Mengidap kanker leukima stadium lanjut, jujur saja sesuatu yang cukup mengejutkan bagi Laras.
Seorang gadis muda yang usianya baru memasuki kepala tiga namun sudah berstatus janda.
Hidupnya telah begitu banyak masalah, kedua orang meninggal pasca kecelakaan tragis itu.
Dia yang selamat diwaktu tepat malah justru kali ini hidup bersama paman sudah cukup renta maupun mengobati penyakitnya sendiri.
"Laras, ya kenapa kamu tidak menikah lagi? Ya tak semua laki-laki itu sama, nak."
"Sebenarnya Laras ingin membuka hati lagi, tapi jujur saja di hari pernikahan yang seharusnya sakral malah justru hadir seorang perempuan lain. Sakit hati Laras."
"Ya mau gimana lagi? Kamu harus menikah, ya bukan tak mungkin jika suami kamu nanti bisa membantu pengobatan kamu. Paman benar-benar sudah tidak punya apa-apa, ya gaji kamu saja tak cukup."
"Memang masalah Laras cukup berat, tapi Laras mau usaha sendiri saja. Ya kebetulan hari ini Laras interview kerja, ya semoga saja diterima dan gajinya cukup untuk hidup maupun juga berobat paman."
"Ya ya ya, amin. Semoga menjadi kenyataan."
Laras pun bersiap menuju ke kantor yang cukup begitu luar biasa, dia sebenarnya tak bisa membayangkan.
Diantara sepuluh orang yang mendaftar, gadis itu justru lolos menjadi tiga besar untuk menjadi sekretaris pribadi di kantor itu.
Masuk ke dalam dan juga diantaranya menunggu waktu tes membuat jantung bukan main berdegupnya.
Beberapa saingannya mungkin sudah cukup berpengalaman di bidang itu, tetapi Laras yang kali pertamanya justru gerogi.
"(Duhh, ini nanti apa lagi ya pertanyaannya? Jujur saja aku bingung, nanti kalau aku salah menjawab gimana? Enggak, aku enggak mau menyerah. Laras harus bisa, pokoknya demi paman sembuh dan tentu pengobatan kankerku.)"
Tak lama berselang nama Laras dipanggil dan seketika tubuhnya menjadi sangat dingin.
Penguji tes terakhir ialah bos perusahaan tersebut. Gadis yang penuh keluguan itu pun memberi ketukkan pintu maupun menyapa dengan lembut.
Pertanyaan belum juga terlontar, tetapi Laras melihat sekelilingnya penuh akan kertas berserakkan.
"Selamat pagi, pak. Maaf saya izin merapikan dulu."
Laras telah menata kertas yang berserakkan di lantai dan tak diduga jika bos semula memalingkan wajah itu kali ini menatapnya.
"Siapa namamu?"
"Nama saya Larasati, pak."
"Sebelumnya apa alasan kamu mendaftar di perusahaan ini?"
"Sejujurnya saya ingin bekerja di sini ingin memiliki pekerjaan tetap dan tergiur akan gaji di sini, pak. Saya harus membantu pengobatan paman maupun juga pengobatan saya sendiri, paman saya juga sudah tua dan saya yatim piatu. Bingung cari usaha gimana lagi."
"Lantas, di sini tertera kamu sudah berstatus janda. Ke mana mantan suami kamu? Apakah meninggal atau yang lain?"
Laras pun menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan bahkan juga karena sebuah sakit diderita suaminya telah meninggalkan dia.
Sang bos besar itu telah mengalami hal yang serupa, tetapi datangnya syarat selanjutnya pun datang.
"Baik, selamat kamu lolos jadi sekretaris pribadi saya. Tapi, sebelum kamu bekerja di perusahaan ini. Ada syarat yang harus kamu penuhi."
"Terima kasih, pak. Apapun syaratnya itu saya akan penuhi, demi paman saya. Saya rela melakukan apapun."
"Baik, senja nanti kamu datang di tempat yang sudah aku sediakan dan satu lagi. Kamu datang harus sendirian."
"Baik, pak."
Kala senja telah tiba di depan mata, Laras yang bersiap menuju ke sebuah tempat pun dibuat teka-teki.
Bos besar sendiri yang meminta dia untuk datang ke tempat sudah dipersediakan.
Remang-remang lampu itu pun menjadi sakai pertemuan maupun pengesahan dia menjadi sekretaris pribadi.
"Maaf, pak. Maaf jika saya datangnya terlambat, tadi saya tak sengaja lemas. Jadi, maaf saya terlambat."
"Tak masalah, sebenarnya kamu sakit apa? Panggil saja Marisal, di luar jam kerja panggil nama saja."
"Iya, pak. Eh iya mas Marisal. Saya punya sakit kanker leukimia sudah stadium lanjut, tapi bapak eh mas Marisal tenang saja. Meski saya punya sakit itu dan sudah stadium lanjut, saya tetap akan berusaha memberikan yang terbaik."
Laras selalu saja merendah dan melakukan segalanya dengan cukup bertanggung jawab.
"Kamu belum bisa bekerja di perusahaan saya."
"Loh, kenapa pak? Saya ditolak ya karena saya jujur mengenai sakit saya? Ya jujur itu lebih baik, bagaikan hidup itu adalah jantungnya."
"Bukan, bukan karena itu. Kamu jujur itu adalah pilihan saya untuk menjadikan kamu itu istri saya, yang kedua saya memang memilih istri maupun juga pengelola keuangan saya. Tapi ada sisi lain."
"Apa itu, pak?"
"Saya ingin kamu berobat terlebih dahulu hingga sembuh dan satu lagi, jika mengenai sebuah biaya. Tenang, saya akan tanggung semuanya."
Laras tak menyangka bahwa pahlawan segala pahlawan justru datang dari bosnya yang juga calon suaminya.
Hatinya bergejolak bahagia tak berkesudahan dan bahkan justru Laras meneteskan air mata.
Tetapi, Laras juga teringat bahwa dia pernah menyelamatkan laki-laki bosnya itu.
"Saya benar-benar terima kasih akan semuanya."
"Sudah kamu enggak usah terima kasih, kamu juga kan yang rutin mendonorkan darah kala itu. Ya aku tahu semuanya dan ini yang pantas kamu dapatkan, ya memang tidak seberapa."