"Nora, jangan tidur dulu ... kamu belum sikat gigi," sebuah suara menggangguku yang hampir lelap.
"Hm, bentar ma. Ngantuk banget, nih," sahutku.
"Nora, bangun. Sebentar saja, ayo. Nanti kamu sakit gigi, lho."
Aku mengerjapkan mataku lalu menguceknya. Astaga, aku baru sadar ini malam pertamaku tidur di asrama putri. Lalu, suara siapa tadi itu? Tidak ada orang lain di sini, jadi siapa yang berbicara tadi?
"Nora, Nora ... kamu bingung ya, siapa yang sedang berbicara padamu?"
"Iya," sahutku sambil menajamkan pendengaranku.
"Ini aku Nora, Cimoy."
"Hah? Sejak kapan kamu bisa bicara? Bukankah selama ini hanya aku yang berbicara padamu tapi tak sekalipun kamu menyahutiku."
Cimoy adalah nama untuk bantal yang kumiliki sejak aku masih bayi, bantal itu selalu kubawa ke mana pun aku pergi. Aku pasti menangis jika bantal itu ketinggalan atau dicuci sama mama, aku tidak bisa tidur tanpa bantal itu, makanya saat aku masuk asrama, bantal imut yang kuberi nama Cimoy ini kubawa serta.
"Aku bisa bicara padamu sejak hari ini Nora, asalkan tidak ada orang lain disampingmu, maka kita bisa mengobrol dengan santai."
"Terima kasih, Cimoy. Aku senaaang sekali." Ujarku sambil memeluk gemas bantal Cimoyku, sahabat dalam susah dan senangku.