Perkenalkan namanya Ribella Scoot, biasa dipanggil Riby 19 tahun, tiga bulan lagi ia genap 20 tahun, umur yang ia tunggu.
"Aaaargh! Anatomi sialan!" Riby mengacak rambutnya, berkeliling kamar mondar-mandir. Tugas ini membuatnya gila!
Ia gigit ujung pensilnya, membuang pantatnya kasar pada kursi belajarnya, merenung, meng-istirahatkan otak sejenak.
Mengingat, saat ia menemukan anatomi manusia yang sempurna. Tapi belum ia mendekat, ia sudah kehilangan jejak.
Lalu ia mengambil papan gambar dan mencoba memulai, mengambar anatomi tubuh yang ada di ingatannya, namun tak bisa ia gambar.
Mencoret sketsanya, dan meremas kertas gambarnya dengan kesal, lalu membuangnya sembarangan.
Frustasi.
Ia juga melemparkan pensil dan papan gambarnya juga pada meja gambarnya.
"Andy cepatlah!" Teriakkan dari luar jendela kamarnya,
"Ya dad!" Suara teriakkan teredam, terdengar dari dalam rumah.
"Disitu masih banyak kardus menunggu kau angkut son!" Keributan itu membuat Riby mengintip dari jendelannya, melihat pada rumah yang berhadapan dengan rumahnya.
Rumah itu dulu milik seorang kakek, Mr. Bernad. Lalu beberapa tahun kosong dan kini ia lihat keributan pemilik baru rumah didepannya. Tetangga baru rupanya, batin Riby.
Seorang lelaki muda, mungkin berumur diatasnya, bertopi putih, dengan kaos hitam dengan otot pundak yang terlihat rajinnya ia berolahraga, juga jeans hitam robek keluar dari rumah depannya, ia mengambil sarung tangan dikantongnya dan memakainya dikedua tangannya.
Ia membelakangi Riby. Ia berjongkok mengangkat dua kardus besar. Riby tak bisa mengalihkan padangannya pada lelaki itu. Otot tangannya menyebul kekar terlihat dari jendela Riby.
Dengan gerakan kasarnya Riby meraih buku gambar dan pensilnya, mencoret sketsa pada buku gambarnya, ini dia. Ia menemukan target yang pas.
Matanya berbinar kesenangan dengan sudut bibir naik, menyeringai lebar mengamati. Lelaki itu, Andy Bernad. Tetangga barunya.
*
*
*
Hubungannya kedua keluarga itu semakin dekat kala mereka sering mengadakan kegiatan bersama. Dinner, piknik juga barbeque-an
Ternyata Andy satu kampus dengannya. Riby selalu diam diam mengikuti Andy. Dengan mengambar banyak sketsa Andy di buku gambar kecilnya.
Riby tinggal dengan keluarga bibinya. Ia yatim piatu sejak kecil. Ia diasuh oleh keluarga ibunya, Bibi Rose adalah adik ibu Riby.
Namun Riby tak terlalu dekat dengan bibi dan sepupunya yang memang memberi jarak padanya.
Ia kuliah kedokteran juga karena kemampuan otaknya, dan beasiswa yang ia dapatkan.
Uang warisannya ada pada pengacara mendiang orangtua Riby dan akan diserahkan pada Riby saat usiannya 20 tahun, sekarang hak asuh Riby diberikan oleh bibinya.
Si bibi tidak melakukannya secara gratis, ia mendapat tunjangan dari merawat Riby. Walaupun tak pernah benar-benar mengasuh ponakannya itu.
Di kampus Andy merasa risih oleh tatapan yang Riby berikan padanya. Andy yang charming dengan mudahnya masuk pada kalangan hits kampus itu,
Sedangkan Riby dengan rambut kepang tebalnya, yang suka menyengir aneh masuk dalam kalangan manusia aneh yang tak dipedulikan bahkan tak jarang jadi bahan olokkan.
Dengan terang-tetangan Riby mengikuti Andy kemanapun dengan tangan tak diam, ia mencoret kertasnya.
"Hey An," Sapa Paula, siswi tercantik, juga termasuk gerombolan Andy. Menyapanya.
"Apa yang aku kau lakukan disitu freak!" Julia, mendorong bahu Riby yang menghalangi jalannya. Juga ada Aliya, antek-antek Paula melihat sinis kearah Riby.
Riby tak menanggapinya, ia terus sibuk dengan sketsanya.
Roby teman Andy datang dan merebut buku sketsa miliknya. Lalu melemparnya jauh. "Pergi dari hadapan kami, Aneh!"
Riby berlari kearah buku sketsanya dibuang tak mengindahkan depan ia menabrak Luke, anak Hits juga teman Andy. "Merusak pemandangan" ia mendorong Riby.
*
*
*
Andy berpose tanpa atasan didepan Riby dengan wajah angkuh juga tak sukanya.
Harusnya hari ini ia pergi nonton dengan Paula. Tetapi dengan galak sang ibu, Donna, memaksanya membantu Riby dalam menggambar.
"Berapa lama lagi" Kesalnya pada Riby. Tak tahu kenapa ia merasa sangat amat enggan juga risih dengan Riby yang selalu mengikuti bahkan mengintipnya.
Ingin mengadu pada orang tuanya, ia tahu orang tuanya tak kan percaya, ia pernah mencoba berbicara saat makan malam. Jawaban kedua orang tuanya sudah ia sangka.
"Ia tertarik denganmu son!" Jawaban Ayahnya.
"Ayolah Dad" malas Andy. Ayahnya hanya terkekeh mengoda anaknya.
"Biarlah sayang, ia penasaran dengan anak Mom ini, Waah... bagus, jika kau juga menyukainnya" Ya ibu Andy suka dengan Riby, yang polos, pintar juga lucu
"Tapi itu sangat menganggu dan aneh, Mom" Bantah tak suka Andy.
"Hush! Sudah habiskan makananmu" Donna, memberikan dua potong pancake pada piring Andy.
Yang tak kedua orang tua Andy tahu, banyak sketsa Andy tertempel pada hampir seluruh kamar Riby yang remang.
Ia sekarang sedang mengintai makan malam keluarga itu, seringaian mengerikannya melebar, mendengar obrolan keluarga itu dari earphonenya.
Riby menyadap rumah Andy.
*
*
*
Riby mengasah sebilah pisau. Menerawangnya kilatan pisau tajam membuatnya tersenyum senang.
Ia mendekat pada tubuh yang telah ia ikat tangan dan kakinya pada pinggiran ranjang. Seorang lelaki tampak tak sadarkan diri.
Ia hanya mengenakan jeansnya tanpa atasan. Badan kekar atletisnya, Riby merabanya, merasakan liat pada dada lelaki itu yang tak terganggu.
Riby kembali ke kursi kulitnya. Mengambil buku gambarnya dan mulai menggambar lagi.
"Eeugh" Suara dari lelaki itu, matanya menyipit karena cahaya yang menyilaulan matanya.
"Kau sudah sadar?" Meletakkan alat gambarnya dan mengambil pisaunya.
"Dimana aku?" Suara parau lelaki itu
"Tenang Andy kau aman bersamaku"
Riby berdiri, berjalan mendekati Andy, ya lelaki itu Andy.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Pekiknya. Andy meronta, mencoba menarik ikatannya. Ia berontak.
Andy menatap tajam wajah polos dengan seringaian bengis itu.
"Hey Andy say Hi to your friend" Andy membelalak, melihat toples toples kaca dengan banyak organ yang diawetkan didalamnya.
"Ini si cantik Paula, ini Roby, lihat kan sangat Roby sekali. Ini... Hi Alisa juga Julia say hi to Andy... Oh Andy jangan lupakan Luke...lihat tangannya melambai padamu" Riby mengabsen satu persatu toples kaca itu yang didalamnya terdapat potongan organ teman Andy yang membulinya.
"AAAARGHHH..."
"AAAAAARGHHHH..." Andy syok ketakutan menangis dan berteriak.
"Huhehehe ..." Riby mengelus tubuh Andy dengan pisaunya. Ia sangat senang. Amat senang.
Kedua orang tuannya dibunuh oleh perampok. Riby kecil melihat bagaimana kedua orang tuannya disiksa oleh perampok dari tempatnya bersembunyi.
Riby kecil bersembunyi di bawah tempat tidur kamar ibunya. Ia mengintip bagaimana dengan keji perampok itu memu tilasi kedua orang tuanya.
Bukannya takut Riby kecil melihat potongan jari manis ibunya yang mengelinding kearahnya dengan binar gembira.
*
*
*
"Cam apa tak apa membawanya kesini?" Tanya Wina pada Camy saat pertama kali membawa Riby ke Darkhole.
Wina tahu bagaimana Riby, wajahnya boleh polos dengan senyum manis tapi, sesama psiko biasanya saling memahami.
"Dia anggota baru kita?" Tanya Jo melihat Riby yang sibuk dengan pensil juga buku gambarnya.
"Wah adik kecil yang lucu" Saat Jo bertemu tatap dengan Riby yang menyengir seperti bocah kecil padanya.
"Kau tak akan berkata seperti itu jika kau tau sebenaranya" Camy melewati Jo, melangkah dimana Riby menunggunya.
"Jangan tertipu pada kepolosannya" Amber menepuk pundak Jo. Lalu berlalu, kembali keruangannya.
"Hah! Hey apa aku melewatkan sesuatu?"
Bingung Jo.
"Kau ingat kita pernah membahas serial killer cincang?" Wina menyilangkan kedua tangannya didada.
"Ah itu yang membuatku moggok makan daging selama beberpa bulan? Yang katanya lebih beringas dari pada dirim... jangan bilang... kalian becanda?" Jo melebarkan matanya, hingga pupil hitamnya terlihat bulat sempurna.
"Nggak mungkin... si polos itu... cincang..." Wina hanya mengangguk menjawab pertanyaan Jo yang susah payah menelan ludahnya. Melihat Riby yang menyingir pada mereka lagi.
"hati-hati jika dia melihatmu menjadi target kau akan di cincangnya sambil menyengir seperti yang kau lihat itu!" Wina melambai saat Riby melambai padanya, Jo pun ikut melambai dengan kaku.
"Selamat datang di Darkhole" Camy menyalami Riby.
*****
Huffftt... aku nggak tahu kenapa tema yang harusnya semanis gulali enjot jadi begini, mengerikan haha
Okay ini cerita salah satu anggota Darkhole Laboratory. jangan lupa mampir ke cerpen anggota yang lain ya ilmuwan Gila, Putri Es, Psikopat Cantik juga Penggila Uang. dikomen dijempol juga love