aku pernah berpikir, jikalau anak santri itu memang seandainya adalah jodohku apakah aku harus senang ataukah harus sedih? ini tentang sedikit kisahku .
ini sebenarnya pengalamanku sendiri. aku bermimpi pada suatu malam. aku bermimpi ibuku menawariku jika aku dijodohkan dengan anak temannya apakah aku mau? lalu akupun mengangguk mengiyakan.
lalu saat aku bangun tidur entah kenapa cowok itu udah ada 1 kamar sama aku. posisinya aku tidur menghadap ke utara dan dia tidur menghadap ke barat. aku tidur di kasur dan dia tidur beralaskan sajadah. karena waktu itu aku menggunakan rok dan lupa menggunakan dalaman maka aku pun malu. lalu aku pun menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
akan tapi dia pun membuka suara"kenapa harus malu?"tayanya kepadaku.
akupun membuka selimutku perlahan-lahan dan sudah pasti aku bereskan supaya tidak terlihat.
"maaf aku sebelumnya belum tahu namamu siapa?"tanyaku kepada seseorang itu yang tidak kukenal .
"Namaku ran Syah. kamu pasti sudah tahu kan nama ibuku?"tanya Ran Syah padaku lalu aku balas dengan anggukan
"mengapa engkau mau menerima perjodohan ini?"tanyaku padanya. dia pun kembali menjawab
"seandainya insyaallah hubungan kita ini dilanjutkan sampai ke tunangan sampai ke pernikahan insya Allah cinta itu bisa datang kapan saja. pernikahan itu sebagai bentuk ibadah untuk Allah subhanahu wa ta'ala."ucapnya lalu aku pun terdiam
"lalu apakah alasan kamu mau menerima perjodohan ini?"tanya Ran Syah kepadaku
"karena hatiku berkata iya. ini memang pilihan terbaik. hatiku pun juga sudah mantap menerima perjodohan ini karena menurut hatiku engkaulah yang pantas menjadi imam untukku"jawabku apa adanya
"kamu yakin dan mantap kalau aku cocok dengan kamu?"aku pun menjawab dengan anggukan
"seperti kata kamu tadi, cinta itubisa datang kapan saja. line dengan seiringnya waktu maka akan tumbuh dengan sendirinya. seperti ibarat kapan matahari tidak memerlukan cahaya. karena matahari lah yang menyinari seluruh alam semesta"ucapku berusaha meyakinkan Ran Syah.
akupun terbangun dari tidurku karena dibangunkan oleh ayahku untuk sahur pada pukul 03.00
lalu setelah sahur aku pun belajar. setelah belajar aku bersiap-siap mandi lalu ia seperti rutinitas biasa karena aku sedang ada ujian. lalu aku pun sempat bertanya kepada ibuku.
"buk... memang nya temanya ibuk yang sering kesini itu punya anak laki laki?" tanyaku pada ibuk
"nggak. anak nya perempuan" jawab ibuku membuat aku sedikit kecewa
"oohh yah udah deh buk. nggak papa" ucap ku lesu
"nggak papa kenapa?" tanya ibuk lalu aku hanya menjawab dengan gelengan
lalu ibuku pun berpesan kepadaku
"kalau seandainya jodoh itu pasti bakal di pertemukan walaupun kalian menjauh sampai selat Malaka. akan tetapi kalau tidak jodoh ya walaupun kalian berusaha dengan cara apapun akan tetapi karena tidak akan bisa bersatu. sesungguhnya jodoh itu sudah di atur."
"iya buk...." ucap ku.
aku pun bertekad untuk setelah lulus madrasah ibtidaiyah aku akan masuk pesantren. aku menjalani 3 bulan terakhir di rumah dengan menulis cerita. karena lewat cerita aku tahu yang namanya kehidupan itu seperti roda. kadang kita berhasil kadang kita gagal. yang kadang kita di atas kadang juga kita di bawah.