Rasanya baru kemarin, ya, kita makan nasi sambil disuapin ibu. Aku masih ingat rasanya kemarin main sama teman sampai sore dan dimarahin ibu yang sudah siap dengan alat perangnya.
Dulu, kalau sudah dengar langkah kaki ibu dan teriakannya yang marah-marah aku panik lalu semakin mengencangkan lari. Tapi sekarang, kalau dengar ibu marah sampai teriak-teriak, bukannya lari, aku malah diam sambil ikut merasakan sakit dan pedih di hati.
Saat kecil aku kira menjadi besar itu menyenangkan, bisa hidup bebas tanpa dimarahin ibu, bisa jajan sepuasnya karena punya uang sendiri, bisa main seharian, dan gak perlu tidur siang. Sekarang mau tidur siang saja gak bisa.
Aku nyesal, kenapa dulu aku gak nurut sama Ibu? Sakit rasanya menyadari yang ada di pikiranku sekarang adalah, "makan apa ya besok? Uang ku tinggal segini." padahal dulu di pikiranku hanya ada, "Si Siti punya kelereng 20, masa aku cuma 10?"
Menyaksikan betapa peliknya hidupku sendiri saat meminum kopi sebelum bekerja. Menyaksikan betapa sulitnya jalur-jalur hidup yang sudah ku lewati hingga akhirnya aku bisa berada di titik sekarang. Menghirup udara segar, sambil menatap bayang wajah ibuku yang mulai berkeriput.
Kemarin diumur belia, 13 tahun. Ibu bilang, "anak cewek jangan sering-sering keluar, bahaya. Banyak orang bejat tukang perkosa! Kamu mau diculik?!"
Aku kira perkataan ibu benar, bahwa penjahat kelamin hanya ada di luar rumah. Namun, setelah itu aku menyadari bahwa baik di dalam rumah atau luar, semua sama. Buktinya, aku merasakan sendiri.
Ingatan jelas, saat kakak kandungku melakukan pelecehan. Menyentuh ini dan itu. Menyentuh barang pribadi ku. Aku masih ingat saat tangannya bersandar di tubuhku. Sekarang, semuanya terlihat menjijikan. Aku menjijikan.
Ketika aku beranikan diri bercerita pada orang tua, mereka yang ku percaya bahkan tidak mempercayaiku. Aku berkali-kali bilang, "Pak, Kakak melakukan itu. Aku gak bohong, aku gak bohong..."
Kenyataan tidak sesuai ekspektasi. Aku tidak kuat saat melihat Ayah menangis bahwa merasa gagal telah mendidik Kakak. Terpaksa, aku mengatakan kebohongan yang kini menghantuiku hingga rasanya sakit setiap ku ingat, "gak papa, Pak. Kakak enggak melakukan itu. Aku yang bohong. Aku bohong, Kakak gak apa-apa in aku."
Dan kalian tahu apa yang lebih sesak? Ayah mengatakan bahwa Kakak gak mungkin melakukan itu ke aku. Bahkan setelah beberapa hari, Ayah justru membaik setelah aku berkata bahwa kakak tidak melakukan apapun padaku.
apalagi alibi kakak sebagai 'anak baik', 'anak berjasa' dan segala-galanya. Hari itu aku sadar, Kakak adalah anak kesayangan Ayah dan Ibu. Aku cuma gumpalan manusia gak guna yang tidak sengaja hidup di dunia.
Padahal sudah biasa, tapi kenapa tetap sakit?
Sekarang aku sudah besar. Sudah dewasa. Sudah berhasil setidaknya merintih karir yang aku inginkan. Tapi aku masih belum bisa lepas dari masa lalu. Semuanya terbayang setiap aku melihat badanku sendiri. Mulai dari kepala hingga kaki, semuanya terasa menjijikan.
Melihat teman-teman ku yang sudah menikah dan punya anak, aku iri. Tapi setiap ada laki-laki yang mau mendekat, aku selalu membangun benteng besar di antara kami.
Aku sudah sadar. Menjadi besar tidak semenyenangkan itu. Aku gak percaya siapapun. Termasuk diriku sendiri.