Sebuah mobil berwarna hitam melaju dijalanan yang sepi, membelah malam yang sunyi. Karena saking sepinya jalanan dan tak ada pemandangan yang bisa di lihat karena masih gelap dan suasananya juga berkabut, sampai-sampai salah satu dari empat orang di dalam mobil itu mengeluh bosan.
"Ayah... masih jauh lagi, ya?" tanyanya bosan, menatap keluar jendela mobil yang tak terlihat ada apa-apanya itu selain hutan yang temaram dan juga berkabut.
"Sebentar lagi kita mau sampai kok. Sabar aja, Dul." ucap sang ayah, Pak Rahmat, yang sedang fokus menyetir.
"Idul sudah sabar dari tadi kok, yah." sahut Idul sambil meregangkan tubuhnya dan langsung terdengar bunyi 'kretek' karena sudah terlalu lama duduk dari tadi.
"Ya apa boleh buat, nak. Jalanan tadi macet banget sih, sampai-sampai kita harus sahur dijalanan juga. Kamu kalau bosan, kenapa nggak tidur saja?" ucap Pak Rahmat.
"Idul nggak bisa tidur, yah." sahut Idul sambil melihat ibu dan adik perempuannya yang sudah terlelap di bangku belakang.
Namaku Idul.
Aku, ayah, ibu dan adikku, Fitri, mudik ke kampung halaman tempat kakek dan nenek tinggal dan merupakan kampung tempat kelahirannya ayah setelah sekian lama.
Selama perjalanan, setelah keluar dari jalanan kota yang super padat dan macet, aku merasa bosan karena tak ada yang kulihat karena harinya masih gelap dan berkabut.
"Nah, kita sudah sampai." ucap Pak Rahmat senang.
Mereka memasuki gerbang masuk desa yang gerbangnya terlihat samar-samar karena terhalang oleh kabut.
"Beneran disini, yah? Hati-hati, yah. Takutnya kita salah masuk dan malah sampai di dunia lain nanti." ucap Idul takut-takut.
"Hush, jangan ngomong sembarangan." tegur Pak Rahmat.
"Kayaknya desa ini biasa-biasa aja deh. Nggak ada sesuatu yang istimewa." batin Idul saat mobil mereka menyusuri jalanan desa dan rumah-rumah warga.
Baru saja Idul bicara begitu dalam hati, tiba-tiba dirinya melihat sesuatu yang membuatnya kaget bukan main.
"Aaaaaaaaa....!"
CIIIIIIIT....!
BUGH!
"Aduh... Ayah... Ada apa sih, yah...?" tanya Fitri yang 'terpaksa'bangun dari tidurnya, suaranya parau dan tangannya memegangi wajahnya yang kesakitan.
Ternyata suara benturan yang keras tadi berasal dari Fitri yang membentur bangku didepannya gara-gara sang ayah yang tiba-tiba mengerem mendadak.
"Ada apa? Kita sudah sampai?" tanya sang ibu, Bu Suci, terkaget-kaget. Untunglah dia tak bernasib sama dengan anak bungsunya karena dirinya memakai sabuk pengaman.
"M-maaf, ayah ngerem mendadak gara-gara kaget dengar teriakannya Idul." ucap Pak Rahmat merasa bersalah.
"Kamu kenapa, Dul?" tanya Pak Rahmat bingung melihat wajah Idul yang tegang dan pucat pasi di tempat duduknya.
"T-t-tadi aku lihat penampakan, yah." ucap Idul dengan suara bergetar sambil menunjuk ke arah luar jendela mobil.
"Penampakan apaan? Mana? Nggak ada apa-apa tuh. Berkabut begini. Salah lihat kali?" kesal Fitri.
"Beneran! Aku lihat tadi, ada tiga penampakan. Penampakan putih besar sama penampakan putih kecil di atas mereka ada bola apinya." Idul membela dirinya.
"Ah, sudahlah. Gara-gara kakak, mukaku jadi sakit begini, tahu nggak." mangkel Fitri.
"Salahmu sendiri, sudah dibilangin juga. Kalau di suruh ibu pakai sabuk pengaman, ya di pakai. Apa susahnya sih?" kesal Idul.
Entah kenapa, kakak beradik ini malah bertengkar saja.
"Idul, Fitri. Jangan bertengkar." tegur Bu Suci. Merekapun langsung diam.
Lalu Pak Rahmat melajukan mobilnya lagi dan merekapun sudah sampai di tempat tujuan mereka. Pak Rahmat mengetuk pintu rumah tempat ia dibesarkan dulu itu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam... Alhamdulillah... Akhirnya kalian datang juga. Kami sudah menunggu kalian." sambut dua orang yang sudah lanjut usia senang saat pintu di buka.
"Kakek... nenek... " teriak Idul dan Fitri, memeluk kakek dan nenek mereka.
"Maaf, yah, bu, datangnya malam-malam begini. Soalnya di jalan macet banget tadi." ucap Pak Rahmat.
"Nggak papa. Aduh... cucu-cucuku sudah besar rupanya. Apa kalian sudah pada sahur?" tanya nenek.
"Kami sudah sahur di jalan, nek." sahut Fitri.
"Aduh... kasihan. Ya sudah, yuk cepetan masuk. Kalian pasti capek, istirahat ya. Kalau mau shalat subuh, ayo bareng kakek sama nenek di rumah aja." ajak kakek.
"Iya, kek." sahut Idul dan Fitri.
Siangnya...
"Ayah mau kemana?" tanya Idul pada ayahnya.
"Ayah mau jalan-jalan keluar. Mau ikut?" ajak Pak Rahmat dan disahuti anggukan dari Idul.
"Ikut... " teriak Fitri, berlari mengikuti mereka.
Mereka bertigapun asyik menyusuri desa kelahiran ayah mereka itu. Ternyata kalau siang udaranya bersih dan tidak ada kabut seperti subuh tadi.
"Rahmat? Kamu Rahmat kan?" sapa seseorang tiba-tiba. Sontak Pak Rahmat dan kedua anaknya menoleh ke orang itu.
"Memang benar Rahmat. Ini aku Maulana, masih ingat nggak?" tanyanya lagi.
"Oh... Iya, Maulana!" seru Pak Rahmat senang. Merekapun saling berpelukan setelah sekian lama tak berjumpa.
"Idul, Fitri, kenalin ini teman ayah waktu kecil. Ayo salim." suruh Pak Rahmat. Idul dan Fitri menurut dan bergantian salim pada Pak Maulana.
"Oh iya, ini anakku, namanya Ramadhan." ucap Pak Maulana memperkenalkan seseorang yang dari tadi ada disampingnya.
"Hai." sapa Ramadhan ketus dan datar.
"Hai." sapa Idul canggung dan Fitri yang terlihat takjub melihat Ramadhan.
"Maaf, ya. Anakku ini orangnya nggak begitu banyak ngomong." ucap Pak Maulana.
"Nggak papa." ucap Pak Rahmat maklum.
Pak Rahmat dan Pak Maulanapun asyik larut dalam obrolan mereka. Dan dari obrolan itu diketahui kalau teman masa kecil Pak Rahmat ternyata kepala desa di tempat itu dan anaknya, Ramadhan, ternyata seumuran dengan Idul.
Tiba-tiba Fitri bertanya sesuatu dan jadi memutuskan obrolan ayah dan teman ayahnya.
"Maaf, pak, boleh tanya? Apa benar disini ada penampakan hantu?"
"Fitri!" tegur Idul sambil mencubit pinggang adiknya itu.
"Hah? Hantu? Nggak ada tuh. Walaupun desa ini subuhnya berkabut dan terlihat jadi misterius, tapi nggak ada cerita atau laporan tentang hantu kok selama ini." jawab Pak Maulana bingung. Ramadhan terlihat kaget mendengarnya.
"Tuh kak, dengerin. Nggak ada kan. Kakak pasti sudah salah lihat." ledek Fitri.
"Hei, beneran tahu." jengkel Idul karena tak ada yang mempercayainya dan selalu di ledek terus-terusan oleh Fitri.
Pak Rahmat melerai kedua anaknya yang bertengkar itu dan menceritakan pada Pak Maulana dan Ramadhan tentang apa yang sudah di lihat oleh Idul saat datang ke desa tadi. Ramadhan terlihat berpikir mendengarnya.
Kembali ke rumah kakek dan nenek...
"Duh... sinyal agak susah ya disini." keluh Fitri yang dari tadi berjalan kesana kemari sambil mengangkat handphonenya tinggi-tinggi mencari sinyal.
"Namanya juga desa, Fit. Pastinya sinyal agak susah." ucap Idul sambil rebahan santai di sofa.
"Sayang banget. Padahal aku mau cerita di grup soal kakak yang ketakutan melihat hantu tadi." ucap Fitri terkekeh meledek.
"Eh? Jangan! Awas kamu!" teriak Idul marah dan langsung kejar-kejaran dengan Fitri untuk merebut handphonenya Fitri.
"Idul... Fitri... " tegur Bu Suci.
Lalu siang berganti jadi malam dan waktu berbuka puasa bersamapun tiba. Sampai waktu sahur lalu waktu subuhpun tiba.
Tap, tap, tap...
Terdengar suara langkah seseorang menembus jalanan desa yang sunyi dan berkabut itu. Langkahnya terhenti dan sosoknya bersembunyi di sebuah pohon yang rimbun.
"Kalau tidak salah di sekitar sini deh." gumamnya yang ternyata orang itu adalah Idul.
Ternyata Idul penasaran dan diam-diam pergi sendirian untuk membuktikan kalau hantu yang dilihatnya itu memang benar adanya
"Nga... pain...?" tanya seseorang di belakang Idul dengan suara seramnya.
"Aaaaa....!" teriak Idul histeris.
"Ahahaha... Kakak takut, ya?" ledek Fitri tertawa.
"F-Fitri? Ngapain kamu disini?" tanya Idul kesal sambil memegangi dadanya yang dagdigdugan.
"Kakak yang ngapain disini? Kakak tadi tiba-tiba menghilang, ya jadinya aku ikutin aja kesini." ucap Fitri apa adanya. Idul hanya terdiam.
"Aaah... Aku tahu. Jangan-jangan kakak mau cari hantu itu, ya? Padahal kakak kan penakut sama hantu." ledek Fitri.
"Apa boleh buat. Habisnya kamu ngeledek aku terus sih. Jadinya aku harus membuktikan kalau omonganku itu benar kan." mangkel Idul.
"Hahaha... Padahal kakak sudah kelas 2 SMA, masa masih takut sih sama hantu? Coba belajar dari adikmu yang kelas 3 SMP ini." ucap Fitri menyombongkan dirinya.
"Dih, masa sih?" kesal Idul.
Saat kakak beradik ini asyik adu mulut, tiba-tiba mereka terkejut karena melihat sesuatu.
"I-i-i-itu... I-i-itu... " tunjuk Idul dengan suara yang tergagap.
Di dalam kabut, dikejauhan terlihat samar-samar sosok yang di lihat oleh Idul kemarin. Sosok putih besar dan sosok putih kecil melambai-lambai dan di atas sosok itu ada bola api yang mengikuti mereka.
"Aaaaaa....!" teriak Idul dan Fitri, lari terbirit-birit dari sana.
"Aduh, pantas saja berat. Kok kamu bisa naik kepunggungku sih?" tanya Idul kesal dan ngos-ngosan karena tahu-tahu dia menggendong Fitri sambil berlari.
"I-itu tadi beneran hantu, kak?" tanya Fitri syok.
"Makanya, percaya kan? Siapa tadi yang bilang aku penakut tadi?" kesal Idul, menyuruh Fitri turun dari gendongan, tapi Fitri malah tak mau turun karena masih syok dan keenakan.
"Kalian sedang apa?" tanya seseorang tiba-tiba dihadapan mereka.
"Oh, Ramadhan." kaget Idul.
"Hai, kak. Kami tadi habis ketemu sama hantu loh." ucap Fitri apa adanya.
"Hhh... Memangnya ada buktinya kalau kalian habis ketemu hantu tadi?" tanya Ramadhan dengan wajah datarnya.
"Ng-nggak ada." sahut Idul dan Fitri.
"Iya juga, ya. Aku lupa merekam saking takutnya tadi." ucap Idul.
"Daripada ngomongin hantu terus yang nggak ada itu, kalian mau shalat subuh ke Mesjid juga kan?" tanya Ramadhan mengingatkan sambil berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Cih, sok banget sih dia itu." decak Idul tak senang.
"Tapi ganteng." ucap Fitri terpesona.
"Aku juga ganteng tahu."
"Tapi, kakak masih kalah ganteng dari dia." ledek Fitri.
"Turun!" marah Idul.
"Nggak mau... " Fitri menolak turun dari gendongannya.
Merekapun berkumpul kembali di Mesjid bersama orangtua, kakek dan nenek mereka lalu shalat subuh berjamaah.
"Hei, kalian mau kuberi tahu sosok-sosok yang kalian lihat tadi nggak?" tanya Ramadhan setelah selesai shalat subuh.
"Oh, jadi akhirnya kamu percaya kalau ucapan kami tentang hantu itu benar?" tanya Idul berharap.
"Nggak!" jawab Ramadhan tegas dan datar.
Lagi-lagi Idul berdecak kesal dibuatnya. Walaupun kesal, Idul dan Fitri tetap mengikuti Ramadhan. Dan Ramadhan terlihat menyapa seorang nenek yang masih memakai mukena yang ditangannya terlihat membawa obor dan cucunya yang sepertinya berusia 9 tahun berada di samping nenek itu.
"Loh? Ngapain kita jadi ikut-ikutan dia mengantar nenek dan cucunya itu pulang?" bisik Fitri pada Idul.
"Entahlah." sahut Idul bingung juga.
"Eh, tunggu sebentar. Coba deh, perhatikan nenek yang sedang membawa obor itu dan cucunya. Bukankah mereka terlihat seperti sosok hantu yang tadi kita lihat, ya?" tanya Idul sambil berpikir.
"Iya juga. Jangan-jangan..." ucap Fitri.
Nenek dan cucunya itu pamit setelah berterima kasih pada Ramadhan, Idul dan Fitri karena sudah di antar sampai ke depan rumah mereka.
"Jadi, apa kalian sudah tahu sosok-sosok yang kalian lihat tadi?" tanya Ramadhan saat mereka berjalan kembali untuk pulang ke rumah.
"Ya, kami sudah tahu. Sosok itu adalah nenek dan cucunya yang sedang membawa obor untuk pergi shalat subuh. " jawab Idul lega. Fitri mengangguk mengiyakan.
"Benar. Nenek Khadijah dan Ridho memang suka menggunakan obor kalau berjalan di malam hari. Dulu aku juga pernah salah sangka dan berpikiran ada hantu juga di desa ini, tapi setelah aku selidiki ternyata itu adalah sosok nenek dan cucunya."
"Mereka hanya tinggal berdua di rumah itu. Sejak menantu perempuannya meninggal, karena sedih dan patah hati, putra nenek satu-satunya pergi merantau ke kota, meninggalkan mereka saat Ridho masih sangat kecil. Setelahnya putranya tak kembali dan tak ada kabar darinya lagi." ucap Ramadhan panjang lebar. Idul dan Fitri terlihat sedih mendengar cerita Ramadhan.
"Hei, tunggu. Itu berarti kamu juga sama penakutnya seperti kami juga kan dulu?" ledek Idul terkekeh senang.
Wajah Ramadhan terlihat memerah malu menyadari kecerobohannya yang sudah keceplosan.
"Duh... Imutnya..." batin Fitri gemas melihat Ramadhan yang malu.
Entah kenapa, ketiga remaja ini malah tertawa bersama-sama.
Siangnya, Idul dan Fitri berkunjung ke rumah kepala desa, lebih tepatnya untuk menemui Ramadhan. Dan mereka terlihat sudah semakin akrab saja sejak shalat subuh tadi.
"Bapak tinggal sebentar dulu, ya. Ada keperluan soalnya." pamit Pak Maulana.
"Iya, pak." sahut Ramadhan, Idul dan Fitri.
"Jadi, sesuai dengan perbincangan kita, kita berencana akan mempertemukan Nenek Khadijah dan Ridho dengan anak nenek ini." ucap Idul serius.
"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Ramadhan.
"I-iya juga, ya."
"Aku tahu! Bagaimana kalau kita minta bantuan sama Kak Nur, teman sekelas kakak? Ayahnya kan polisi, kita minta tolong sama ayahnya saja." usul Fitri.
"Ya kali... Kita aja nggak ada foto terbarunya anak Nenek Khadijah, gimana bisa minta tolong coba? Dan lagian, ayahnya Nur juga pasti lagi sibuk banget mengurus arus jalan mudik kan?" ucap Idul sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Iya juga, ya. Sayang banget. Padahal ini sekalian kesempatan kakak buat bisa ngobrol dengan Kak Nur. Kakak kan suka sama dia... " goda Fitri.
"Apaan sih kamu, Fit?" marah Idul dengan wajah yang merah merona. Entah kenapa, kakak beradik ini malah bertengkar saja.
"Hei, sudah, sudah. Ingat, lagi puasa." lerai Ramadhan yang terlihat jengah melihat mereka.
Tiga hari kemudian...
"Hhh... Sudah sampai sekarang, kita masih nggak tahu juga bagaimana caranya mempertemukan nenek dan cucunya dengan putranya nenek." ucap Idul lesu.
Dia, Fitri dan Ramadhan saat ini sedang jalan-jalan mengitari desa.
"Hei, siapa tuh?" tanya Fitri sambil menunjuk mobil yang melaju memasuki jalanan desa.
"Kayaknya mobil itu pergi ke arah rumahnya Nenek Khadijah deh." ucap Ramadhan.
"Iya, benar. Ayo kita ikuti." usul Idul.
Dan benar saja, mobil itu memang berhenti di rumah Nenek Khadijah dan keluarlah seorang pria dari tempat kemudi mobil itu.
"Ibu... " teriak lirih pria itu, matanya terlihat berkaca-kaca.
Nenek Khadijah nampak sangat terkejut dan mematung beberapa saat.
"Rezki?" teriaknya tak percaya.
Anak dan ibu itupun langsung berpelukan dengan deraian air mata karena sudah sekian lama tak berjumpa.
"Ridho... Ayahmu sudah pulang." panggil Nenek Khadijah pada cucunya dengan suara yang terisak.
"Alhamdulillah... Akhirnya do'aku dan nenek terkabul juga. Akhirnya ayah pulang juga. Selama ini, kami sudah menanti-nantikan kedatangan ayah setelah sekian lama." ucap Ridho sesegukan di pelukan sang ayah yang sudah sangat dirindukan kehadirannya.
"Maafkan ayah, nak. Maafkan aku, bu. Karena keegoisan dan hanya memikirkan perasaanku sendiri, selama ini aku sudah durhaka dan malah melupakan ibu dan anakku."
"Aku menyadari semua kesalahanku saat mendengar seorang ustadz berceramah. Hatiku langsung sesak mendengarnya, aku sangat menyesal. Maafkan aku, bu... " isak Rezki tak henti-hentinya.
"Ibu dan Ridho sudah memaafkan kamu, nak. Yang terpenting sekarang kamu sudah kembali pulang." ucap Nenek Khadijah mengusap-usap bahu anaknya itu.
"Alhamdulillah... "ucap Ramadhan, Idul dan Fitri bahagia, mereka bersembunyi dipepohonan menyaksikan keluarga itu dari kejauhan.
"Tanpa bantuan kita, asal terus berdo'a dan niat baik, Allah Sang Maha Penyayang sudah mengabulkan segala do'a-do'a mereka." ucap Ramadhan dan disahuti anggukan setuju dari Idul dan Fitri.
"Entah kenapa, aku jadi teringat ayah dan ibu." ucap Fitri sendu.
"Iya, aku juga. Selama ini, kita sudah sering bertengkar dan membuat ayah dan ibu kesusahan dengan kelakuan kita. Dan terkadang kita suka nggak mendengarkan apa yang di suruh mereka, padahal kita juga tahu kalau semua itu demi kebaikan kita. Kalau begitu, ayo kita juga harus minta maaf sama ayah dan ibu." ucap Idul dan disahuti anggukan semangat dari Fitri sampai Ramadhan juga.
Lalu, ketiga remaja ini pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Idul dan Fitri langsung meminta maaf pada ayah dan ibunya dengan menangis tersedu-sedu. Sampai ayah, ibu, kakek dan nenek mereka bingung.
"Iya, iya. Ayah dan ibu sudah memaafkan kalian." ucap Bu Suci.
"Kalian harus janji nggak akan bertengkar lagi dan menurut sama perkataan ayah dan ibu, ya." ucap Pak Rahmat mengingatkan.
"Iya, ayah, ibu." sahut patuh Idul dan Fitri.
Idul Fitri memiliki arti kembali suci dari dosa dan kesalahan. Begitulah arti nama kami kalau digabungkan. Walaupun begitu, kami juga manusia yang tak luput dari segala salah dan dosa. Dan kami juga berusaha untuk memperbaiki semuanya.
Dan, hari demi haripun berlalu sampai pada malam takbiran dan hari lebaranpun tiba. Warga desa berbondong-bondong ke Mesjid untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sampai...
"Nggak kerasa ya, liburan kita disini hampir selesai." ucap Fitri. Dia, Idul dan Ramadhan saat ini sedang bersantai melihat pemandangan desa dari kejauhan dari atas bukit.
"Iya, besok kita akan pulang ke kota." ucal Idul.
Entah kenapa, Ramadhan terlihat memasang raut wajah sedih.
"Kalau kalian pulang ke kota, kita sering-sering kasih kabar ya lewat grup." ucap Ramadhan sendu.
"Tentu saja, pasti." janji Idul dan Fitri.
"Sebelumnya, aku mau minta maaf sama kalian." ucap Ramadhan tiba-tiba.
"Loh? Kenapa?" tanya Idul dan Fitri bingung.
"Karena waktu pertama kali bertemu, kupikir kalian orang kota itu sombong. Makanya aku menunjukkan rasa tak sukaku pada kalian tanpa alasan yang tak jelas. Ternyata, selama ini aku sudah salah menilai kalian." ucap Ramadhan malu-malu.
"Kami juga minta maaf, karena waktu pertama kali bertemu, kami juga mengira kamu orang yang ketus dan tak bisa didekati. Ternyata selama ini kita cuma salah paham saja." ucap Idul merasa bersalah.
"Kami? Aku nggak berpikiran begitu tuh." bantah Fitri.
Dan ketiga remaja inipun langsung tertawa bersama-sama.
Keesokan harinya, kami kembali pulang ke kota. Kami di antar oleh kakek, nenek, Ramadhan dan kedua orangtuanya. Ramadhan terlihat sedih melepas kepergian kami, begitu pula denganku dan Fitri. Banyak hal yang sudah kami lalui bersama di desa ini.
Dan selama diperjalanan, aku dan Fitri selalu takjub memandang desa ini dari kejauhan.
Walaupun desa ini subuhnya terlihat suram saat kabut datang, tapi lihatlah saat matahari memancarkan sinarnya. Menghilangkan kesan menyeramkan kabut yang selalu menyelimuti subuh dan menampilkan pemandangan indah seluruh desa yang tidak kami lihat sebelumnya saat pertama kali datang ke desa ini.
Sungguh, Ramadhan kali ini merupakan Ramadhan terindah dan tak akan kami lupakan pastinya.
Beberapa tahun kemudian...
"Ramadhan... "
"Kak Ramadhan... Sini... " teriak Idul dan Fitri memanggil nama Ramadhan. Yang dipanggil menoleh dan mendatangi mereka sambil tersenyum setelah selesai kampus.
Ya, kalian tak salah. Dia adalah Ramadhan, teman kami di desa dulu. Dia berkuliah di kota dan satu kampus denganku dan Fitri.
Kami jadi begitu akrab dan sudah selayaknya saudara. Kemana-mana kami selalu bersama. Seperti halnya hari raya Idul Fitri yang selalu ada di bulan Ramadhan. Begitulah kami apa adanya.
"Mudik kali ini kita ke desa lagi kan?" tanya Ramadhan.
"Tentu saja, sudah pasti." sahut Idul.
"Kami sudah tak sabar menantikannya." sahut Fitri juga dengan semangat.
Ketiga sahabat ini lalu tertawa riang bersama-sama.