Aku berada dalam kondisi sempit.
Satu kesalahan, dan aku akan menyesal seumur hidup.
Tapi, kukira inilah takdir Tuhan yang sedang menguji.
Tak kusangka, hasilnya akan seperti ini.
Tapi, sebuah permulaan harus dimulai.
Prawira Mada, itulah namaku.
Meskipun terdengar seperti seorang perwira, aku bukanlah seorang tentara.
Aku masih seorang pengangguran—bisa dibilang begitu.
Dan sekarang, aku semestinya bertemu dengan Yudha Brama di Rumah Api tempat aku dikirimkan, tapi yang kudapatkan adalah hal lain.
Di mana aku berdiri—melihat seorang wanita berseragam SMA yang berada di ujung atap Rumah Api.
Di mana ia berdiri—tanpa adanya pembatas yang membatasi.
Bunuh diri.
Terjun ke aspal putih.
“Hidup itu membosankan, bukan?”
Mukanya tak terlihat, tapi rambut hitam indahnya itu terurai oleh angin. Begitu pula dengan suara indahnya yang tak tinggi.
“Hidup itu indah!” Aku melawan dengan seruan, “Hidup itu penuh dengan keindahan!”
“Mama, tak pulang, Papa, tak pernah datang, untuk apa?”
“Temanmu! Kau masih punya teman-temanmu! Mereka akan sedih bila kau tiada!”
“Sudahlah. Percuma. Selamat tinggal.”
Ia terlepas.
Terjun ke bawah.
Aku pun juga.
Tangan kepada tangan.
Tertahan di pegangan pembatas.
Aku memberinya bantuan.
Aku sudah lelah hidup sebagai orang yang pasif.
Karena itu, meskipun, ini adalah awal karirku, aku tak mau memulainya dengan ingatan yang pahit.
Bila aku tak bisa menyelamatkan seseorang di hari pertamaku, rasanya aku tak akan bisa menolong mereka yang akan datang di hari lain.
Karena itu, aku menggenggam tangannya erat, dan berharap—ia tak akan mati.
Tak apa aku mati, yang penting aku mampu menyelamatkan orang lain.
Tapi.
Dari rambut hitam panjangnya ia berbicara.
“Menyelamatkan orang, tanpa rasa takut.”
“Aku terkesan.”
“Tapi itulah—tugas kita sebagai Manusia Api.”
Dengan muka cantik ia menghadapku, “Namaku Nala, selamat datang di Rumah Api, Manusia Api.”
Dan begitulah—bagaimana aku menyelamatkan bosku di hari pertama kerjaku.
Sebagai seorang Manusia Api, yang akan melawan api.