Brugh
"Aduh! Kalo jalan pake mata dong. Jangan pake dengkul!" sungut Alma yang jatuh terjerembab karena tersenggol seseorang.
"Maaf, tapi kamu-nya yang sekali senggol langsung roboh," Orang itu menjulurkan tangannya berniat membantu.
Plak
Alma menepis tangan yang sudah terjulur tepat di hadapannya.
"Kalo gak ikhlas, gak usah sok baik!"
Alma berdiri menahan lututnya yang perih dengan ekspresi yang siap meledak.
"Kamu kalo--"
Ucapan Alma menggantung saat iris mata miliknya menangkap iris mata lawan bicara. Mulutnya menganga tanpa bisa dikontrol, disertai dengan mata yang semakin melebar. Tubuh pun serasa terpaku di tempat.
"Hey, ada apa denganmu?" Lelaki itu melambaikan tangan di depan wajah Alma.
Namun Alma tetap pada posisinya.
"Astaga! Jangan-jangan kamu kesurupan ya?! Hey, sadarlah!" Lelaki itu mulai panik, ia menggoyang-goyangkan tubuh Alma.
Alma seolah tersihir oleh wajah lelaki di depannya. Pemandangan terindah yang belum pernah ia temui secara langsung sebelumnya.
Apakah ini mimpi?
Jika iya, aku tak akan mau bangun. Aku lebih memilih hidup dalam mimpi bersamanya.
Gubrak.
Tubuh Alma seketika limbung, membuat lelaki itu semakin panik.
"Aduh, gimana ini? Cewek ini kenapa? Apa penyakit ayan-nya kumat? Menyusahkan!" Lelaki itu terus mendengus kesal, karena pagi-pagi sudah direpotkan dengan insiden seperti ini.
Lelaki yang akrab disapa Sungchan itu adalah orang baru di daerah sini. Jadi, belum mengenal siapa pun. Apalagi sepagi ini belum ada orang yang beraktivitas di luar rumah. Tak tega juga untuk membiarkan perempuan terkapar seorang diri di pinggir jalan, maka membawanya pulang adalah jalan ninjanya.
"Huftt, untung gak berat. Kalo berat mending aku tinggal aja tadi," Sungchan tak henti-hentinya mengomel saat sudah menurunkan tubuh Alma di atas ranjang.
Sungchan langsung membawa Alma ke kamar, karena ruangan lain masih berantakan, belum sempat ditata.
Setelah menunggu, dan tak ada tanda-tanda jika gadis itu akan segera terbangun, Sungchan memutuskan untuk mandi, karena keringat sehabis joging membuatnya risih.
'Ja jjigeo, cheese. Pilleum sogae chingu dadeul make V.'
Nada dering ponsel membuat Sungchan mempercepat kegiatannya, ia keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit bagian pinggang hingga lutut.
"Ya, halo?"
Saat sedang fokus menerima panggilan telepon, tiba-tiba Sungchan dikejutkan oleh teriakan nyaring yang menggangu pendengaran.
"KYAAAAA..... !!"
"Oh, maaf. Kita lanjutkan pembicaraannya nanti saja, hyung. Ada harimau ngamuk disini."
"Harimau ngamuk? Halo? Sungchan?!"
Pip.
Sungchan memutuskan panggilan sepihak, sebelum berbalik untuk melihat keadaan gadis yang baru siuman itu.
"Ada apa denganmu?!" tanya Sungchan sedikit emosi.
"Astaga! KYAA!!" Alma malah tambah histeris, langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Ya, ampun. Apakah aku sudah membawa orang gila masuk ke rumah?" Sungchan memijat pelipisnya untuk mengurangi denyutan di kepala.
"Kau ini kenapa? Salah makan atau gimana?" lanjutnya mencoba menghadapi gadis itu dengan sabar.
Perlahan Alma mengintip dari balik jemari. Dia terkesima dengan lelaki yang bertelanjang dada tepat di hadapannya itu. Tangannya terjulur untuk menyentuh badan kekar itu. Memastikan jika ini bukan mimpi.
Plak.
Sungchan segera menepis tangan jahil Alma.
"Kau beneran Sungchan? Jung Sungchan?!" tanya Alma dengan mata melebar.
"Ya, aku tahu, banyak orang mengenalku," balas Sungchan, cuek.
"Kamu habis ngapain aku?"
"Hah? Maksudnya?"
"Kamu gak abis berbuat yang macam-macam, kan?" todong Alma sambil mengamati setiap lekuk tubuh Sungchan.
Lelaki jangkung itu mengikuti arah pandang Alma. Dengan cepat ia berbalik lalu menyambar kaos dari lemari, dan memakainya, sebelum berbalik mendekati Alma yang terus mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Dengar, jangan berfikiran yang tidak-tidak. Kecuali otak kamu memang bermasalah. Aku cuma bantuin kamu, gak lebih," tutur Sungchan.
"Aku juga gak apa-apa kok, kalo udah kamu apa-apain," sahut Alma sambil tersenyum malu-malu. Malu-maluin maksudnya.
"Astaga! Aku bisa ikut gila lama-lama," Sungchan menggelengkan kepalanya. Kemudian ia berucap lagi," Lebih baik kamu pulang, sebelum kesabaranku habis."
"Gak mau pulang, maunya digoyang. Upss!" Alma menutup mulutnya yang mulai gak ada akhlak.
Sungchan langsung melotot mendengarnya. Kemudian tersenyum ramah. Senyuman yang mampu membuat hati Alma menghangat.
"Sebelum aku makin emosi, mending kamu pulang deh. Mau, ya?" tawar Sungchan sehalus mungkin, masih dengan senyum manis yang berusaha dipertahankan.
"Aku gak disuguhi minum atau sarapan dulu, gitu?" tanya Alma watados.
Sungchan melotot dengan senyuman semakin lebar yang malah membuatnya nampak seram.
"Awh, kiyowo," gumam Alma.
Set.
Sungchan sudah kehabisan stok kesabaran untuk menghadapi gadis itu. Dengan sekali tarik ia membimbing Alma menuju pintu depan.
"Maaf, tapi aku sibuk."
Brakk
Alma sedikit terkejut saat Sungchan menutup pintu dengan keras tepat di depan wajah. Ia semakin terkejut saat tahu jika ternyata Sungchan adalah tetangga barunya.
Siapa yang tak kenal dengan Sungchan, seorang idol yang sedang naik daun. Menjadi tetangganya adalah sebuah anugrah bagi Alma. Seluruh fans Sungchan akan merasa iri jika mengetahui hal ini.
Alma selalu memata-matai rumah Sungchan. Bila tahu lelaki itu ada di rumah, dengan berbagai alasan Alma akan berkunjung ke rumahnya dan memaksa untuk masuk. Awalnya Sungchan memang menolak, tapi lambat laun lelaki itu terbiasa dengan kehadiran Alma di sekitarnya.
Toh, mereka tetangga. Tak ada salahnya berbuat baik dengan tetangga.
"Hey, kau sedang apa?" tanya Alma yang baru saja datang menaruh piring berisi sushi buatannya di atas meja.
"Nulis lirik," jawab Sungchan sambil mencomot sushi dengan tangan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di genggamannya.
"Pake sumpit dong, aku ambilin, ya?" Alma langsung menuju dapur tanpa menunggu ijin dari si pemilik rumah.
Terlalu sering berkunjung membuat Alma hafal setiap letak ruangan dan interior rumah Sungchan. Si pemilik rumah pun tak mempermasalahkan hal itu, lagi pula ia juga butuh teman, mengingat hanya tinggal sendirian di rumah.
Alma kembali membawa sumpit yang kemudian ia letakkan di atas meja. Ia terus memperhatikan wajah idolanya dari samping sambil senyum-senyum sendiri.
"Al?"
"Alma?"
"WOY, ALMARHUMAH!" bentak Sungchan kesal, saat panggilannya tidak diindahkan Alma sama sekali.
"E-eh, apa?" Alma tersentak, namun matanya terus menatap lurus ke arah Sungchan.
"Kamu kenapa? Kesurupan lagi?" tanya Sungchan, menautkan alis. Tangannya sudah ia kibas-kibaskan di depan wajah Alma.
"Aku... "
"Kenapa? Sakit?"
Alma menggeleng.
"Lupa minum obat?"
Alma menggeleng lagi.
"Ah, aku suka tebak-tebakan. Huruf depannya apa? Berapa kata? Benda? Makanan? Nama orang?" Sungchan mulai meladeni Alma.
"Bisa jadi."
"Umm... " Sungchan nampak berfikir.
"Perasaan."
"Eh, gimana? Rasa?" tanya Sungchan bingung.
Alma lagi mabuk apa gimana? Kok, omongannya jadi ngelantur gini. Pikir Sungchan.
"Aku mau... "
"Mau apa?! Aku nyerah, deh. Jawab sekarang," tukas Sungchan sedikit memaksa, sudah tidak sabar dengan apa yang ingin Alma katakan.
"Aku mau nikah sama kamu. Will you marry me?" tanya Alma dengan sorot mata penuh harap.
Sungchan langsung menunjukkan ekspresi cengo andalannya.