Saat libur akhir pekan aku menghabiskan waktuku bersama Deon. Lelaki yang sudah 6 bulan ini selalu ada di dekatku. Setia mendengar segala keluh kesahku. Selalu ada disaat aku membutuhkannya.
Tak heran jika aku mulai mencintai lelaki itu. Dan langsung menerimanya saat ia bilang ingin menjadi kekasihku.
Setiap akhir pekan kita selalu pergi kemana pun yang aku minta. Deon selalu menuruti apa yang aku mau. Dia sudah seperti jin dalam lampu saja. Bedanya bukan hanya 3 permintaan yang bisa dikabulkannya. Hampir setiap permintaanku malah.
Kami sedang ada dalam perjalanan pulang saat hujan lebat tiba-tiba datang seperti jelangkung.
Deon pun menghentikan laju motornya saat masuk area parkir sebuah hotel yang tak jauh dari tempat kami mulai kehujanan.
"Akh, tau gini tadi bawa mobil saja," keluhnya sambil melepas helm.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Geon saat menoleh dan mendapatiku sedang menggigil kedinginan.
"Dingin.. " lirihku dengan bibir bergetar.
"Kita check-in aja ya? Gak mungkin kita pulang dalam keadaan hujan deres kayak gini. Mana udah malem," usul Deon yang kutanggapi dengan anggukan.
Tak ada pilihan lain, aku butuh kehangatan. Udara di luar sangat tidak bersahabat dengan tubuhku yang mulai mati rasa saking dinginnya.
Setelah Deon menyelesaikan segala persyaratan untuk check-in, akhirnya aku bisa merasakan nyamannya berendam dalam air hangat.
Aku menenggelamkan badanku sebatas leher untuk melemaskan semua persendianku yang kaku dan merasakan sensasi yang menenangkan di tubuh dan pikiran.
Tok Tok
Hampir saja aku terlelap saat seseorang mengetuk pintu dengan lumayan keras.
"Sa, kamu masih hidupkan?"
"Masih," sahutku santai, tak memperdulikan pertanyaan gak ada akhlak dari Deon.
"Cepatlah keluar. Aku juga ingin mandi," seru Deon yang aku yakin dia sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah jengah.
"Iya, iya, 10 menit lagi, oke?" tawarku.
"Kelamaan, aku udah kebelet nih."
"Astaga. Iya deh, otw keluar nih," sahutku sembari keluar dari bathtub lalu menyambar bath robes atau jubah mandi--handuk yang berbentuk seperti kimono.
Ceklek.
Deon nampak terkejut saat melihat penampilanku yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ku lihat dia susah payah menelan saliva-nya.
Brak.
Tanpa berkata apapun dia malah langsung masuk ke dalam kamar mandi. Aku mengendikkan bahu tak peduli. Mungkin dia benar-benar sudah kebelet.
Ceklek.
Tak lama kemudian Deon keluar kamar mandi dengan rambutnya yang basah.
"Astaga, Raisa!" pekiknya sambil memandang ke arahku dengan wajah terkejut.
"Ada apa?" tanyaku mengalihkan pandangan dari ponsel.
"Kenapa malah main game? Gak ganti baju dulu?" tanya Deon yang tahu aku sedang bermain game karena letak ponsel yang miring di tanganku.
Aku memandangi handuk kimono yang masih melekat membungkus tubuh polosku.
"Bajuku basah, " sahutku yang sudah kembali berkutat dengan ponsel di tangan.
"Oh lupa, " ujarnya sambil menepuk jidat saat baru ingat kalau aku tidak mengenakan jaket seperti dirinya, tentu saja air hujan dengan mudahnya membasahi satu-satunya baju yang aku kenakan.
"Aku beliin kamu baju dulu ya?" pamitnya hendak keluar dari kamar.
"Mana ada toko yang buka jam 1 dini hari? Lagian sepertinya hujan masih deras, " cegahku.
"Aku seperti ini dulu saja tidak apa-apa, " lanjutku sambil menarik selimut lebih ke atas.
"Oh oke."
Deon menghampiriku yang sudah menyamankan diri di atas ranjang. Lalu duduk di pinggir sambil mengecek ponselnya.
"Mabar kuy?" ajakku sambil melirik samping ranjangku yang kosong.
Deon hanya mengangguk lalu menuruti isyarat dariku. Entah mengapa aku pikir dia jadi sedikit canggung denganku.
Mungkin karena ini pertama kalinya kita ada di kamar yang sama. Namun karena game yang kita mainkan semakin seru, kecanggungan itupun perlahan sirna. Kami tertawa cekikikan bersama saat berhasil membodohi musuh.
Pip.
Saat game kami berakhir, Deon menyalakan televisi dan langsung membuat kami sama-sama terbelalak saat layar datar itu menampilkan sebuah adegan panas dalam film.
"Aa... " bahkan mulutku sudah tak sanggup berkata-kata karena merasakan desiran aneh di dada.
Deon tak kalah cengo-nya saat ia tak berkedip menatap layar TV sambil susah payah menelan ludahnya.
"Apa?" tanyaku saat Deon tiba-tiba menatapku lekat.
'Apa yang sedang dia pikirkan?' tanyaku dalam hati.
Cup.
Aku melebarkan mata ketika benda hangat itu menyentuh bibirku. Rasanya manis dan memabukkan. Membuatku ingin meminta lagi dan lagi. Ternyata first kiss itu senikmat ini.
Klik.
Tangan usil Deon menjulur mematikan satu-satunya saklar penerangan di ruangan ini. Membimbingku untuk mengikuti permainannya. Sepertinya kita akan membuat adegan film kita sendiri.