Aku bermimpi menjadi putri yang bertubuh mungil, dalam mimpiku aku bisa berbicara dengan capung, beginilah awal mulanya mimpiku itu.
Aku terdiam di tengah Padang rumput yang luas. Rumput yang terlihat menjulang tinggi menutupi tubuh kecilku.
Aku melihat sekelilingku, hanya ada warna hijau yang menghalangi pandangan mataku. Bau harum rumput yang segar menyapu indera penciumanku.
"Tuan putri sudah terbangun rupanya", sebuah suara menyapaku.
"Siapa itu?", tanyaku dengan nada sedikit kaget.
"Hamba capung, tuanku", katanya lagi.
Aku melihat seekor capung sedang berjalan ke arahku. Dengan sayapnya yang transparan ia terlihat gagah sekali.
"Rumput didepan mataku ini tinggi sekali, aku tidak dapat melihat apapun dari sini", kataku lagi.
"Naiklah ke atas punggungku, aku akan membawa Tuan Putri melihat pemandangan dari atas", ujarnya seraya merendahkan tubuhnya, sehingga putri kecil itu dapat dengan mudah menaikinya.
Putri kecil begitu bahagia melihat banyak sekali bunga bermekaran, harum semerbak mewangi menerpa hidungnya, sambil bersenandung riang ia bernyanyi, tapi tidak dengan capung, sepanjang jalan ia hanya menunduk sedih. Putrj kecil tidak menyadari hal itu. Tak berapa lama ia mencium bau yang menyengat.
"Capung, bau apa ini?, tanyanya sambil melihat sekitarnya.
"Sebentar lagi Tuan Putri akan mengetahuinya", jawabnya dengan nada yang sendu.
Capung membawa putri kecil keatas sebuah pohon. Betapa terkejutnya putri kecil melihat bahwa tidak jauh dari tempat itu banyak sampah yang berserakan. Para manusia dengan seenaknya membuang sampah di tempat itu.
Putri kecil menangis dan berkata ,"apa yang mereka lakukan?, bukankah hal ini secara tidak langsung akan mengancam kelangsungan hidup kita, Capung ".
"Hal itulah yang membuat hamba bersedih hati, saudara-saudara hamba banyak yang musnah dikarenakan hal ini. Masih jelas dalam ingatan hamba, betapa bahagianya kami ketika terbang dan mencari makan bersama-sama, tapi semua itu sekarang hanyalah tinggal kenangan, dari bangsa capung hanya hamba lah yang tersisa. Ada satu hal lagi yang ingin hamba perlihatkan kepada Tuan Putri.
Ia lalu membawa putri kecil ke tempat lainnya. Kali ini yang ada di depan matanya adalah gedung yang menjulang tinggi, seakan berlomba-lomba menunjukkan kegagahannya. Putri kecil membuka mulutnya tanpa bisa berkata apa-apa. Dunia apa ini?, belum lagi ia melihat berbagai jenis makhluk yang mempunyai kaki bundar, hilir mudik sambil mengeluarkan bunyi yang aneh seperti tin tin, teeet, kring-kring ataupun dooon...dooon.
"Beginilah keadaan yang sebenarnya putri kecil, pernah ada manusia yang berhati baik, ia membuat taman seperti ini, ditanamnya berbagai aneka tanaman dan bunga, juga beberapa macam pohon, tapi sekali lagi, mereka jugalah yang merusaknya.
Pada awalnya mereka hanya sekedar duduk dan berbincang-bincang, lama-lama mereka membawa makanan dan minuman, masalahnya mereka tidak mau membuang sampah pada tempatnya, mereka membiarkan sampah berserakan, dan pada saat tengah malam tiba bahkan ada yang tidur disini sambil membawa minuman, keesokan harinya mereka pergi tanpa membersihkan tempat yang dipergunakannya untuk tidur".
"Capung, janganlah kau bersedih, masih ada tempat lain yang lebih baik dari ini, tempat yang kamu lihat ini dinamakan kota", pusat aktifitas manusia. Mari kita pergi dari sini", ajak putri kecil.
Mereka melakukan perjalanan yang panjang, sampai pada suatu tempat putri kecil menjelaskan kepada capung bahwa inilah tempat yang ia maksudkan. Tempat ini dinamakan desa, dimana udara masih terasa segar, pohon dan tanaman tumbuh dengan subur. Suara burung saling bersahutan. Dari kejauhan ia melihat bangsanya banyak yang terbang ke sana kemari dengan gembira. Capung kemudian terbang menemui mereka dengan wajah yang bahagia.
Dan aku pun terbangun dari mimpiku.
TAMAT