"Duh gimana si ren?" celetukku pada Rendi yang tiba-tiba berhenti mengayuh sepedanya, sehingga membuat hidungku terbentur punggungnya yang terasa sedikit sakit.
Rendi hanya diam saja sambil membisu, membuatku sungguh penasaran ada apa dengannya, akupun segera turun dari sepeda Rendi yang mengizinkan aku untuk berboncengan dengannya sampai sekolah.
Waah, sungguh aku tak sangka Rendi terdiam saat melihat wanita cantik melintas di hadapan kami, padahal wanita itu sedang bergandengan tangan dengan pacarnya, ah dasar laki-laki pikirku, tak bisa banget ngelihat cewek cantik.
Dengan kesal akupun berjalan melanjutkan perjalanan yang seharusnya kulalui bersama Rendi untuk ke sekolah, Huuh kenapa siih mesti di hadapanku, isss harusnya dia peka dengan perasanku.
" Pit, Pita tunggu dong, kok turun siih, masih jauh tau, ayo aah nanti telat lagi!" Rendi menarik tanganku dan menyuruh ku untuk kembali duduk di belakang sepedanya.
Kali ini aku tak perduli dengan ucapannya, sambil manyun aku semakin mempercepat langkahku, Aku juga bingung dengan sikapku, seharusnya aku tak begini, tapi, setelah aku menyadari rasa cemburu dengan wanita wanita yang mendekatinya, akhirnya aku juga tau bahwa perasaan persahabatanku dengannya berubah menjadi rasa cinta, aah ini yang bikin aku kesal, kenapa harus dengannya siih.
" Pit, kamu kenapa siih akhir-akhir ini suka begini sama aku, marah tanpa aku tau alasannya, aku ada salah ya?, kasih tau donk jangan diam aja, aku jadi bingung!". lagi-lagi Rendi menahan langkahku.
Aaaaa.......aku bingung ngejelasin nya, harus gimana coba menjelaskannya, jika aku beri tahu perasaan ini pasti dia akan tak nyaman lagi bersamaku.
" Kamu pernah dengar nggak film tetanggaku idolaku? sekarang aku sedang mengalami nya!"
akhirnya aku mengatakannya, entah dia paham atau tidak, yang penting hatiku tenang, biar akupun bisa segera melupakannya karena ku tau perasaanku padanya takkan berbalas, malas harus merasakan rasa cemburu yang tak jelas ini arrrghh.
" Sungguh, apa kau yakin dengan apa yang kamu katakan barusan Pita?". kali ini Rendi menarik tanganku dengan cepat, sehingga membuatku bertatapan dengan wajah nya.
" Hmmm..sudahlah jangan bikin aku tambah malu, aku tak suka mengulangi perkataan dua kali, kamu tau itu!". Akupun menundukkan kepalaku, sungguh malunya aku, tak mungkin dia percaya dengan ucapanku, secara kami mengenal sejak kecil, dan lagi rumah kami bersebelahan sehingga membuatku dan dia benar-benar seperti kakak adik dimata tetangga tetangga kami.
"Hey, jangan bilang kamu tadi cemburu ya, melihat aku menatap wanita itu, yang tadi lewat di depan kita, aku beritahu kamu, itu ceweknya bang Hendri, aku hanya memastikan apa aku salah lihat atau tidak, karena dia kenapa kok bisa-bisanya bergandengan tangan dengan lelaki lain, sedangkan dia berstatus pacaran dengan bang Hendri". Rendi berusaha menjelaskannya padaku.
Owwh, sungguh aku terkejut mendengar penjelasan Rendi, dan tak kusangka dia menyadari rasa cemburuku, ya ampun kali ini aku sungguh malu, malu sekali menatap wajahnya, Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa, yang bisa aku lakukan hanya berjalan semakin cepat menjauh darinya, " Hmm, baguslah kalau begitu" kataku, sambil menyembunyikan rasa maluku, bisa-bisanya aku menyatakan perasaanku secara tidak langsung padanya, hadeuuuuh.
" Pita, aku belum selesai bicara padamu, sesungguhnya sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu, tapi aku takut terjadi kerenggangan antara hubungan kita, aku menyukaimu Pita, jauh sebelum mungkin kau menyukaiku" ucapan Rendi begitu menggema di telingaku, iih bisa-bisanya dia mengatakannya tanpa memberikan cokelat spesial buatku.
akupun berbalik berjalan mengarah padanya.
" kenapa siih nggak ada romantis-romantisnya tetanggaku idolaku, beli coklat kek buat menyatakan perasaan, beli bunga kek, atau apa kek gitu" sambil tertawa aku akhirnya berani menatap wajahnya.