Di bawah malam itu aku menyembah kepada-Mu dengan mengedahkan kedua tanganku.
Memohon segala ampun terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan oleh diriku.
Ampunan bagi kesalahan yang lalu.
Kecerobohan yang lalu.
Kebodohan dan kelalaian yang lalu.
Hanya Engkau-lah yang mau dan mampu mengampuni segala itu.
Dengan itu, kuucapkan ‘Aamiin’ setiap kali aku mengusap mukaku dan memulai do’a yang baru.
Sebuah harapan, agar aku menjadi orang baru.
Menjadi orang yang lebih bagus.
Bukan untuk orang-orang disekitarku, tapi untuk diriku.
Karena suatu hari, aku akan bertanggung jawab atas segala perbuatanku.
Dan suatu hari, aku akan bertanggung jawab atas segala orang-orang tanggunganku.
Layaknya seorang anak dan ibu.
Dengan itu, kuusap mukaku dan mengucapkan ‘Aamiin ya rabbal alamin’ bersama harapan bahwa Engkau akan mengabulkan permintaanku.
Dan dengan itu, kulipat sajadahku, dan berdiri menuju orang yang tengah berbaring di sebelahku.
Ia tak berubah dari sejak lalu, dari semenjak aku kecil yang harus dijaga kemanapun aku pergi, sampai aku yang harus menjaga seorang wanita kemanapun aku pergi.
Tapi kali ini bukanlah mengenai wanita itu maupun diriku, hari ini mengenai orang yang tengah berbaring di sampingku.
Kuingat, kupingnya—yang selalu mendengarkan segala masalahku.
Mulutnya—yang selalu meluruskan segala kesalahanku.
Dan jarinya—yang selalu mengalus luka-lukaku.
Meskipun, ia tak pernah melihat rupaku.
Tapi, meskipun begitu, ia tetaplah orang yang berharga bagiku.
Orang yang telah mendampingiku, dari diriku yang lampau, hingga diriku yang baru.
Yang mengucapkan selamat datang dan menerima dengan hangat gadis yang menjadi tanggunganku.
Aku sungguh bersyukur.
Di Bulan Ramadhan ini aku harus bersyukur.
Namun.
Aku tak bisa membuang kenyataan bahwa aku bersimbah dalam air mataku.
Karena aku tahu.
Aku akan bertemu Ramadhan lagi dalam setahun, namun aku tak akan bertemu dengan ibuku lagi dalam seminggu.