Malam ini, aku keluar rumah, tujuannya untuk membeli makanan karena aku lagi malas memasak di rumah.
Tapi, saat di persimpangan jalan yang sepi, aku mendengar suara seseorang yang merintih kesakitan dan meminta tolong.
Awalnya aku takut, takut kalau itu hanyalah tipuan makhluk gaib atau modus penipuan.
Tapi, karena rasa sosialku lebih besar dari rasa takutku, tanpa berpikir lagi aku langsung mendatangi sumber suara itu dan betapa terkejutnya aku melihat seorang pria yang sudah babak belur terbaring lemas di tengah jalan.
Secepat kilat kutelepon ambulance.
Mobil ambulance datang dan membawa pria itu pergi. Setelahnya aku tak tahu bagaimana kabarnya lagi.
Beberapa hari kemudian, di sebuah perusahaan besar, aku bekerja disana sebagai seorang cleaning service.
Di saat sedang bersih-bersih, aku tak sengaja mendengar para karyawan ngerumpi. Mereka bilang bos mereka yang baru, dulu pernah tertimpa masalah, lebih tepatnya di begal oleh orang-orang tak di kenal. Dan ada seorang perempuan yang menolongnya.
Selagi menguping, aku berpikir, kenapa pihak perusahaan membiarkan saja para karyawannya ngerumpi seperti itu tentang bos baru mereka. Bukankah itu bisa menurunkan citra dan martabat bos karena dulu pernah di begal orang.
Aku pernah sekali melihat bos baru kami, orangnya memang sangat tampan. Dan yang kudengar di juga sangat disiplin dan keras.
Entah kenapa, akhir-akhir ini aku selalu merasa was-was. Seperti ada yang memperhatikanku saat aku bekerja bahkan kamera CCTV pun bisa membuat bulu kudukku berdiri.
Apakah aku ada salah atau apakah ada yang kurang bersih saat aku bersih-bersih?
Sampai aku di panggil keruangan bos dan jadi bingung dengan pertanyaannya.
"Apa Anda ingat dengan saya?" tanyanya yang membuatku semakin kebingungan. Tentu saja aku ingat dan sudah melihat karena dia adalah bos kami di perusahaan ini.
"Saya adalah orang yang Anda tolong waktu itu."
Entahlah, aku tak ingat. Soalnya waktu itu gelap dan cahaya lampu jalanan juga agak kurang di tambah lagi wajah orang waktu itu penuh luka dan lebam.
"Padahal saya sudah sengaja menyebarkan berita tentang saya supaya Anda ingat."
Oh, jadi itu di sengaja, pak?
"Dan sebagai rasa terima kasihku, aku ingin melamarmu. Ehem, tapi selain itu, sebenarnya aku sudah suka padamu pada pandangan pertama." ucapnya agak malu-malu kucing.
Entah kenapa, tiba-tiba dia jadi bicara informal...
Eh? Tunggu!?
"Apa? Kenapa bapak tiba-tiba... " teriakku kaget tak percaya. Apa aku tak salah dengar?
"Tenang saja, aku tidak memandang status kok. Dan kalau menurutmu ini terlalu mendadak dan terburu-buru, bagaimana kalau kita menjalin hubungan pelan-pelan dulu?" ucapnya langsung sambil tersenyum dengan penuh pesona.
"Dih, pemaksa" batinku yang masih syok tak percaya.
Dan apa yang dikatakannya memang benar, dia tak henti-hentinya mengejarku untuk bisa meluluhkan hatiku. Tentu saja karena kegigihannya, lama-lama akhirnya hatiku luluh juga dibuatnya.
Lalu kami pun memutuskan untuk menikah dan hidup bahagia.
Hidup bahagia yang selama ini selalu aku mimpikan. Kapal kecilku yang selalu terombang-ambing dilautan, akhirnya talinya ada yang menangkapnya juga dan membawaku ke pulau kebahagiaan untuk selamanya.