga kalau ternyata selama ini kami saling menyimpan rasa.
Kulihat air mata merembes membasahi pipinya.
"A-aku mau, menjadi kekasih ko Langit. Aku bersedia melengkapi hidup koko mulai sekarang," sahutnya tanpa ragu.
"Kalau begitu, bersiaplah," kataku sambil menggandeng tangan Lenka.
"Kita mau ke mana, Ko?" Tanya Rhea.
"Kita pulang ke Banjarmasin malam ini juga,"
"Hah, ngapain kan ini cuma weekend, belum libur semester?" Kata Rhea lagi.
"Aku mau melamar sahabatmu ini langsung di hadapan kedua orang kita dan segera menikahinya," sahutku.
"A-apa? Me-menikah?" Lenka terbata dengan kedua mata yang membulat sempurna.
"Iya, karena aku sudah terlalu lama menunggu. Aku tidak mau keduluan pria lain lagi untuk menjadikanmu milikku."
"Ish, kokoooo!" Seru Rhea dan Lenka berbarengan.
"Kalian kenapa, sih?" Aku tidak mengerti
"Rhea apa sudah selesai, kan?" Tanya Lenka pada adikku.
"Iya, sudah. Ok, tinggal edit sedikit, beres. Nih lihat, aku bilang juga apa?" Rhea memberikan kameranya pada Lenka.
"Wah iya juga, kok gak bilang 'cut' sih?"
"Hehe, Sorry Len, lupa."
"Kalian ngomong apa sih ini?" Aku heran mendengar percakapan dua gadis di hadapanku ini.
"Hehe ... maaf ya, ko. Tadi itu Lenka sedang membantuku bikin tugas membuat film pendek. Kami sengaja memanfaatkan koko, karena teman kami yang tadi actingnya kurang bagus, gak se-natural koko," jelas Rhea.
"Rhea, tampaknya ko Langit cocok juga jadi pemain sinetron," timpal Lenka tanpa rasa bersalah.
"Ja-jadi tadi itu? Hah, kampret! Ternyata kalian cuma ngerjain aku!" Dampratku kesal. Pantas aja perasaanku dari tadi meragu, ternyata Lenka cuma acting. Huh ... .
Aku kembali berbalik, berjalan sendirian menyusuri jalan mencari tempat yang nyaman untuk menawar kecewa juga rasa malu-ku.
Pupus sudah harapanku, pudar sudah impianku, boro-boro memiliki Lenka jadi kekasih, eh ... malah dikerjain gitu. Sebelll.