Bagian 3, Kesedihan seekor Badak.
Suatu hari keadaan di sebuah hutan terlihat gaduh dan bising. Seluruh penghuni di hutan itu nampak panik dan ketakutan, burung burung berterbangan ke berbagai arah seakan memberi peringatan bahwa keadaan semakin parah. Suara suara mesin yang memekakkan telinga membuat banyak pertanyaan di benak mereka, siapa yang membuat keributan di hutan mereka?
Kerumunan badak yang menikmati sisa waktu rehat mereka di sebuah ladang rumput yang luas terganggu ketika mendengar suara mengejutkan hingga rasa panik mulai melingkupi mereka. Badak badak itu bertanya tanya, suara keras apa itu yang terdengar seperti sebuah ledakan yang menusuk.
DOORR!!
Sebuah peluru perak melesat begitu cepat tepat menembus kulit tebal dari seekor badak jantan. badak itu tumbang dengan darah yang terus keluar dari dalam perutnya. Seketika seluruh badak berlarian kesana kemari, tak peduli pada anak serta keluarga mereka. Yang paling penting adalah bagaimana caranya agar bisa menjauh dari kerumunan manusia bersenjata itu.
Ya, dia manusia. Dan ulahnya lagi lagi mengacaukan ketentraman penghuni hutan.
Seekor badak jantan yang usianya masih sangat muda itu, berteriak mencari cari ibunya. Matanya menoleh kesana kemari, rasa takut benar benar menguasai seluruh pikiran nya. Dia bertanya tanya dimana ibuku? dimana adik dan kakakku? dimana mereka? dan siapa makhluk berseragam itu?
"Ibu!! ibu dimana?! " teriak si badak muda, ia terus berlari ke berbagai arah meskipun berkali kali tertabrak oleh badak badak yang berlarian menyelamatkan nyawa sendiri.
DORR!!
Suara itu, apa jangan jangan...
Badak muda itu berlari menuju asal suara. Tak peduli dengan taruhan nyawa, asalkan kedua matanya bisa menangkap sosok keluarga nya. Pikiran nya kalut, firasat nya ketika mendengar suara tembakan itu benar benar sangat buruk.
Deg!
Tidak, tidak–ini tidak mungkin! Seekor badak betina terkapar dengan darah mengucur dari kepalanya. Tak ada pergerakan dari badak betina itu, sudah dipastikan bahwa badak itu telah mati dibunuh si makhluk serakah. Badak muda itu mematung, seolah olah tak percaya pada kenyataan yang tiba tiba menimpa dirinya tepat di depan matanya sendiri. Badak itu menangis, hendak berlari menghampiri ibunya. Namun tubuhnya dihalang oleh seekor badak jantan yang rupanya dia adalah kakaknya.
"Hei! jangan dekati mereka! kau bisa mati! " peringat si kakak dengan menahan amarah.
"Ta–tapi kak...ibu... "
"KITA TERLAMBAT!! LARI DIK! AYO LARI!! sang kakak mendorong dorong tubuh adiknya agar mau bergerak maju menjauh dari kerumunan manusia. Si badak muda tentu nya terpaksa menurut, dia berlari sekuat tenaga bersama kakaknya menjauh dari para manusia keji yang haus akan kekayaan.
Sambil berlari, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, melihat tubuh yang sudah tak berjiwa milik ibunya terkapar penuh darah disana. Air matanya belum juga berhenti, ia berlari sekuat mungkin bersama kakaknya menuju kawanan badak yang sepertinya sudah mendapat tempat bersembunyi.
Sesampainya di ujung hutan, mereka semua bersembunyi di belakang goa. Mereka yakin sekali, para manusia itu tak akan bisa masuk terlalu dalam hingga ke ujung hutan dalam waktu secepat itu, mengingat jarak antara habitat asli mereka dengan ujung hutan ini sangat jauh dan gelap. Ternyata tak hanya kawanan badak yang bersembunyi, gajah, rusa, kancil, orang utan, gorila, dan para burung pun turut bersembunyi disana.
" Keterlaluan!! memangnya punya hak apa mereka di hutan ini?! hutan ini milik alam! bukan milik mereka!! " si burung gagak banggai bersuara dengan cukup lantang dan keras hingga hampir semuanya mendengar perkataan si gagak.
Si burung pleci mengangguk setuju. "Kau benar! memangnya mereka siapa?! berani menginjak injak kita?!
Seekor gajah tua yang kini keberadaannya sangat langka itu ikut bersuara. "Padahal mereka semua sudah membunuh hampir semua kawanan ku, tapi mereka masih belum puas? keserakahan macam apa itu?! " murka Sang gajah Sumatra.
Badak muda hanya diam, pikirannya kalut membayangkan bagaimana kondisi tubuh ibunya yang mungkin kini sudah menjadi bangkai. Setidaknya, ia ingin mengubur Sang ibu dengan layak, ia tak sudi jika ibunya mati ditangan umat manusia.
Seekor orang utan yang menyadari kekhawatiran badak muda itu bertanya. "Ada apa wahai badak muda?"
Badak itu menoleh ke arah orang utan masih dengan isakannya dan wajah yang menyedihkan. "I-ibuku, hiks! ibuku mati ditembak. "
Mendengar hal itu, seluruh penghuni yang bersembunyi sontak menoleh ke arah badak muda itu. Ada banyak dari mereka yang turut berduka, dan sebagian ada yang dendamnya berkoar dalam jiwa mendengar kabar duka itu. Si badak muda mendongak menatap para penghuni yang juga ikut menatapnya. "Memangnya, apa yang mereka inginkan dari ibuku? dia tidak bersalah kan? "
Mereka diam, tak ada yang menyahut dan merespon. Badak muda itu melirik ke arah kakaknya dengan tatapan bertanya. "Katakan padaku! setidaknya aku ingin tahu! "
Si pemimpin kawanan rusa menghela nafas panjang, ia melangkah mendekati badak muda itu dan sedikit menunduk. "Dengar, setelah mendengar ini jangan pernah kau dekati manusia itu. Tahan amarah mu, karena itu akan membahayakan mu. kau janji? "
Badak itu mengangguk cepat. "katakanlah! "
"Ibumu... akan diambil tanduk dan kulitnya, sama seperti anggota kawanan ku yang juga mati terbunuh di tangan mereka. " jawab si rusa dengan tanduk besar dan bercabang itu, ia menundukkan kepalanya kala melihat ekspresi terkejut si badak muda.
Kurang ajar! keterlaluan! manusia sialan! bajingan! tidak bisa dimaafkan! begitulah pikiran badak yang terselimuti api amarah. Sang kakak yang menyadari itu segera mendekati adiknya dan menenangkan nya. "Tenanglah adik, Tuhan pasti akan membalas mereka. "
Badak muda itu mengangguk pelan. "Benar, ku mereka semua mati dengan cara yang sama seperti ibuku!! "