Tiba-tiba ponselku berbunyi, sebuah pesan WA masuk.
'Hai, Vin. Kamu sudah siap, kan?"
Itu pesan dari kak Fariz!
Dadaku bergemuruh kencang, tiba-tiba aku merasa gugup luar biasa, jemariku terasa dingin.
Aku berdiri dengan gelagapan dari kursi di depan jendela kamarku, mematut diri sekali lagi di depan cermin, memeriksa apakah rambutku masih tersisir rapi? apakah bedakku ketebalan? lipstikku? aku benar-benar mencemaskan penampilanku. Selama ini aku jarang berdandan jadi ketika mau ada acara resmi aku benar-benar di buat bingung sendiri.
'kling!' nada pesan masuk berbunyi lagi,
'Sekarang kurang lima belas jam 7, aku akan ke rumahmu, ya untuk menjemputmu. Aku harap 'pacar'ku sudah siap'
Degh!!!
Aduh, Tuhan...ini kenapa aku gugup sekali, seperti orang yang baru pertama kali keluar dengan laki-laki.
Soal berpacaran aku tidak lelet-lelet amat, aku sudah berpengalaman tiga kali berpacaran, dengan rekor satu kali di ghosting, dua kali di selingkuhin. Kalau tentang patah hati, aku sudah biasa, tapi aku bukan orang yang cengeng-cengeng amat. Nangis setengah hari, manyun tiga hari, setelah itu hariku kembali normal. Aku tidak pernah berkabung untuk mantan secara berlebihan.
Tapi soal menghadiri acara resmi bersama pacar aku belum pernah sama sekali, meski sekarang aku sudah berusia 22 tahun dan kuliah hampir di jenjang akhir. Sedikit puyeng memikirkan, biaya wisuda jika selesai ujian skripsi nantinya.
Pacar-pacarku tidak pernah punya acara resmi dengan keluarga atau semacamnya, atau mungkin mereka tidak ingin membawaku ke acara-acara formal seperti itu, mengingat aku memang bukan gadis dengan penampilan anggun mempesona dan latar keluarga pas-pasan. Untuk beli gaun bagus aku perlu berfikir puluhan kali untuk mengbil dari saldo ATMku yang jarang bertambah tetapi rajin berkurang itu.
'Iya. Aku hampir siap'
Balasku kemudian, meski tiba-tiba rasanya aku mau mundur teratur, insecure melanda, jiwa tak pedeku meronta. Meski, ini hanya pacar bayaran, tapi rasanya begitu horror saat si pacar penyewa ini tiba-tiba tak puas dengan penampilanku.
Tujuh Menit aku hanya memulas bibirku dengan lipstik tipis dan memgelapnya dengan tissue, memolesnya lagi dan menghapusnya lagi.
Oh, my God...aku benar-benar kehilangan kepercayaan diriku. Memikirkan penampilanku ini, apakah pantas dengan harga 3-5 juta seperti yang di tawarkan kak Fariz. Meski tugasku hanya berdiri dan bernafas saja di sampingnya, tapi jika orang-orang mengernyit dahi melihat betapa tidak serasinya aku dengan kak Fariz nanti, bukankah itu mengecewakan?
"Aku harus melakukannya, aku kan sudah berjanji. Kalau perfomanceku tidak sesuai ekspetasinya, aku akan memberi kak Fariz diskon!" Putusku dalam hati.
Dan tepat jam tujuh kuranh dua menit, aku sudah turun dari kamar. Di selasar kak Fariz telah berdiri dengan sebuah payung besar, mobil pajeronya terparkir tepat di depan toko Laundry kami.
Ibuku tampak sedang menyambutnya,
"Ini anaknya baru turun, padahal ibu mau panggilkan ke atas." Oceh ibuku. Dia tampak sedikit terkesima ketika berbalik ke arahku.
"Ibu tidak nyangka, lho...kalian berdua punya temen sama." Lanjut ibu sambil masih tak berkedip menatapku yang begitu rikuh dalam gaun maroon yang bagus ini.
"Iya, bu...saya bawa dulu ya si Vina, biar cepet pulang lagi." Pamit Kak Fariz tanpa memberi kesempatan aku terpesona dengan penampilannya yang luar biasa kerennya itu.
Dia mengenakan baju semi jas warna gelap dengan dalaman warna putih cream. Tubuh tingginya menjulang gagah, tetapi kacamatanya membuatnya terlihat dewasa dan tampan.
Kak Fariz, dia begitu sempurna malam ini! Benar-benar sempurna!
"Ya, hati-hati di jalan, ya. Pulangnya jangan kemaleman." Ibuku memang selalu baik dengan semua costumernya terlebih kepada kak Fariz, yang kadang-kadang jika dia ada waktu mengantar pakaian kotornya, sempat-sempatnya masih ngobrol dengan ibuku, mendengarkan dengan sabar gibahan ibuku tentang tetangga sebelah yang suka membuamg sampah ke pekarangan orang.
Aku berjalan di sebelah Kak Fariz begitu dekat, aku bahkan tak berani menoleh padanya. Bau patfumnya begitu lembut dan elegan masuk melalui rongga hidungku.
"Kamu cantik malam ini..." Entah telingaku yang terlalu berharap tapi sayup-sayup aku mendengar kalimat itu di ucapkan kak Fariz, di antara suara derai hujan.
Aku melirik ke arah kak Fariz, Astaga, kak Fariz, aku tak pernah sedekat ini, berpayung berdua dengan kak Fariz meski hanya beberapa langkah menuju mobilnya.
Seperti seorang puteri aku di bukakan pintu dan duduk di sebelahnya yang segera mengambil tempat di belakang kemudi.
Aku belum pernah berpacaran dengan laki-laki yang mempunyai mobil pribadi, semua mantan pacarku dari kalangan pas-pasan, yang tak cuma pas-pasan kantongnya tetapi hatinya juga. Buktinya, paling lama satu tahun aku pernah pacaran dan aku sukses di tinggalkan karena perempuan yang lebih cantik dan lebih keren dariku.
Tentu saja rasanya aneh ketika duduk di sebelah kak Fariz yang kini berstatus sebagai pacar satu malamku ini, tepatnya sebagai pacar bayaran tetangga tampanku yang sematang mangga ranum.
"Terimakasih, sudah mau jadi pacarku malam ini." Mobil kak Fariz meluncur di jalan raya, suara mesinnya hampir tak terdengar olehku.
"Oh, aku juga gabut jadi gak apa-apa. Hitung-hitung makan gratis ke kondangan." Jawabku sekenanya, padahal aku gugup bukan main sekarang.
Kak Fariz tertawa, tawanya renyah, lebih renyah dari kerupuk rengginang yang sering di jajakan mbok Surti keliling komplek itu.
"Terus, aku nanti bagaimana?" Tanyaku, menyembunyikan kegugupanku yang semakin menjadi.
"Maksudnya?"
"Actingnya bagaimana?"
"Cukup berada di sampingku, mengangguk dan senyam senyum saja." Jawab kak Fariz.
"Oh, itu keahlianku." Sahutku, sambil pura-pura merapikan dudukku.
"Minta nomor rekeningmu, ya. Kak Fariz transfer sekarang"
"Transfer? Transfer apa?" Aku melongo.
"Bayaranmu jadi pacarku. Kita kan' sudah sepakat."
"Akh, itu nanti saja. Kerjanya aja belum masa di honorin duluan." Aku menjawab dengan malu.
"Ya, sudah...ini aja dulu, ya. Anggap Depe. Sisanya aku transfer, ya..." Kak Fariz mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan.
"Aduh, kak. Vina beneran gak enak jadinya."
"Ini dah deal, jadi gak usak sungkan." Kak Fariz menyodorkan uang satu juta itu yang serasa membuat aku keselek, tak menyangka aku menjadi benar-benar malu dengan kelakuanku sendiri.
"Ibumu bilang, kamu lagi giat nabung buat gandakan naskah skripsi. Ini ambil, paling gak bisa bantu. Tenang aja, kak Fariz ikhlas. Anggap saja kak Fariz lagi traktiran habis gajian."
Ufs, mulut emakku itu memang gak bisa simpen rahasia, apa-apa di ceritakannya.
"Ambil cepat, ini kita mau sampai." Kak Fariz menyodor paksa si depe itu ke tanganku. Dengan serba salah aku menyambutnya. Kepalang tanggung sudah, sebaiknya aku menghayati saja profesi baruku ini.
Beberapa lama kemudian, mobil itu masuk ke sebuah gedung hotel bintang 5, aku mendadak gelagapan.
"Rumah kondangannya di mana, kak? Kenapa kita ke sini?" Fikiran kotorku tiba-tiba seperti asap, aku tegang sendiri.
Ini hotel? Jangan-jangan kak Fariz salah sangka denganku, dia sebenarnya membookingku?
Perutku mendadak mual, rasanya kepalaku pening dan mau muntah. Biarpun aku sedikit tomboy tapi aku bukan orang yang bisa di bawa sembarangan. Ilmu agama yang di ajarkan orangtuaku cukup untuk mencover moralku supaya tetap dalam pergaulan yang baik.
Aku tiga kali berpacaran, paling banter di pegang tangan atau yah, paling jauh di cium, itupun aku menghindari ciuman bibir.
Entah mengapa, aku merasa itu adalah hal yang menjijikkan, karena itulah bibir mungilku ini tetap masih dalam status virgin sampai sekarang.
"Resepsi kawinnya di aula hotel ini." Kak Fariz nyengir ganteng, melihatku yang melotot padanya.
"Ooooh...begitu..."Aku menyahut dengan malu, lebih tepatnya malu pada diriku sendiri yang hampir salah sangka pada Kak Fariz.
Hujan telah reda, aku turun dari mobil dan...
"Sayang, ayo..."
Wkkk...!
Aku hampir tersedak ketika kak Fariz menggandengku begitu aku turun dari mobil,
"Kak, ini..." Tanganku serasa beku dalam genggaman kak Fariz.
"Stt...sudah mulai ya, argonya dah jalan, sekarang Vina adalah pacar kak Fariz."
Aku melotot menatap wajah tampan kak Fariz yang tersorot cahaya lampu terang benderang saat kami memasuki lobby bersama beberapa pasangan tamu lainnya yang kebetulan masuk bersama kami.
Tapi, oh my God...sekali lagi aku meleleh saat melihat wajah tampan kak Fariz. Vibesnya aku sedang di gandeng seorang CEO di drakor-drakor.
Selama di dalam lift, aku berdiri tegang, menikmati genggaman tangan kak Fariz yang terasa erat dan hangat.
"Selamat malam..." Kak Fariz membungkuk saat memasuki aula tempat resepsi kawin itu. Beberapa orang tampak mengenalnya, aku gugup bukan main. Semua orang di dalam ruangan itu terlihat eksklusif, sebagian sepertinya melihat ke arahku seperti ingin menelanjangiku. Dengan risih aku pura-pura menikmati pemandangan indah di depan, di mana seorang penyanyi sedang melantunkan lagu sementara pelaminan di depan nasih kosong, pengantinnya belum datang sepertinya.
"Wah, selamat malam Riz, siapa ini yang mendampingi? Ibu negara?" Si kelimis berwajah tirus itu menyambut hangat, dan aku perkirakan adalah teman kak Fariz dari caranya berbicara.
"Yah, doakan saja." Jawaban santai kak Fariz hampur membuatku pingsan, ini sandiwara doang kenapa harus bawa doa-doa segala?
"Fariz!" Seorang ibu-ibu dengan busana meriah di penuhi blink-blink menyongsong kami, sambil menggandeng seorang gadis cantik, ramping jelita, rambutnya ikal gantung dengan bulu mata lentik melengkung. Ini perempuan macam model, yang segera membuat jiwa insecureku meronta.
"Ha, tante Erna, selamat malam." Sambut Kak Fariz.
"Eh, ini siapa?" Matanya yang di bingkai celak itu melotot padaku.
"Oh, perkenalkan tante, ini Vina, pacarku."
Huaaaa...rasanya kayak terbang ke langit ketujuh saat diperkenalkan sedemikian elegannya oleh seorang laki-laki setampan kak Fariz. Sejenak aku lupa kalau statusku hanya pacar bayarannya saja.
"Pacar? Sejak kapan kamu punya pacar?" Si tante Erna ini membeliak, sementara gadis di sebelahnya langsung manyun dengan wajah julid.
Aku mengulurkan tangan hendak bersalaman tetapi tanganku di anggurin, dengan santainya kak Fariz mengambil tanganku dan meletakknya di lengannya dengan mesra.
"Pacarannya sudah beberapa bulan, dan alhamdulilah cocok tante." Kak Fariz berkata dengan sopan. Matanya mengedip padaku seolah hendak memberi isyarat aku cukup tersenyum saja diperlakukan tak menyenangkan oleh tante Erna.
"Ini, Susi anaknya tante, dia baru pulang dari Tokyo, liburan kuliah. Kamu ingat?"
"Oh, tentu saja ingat." Kak Fariz menganggukkan kepalanya. Lalu memeluk bahuku dengan lembut. Seakan menjaga perasaanku dari tatapan sinis si Susi nan cantik itu.
"Maaf tante, pacarku mau di anter ke toilet katanya Permisi tante." Kak Fariz menarik tanganku untuk segera menjauh dari situ.
Kami benar-benar menjauh dari tante Erna yang tampak kesal itu, menuju sudut ruangan. Kemudian basa-basi berlanjut, kami bertemu banyak orang, dan aku diperkenalkan dengan bangga sebagai pacarnya.
Rasanya ini seperti mimpi dan aku tiba-tiba tak ingin bangun. Mimpiku indah bangeeeeet, jadi pacar seorang laki-laki tampan yang ternyata baru aku tahu malam ini adalah seorang CEO sebuah perusahaan yang baru buka cabang di kotaku. Dia hanya berlagak bukan siapa-siapa di depanku hanya untuk membuatku tidak merasa rendah diri.
Tepat jam 9 malam, kami keluar dari ruangan yang hampir sebagian tamunya kenal dengan kak Fariz itu. Bahkan rencananya aku mau mencicipi semua makanan yang tampak menggoda di meja prasmanan panjang itu, tak terelalisasi karena aku kehilangan nafsu makanku. Menikmati rasa senang, canggung dan melayang saat jadi pacar kak Fariz itu jauh lebih nikmat daripada memakan puding cantik dan cake-cake cantik yang adalah makanan paling ku puja di dunia itu.
Dan sepanjang dua jam yang singkat itu aku dipanggil sayang dan sayang.
Oh, my God...sekarang posisi Kim Taehyung member BTS itu telah di geser oleh kal Fariz, laki-laki di sampingku ini adalah idolaku.
Dia tampan, tajir, baik hati, sopan, manis, dewasa..tak ada yang kurang dari ya di mataku. Tetanggaku ini sudah fix jadi idolaku.
***
Nafasku tersengal saat keluar dari lobby hotel itu, aku bagai cinderella yang sebentar lagi kehilangan sepatu kacaku. Yah, paling tidak besok setelah mencuci gaun maroon mahal iniaku harus mengembalikannya pada kak Fariz.
"Terimakasih, Vin...kamu menyelamatkanku dari oerjodohan tante Erna itu." Kak Fariz melepas tanganku, tepat di area parkir nenuju tempat mobilnya berada.
Aku hanya cengar cengir tak jelas, dadaku gugup saat menatap senyum manisnya.
Ku pegang dadaku berusaha menenangkan jantungku, tapi jantungku malah seakan berusaha melompat dari tempatnya.
"Kamu luar biasa malam ini."
"Akh, soal acting itu biasa..." Aku terkekeh salah tingkah.
"Bukan itu, maksudku...kamu cantik sekali malam ini, Vin."
Wekkkk...!
Aku nyaris tak bernafas mendengar pujian yang di ucapkan kak Fariz.
"Vin..." Tiba-tiba Kak Fariz mendekat padaku.
"Maukah kamu benar-benar jadi pacar kak Fariz?"
"Haaaah...!" Aku merasa tubuhku serasa tersambar petir.
"Pa...pacar...pacar bayaran lagi?" Aku tergagap, jika tidak malam mungkin wajahku terlihat seperti kepiting rebus.
"Bukan, tapi pacar beneran. Sebenarnya, selama ini aku sudah lama suka dengan Vina..."
"Kak Fariz?"
"Sumpah, aku sudah jatuh cinta dengan Vina sejak pertama Vina mengantarkan baju bersihku enam bulan yang lalu."
Aku terkesima, mencubit lenganku sendiri, memastikan aku sedang tidak bermimpi.
"Kak Fariz tidak sedang bercanda, kan?"
"Kak Fariz serius, dua rius, seribu rius...!"
Aku benar-benar kehilangan kata-kata, bagaimana tidak ekspetasiku selama ini seseorang menembakku saat dinner atau mungkin di sebuah taman yang romantis. Ini malah di lapangan parkir hotel.
"Aku..."
"Yess or no?" Pertanyaan itu menuntut jawab.
"Eh..."
"Hmmm...Vina sebenarnya..."
"Yess...or no?"
Aku tak berkedip menatap wajah yang hampir berjarak beberapa jengkal dari depanku itu.
"Ye...yess..." Akhirnya aku mengumpul keberanianku dan menjawabnya. Hatiku bermekaran macam taman yang di penuhi bunga. Aku seperti sedang berada di dunia mimpi.
"Thankyou...i love you." Sebuah ciuman mendarat di bibirku yang masih melongo, singkat dan basah tanpa sempat aku menolaknya.
Astaga, ciuman pertama di bibirku itu terasa luar biasa, aku baru tahu, rasanya sangat aneh, indah dan memabukkan.
Oh, tetanggaku, kak Fariz, kamu Fix idolaku sekarang!!!!
(TAMAT YAAAAA.....😆😆😆😆)