Aku hanya gadis biasa, anak kampung yang kebetulan bersekolah di SMA yang terfaforit di kotaku, aku juga tidak begitu populer di sekolah toh nyatanya aku juga bukan dari golongan anak bermobil atau pun di antar supir saat datang dan pulang ke sekolah karena aku lebih menyukai naik angkot yang sesuai dengan bajet di kantongku dari uang saku pemberian bapakku.
Seperti siang ini keluar dari pintu gerbang cuaca sangat panas bukan takut meleleh mencair atau kulitku menjadi semakin gelap karena teriknya siang ini tetapi gerah di tubuhku yang kadang membuatku bermandi keringat menjaga paling tidak aroma tubuhku tetap wangi saat naik angkot nanti.
Berjalan sedikit menepi di trotoar mencari pohon yang sedikit rindang kini aku berjalan dengan santai sambil sesekali mengibas-ngibaskan buku yang kubawa untuk mencari udara agar wajahku pun terasa agak dingin.
Namun, langkahku terhenti saat seorang laki-laki tinggi besar mendekat dengan sorot mata tajam dengan jaket levis yang warnanya mulai pudar, jelana jeans dan sepatu laras tinggi bukan sepatu tentara tetapi sepatu model kini tak penting apa merknya tetapi ini yang kulihat sekilas, sayang aku tak bisa melihat wajahnya sesaat
kupindai sekilas sosok ini.
Aku sedikit menepi aku pikir
laki-laki ini juga akan naik angkot. Namun, dengan tenang
laki-laki ini berdiri mendekat padaku dengan suara beratnya
dan menodongkan sesuatu padaku.
"Ikuti langkahku atau aku membawamu dengan paksa."
Sesaat aku masih diam dan belum mengerti apa yang terjadi hingga laki-laki ini sedikit menekan yang ada di punggungku, mulutku seketika gagu dan melihat sekilas laki-laki ini.
"Jalan," kembali laki-laki ini memberi perintah dengan sedikit terkejut aku berjalan mengikuti arahan laki-laki ini.
'Kenapa jalanan juga terlihat sepi kemana semua orang?'
Belum selesai hatiku berbicara dan menyusun rencana laki-laki ini langsung menutup mataku dengan kain dan sangat terasa kalau laki-laki ini mengangkat tubuhku dan memasukkan dalam mobil dan melajukannya.
Tak ada percakapan sama sekali, tetapi hanya tercium aroma rokok yang menyengat dan entah ini bau sesuatu yang aneh dan sesaat membuat kepalaku pusing. Hanya laju kendaraan yang lalu lalang yang bisa kudengar dan berhenti sesaat karena suara kereta api yang lewat.
Kemudian melaju lagi dan tak berapa lama berhenti terasa dari pergerakan laki-laki ini. Membuka pintu kemudian mengangkatku dan berjalan di atas sesuatu yang bergemerisik saat di laluinya. "Ya" seperti daun kering dan sejenisnya.
Berhenti sejenak kemudian membuka pintu dan menurunkan aku sesaat kemudian mendorongku untuk masuk ke dalam.
"Jaga dia jangan sampai lolos dan awasi terus." ini percakapan yang kudengar samar-samar.
"Siap bos." kembali kudengar seseorang menjawab perintahnya dengan hormat.
Setelah kurasa semuanya sudah sepi aku kini membuka tutup di mataku.
"Ya," ini sebuah gudang dengan barang-barang yang berserakan, kupindai seluruh ruangan dengan pelan kaki kumelangkah melihat satu persatu tempat ini.
Hanya ada satu pintu masuk, dua jendela yang kondisinya terlihat masih kuat dan satu ruangan.
Dengan perlahan aku mendekat ke arah ruangan itu sedikit membuka pintunya dan melihat ke dalam seketika aku terkejut dan mundur beberapa langkah bersamaan dengan pintu depan terbuka.
Terdengar suara laki-laki masuk dengan berbicara pada dua orang yang di ajaknya berbicara tadi.
Di tengah kebingunganku aku mencari tempat sembunyi akhirnya aku masuk dalam ruangan ini. Toh nyatanya tempat ini bukan tempat yang terbaik untuk bersembunyi.
Masih kudengar teriakan sang bos.
"Bodoh ... saya tidak mau tahu, kalian harus mencari gadis itu tanpa ada lecet sekalipun," ucapnya sambil menggebrak sesuatu.
Tak ada suara hingga kemudian terdengar pintu ini dibuka aku semakin meringkuk di sudut ruangan ini di antara beberapa patung manekin dan jasad seorang gadis
kubekap mulutku agar tak menimbulkan suara dan badanku makin tergetar.
Nampak laki-laki ini mendekat ke arahku, tetapi diurungkan dan kembali berjalan sembari menyeret tongkat besi yang menimbulkan suara gesekan berderit dan menyakitkan telinga.
kemudian laki-laki kembali mengesekkan tongkat besi ini ke setiap benda dan menariknya dengan sedikit menekan dan kembali terdengar "Nyriiiiit ...."
Memukulkan tongkat besi itu di benda-benda yang dia lewati, mungkin Allah masih menyayangiku laki-laki ini tak sedikitpun menuju kearahku.
Hingga kemunculan dua orang tadi.
"Maaf bos, kami sudah mencari keseluruh ruangan ini. Tapi gadis itu tidak kami temukan," ucap kedua laki-laki ini.
"Kalian ...." Kini kulihat sorot mata laki-laki itu dan dengan sekilas langsung menendang dua orang ini.
"Aku tidak mau tahu cari Naraku sampai ketemu dan aku sudah mencarinya hingga dua bulan dan kini dia harus menghilang lagi hanya dia yang mirip dengan Naraku."
"Pergi dan pantau di mana dia aku temukan!" perintah laki-laki ini lagi.
Masih bisa kulihat, mata laki-laki ini menatap setiap sudut tempat ini dan tersenyum kemudian kembali keluar.
"Apa yang membuanya takut mendekati tempat ini mayat wanita ini atau ...." Seketika aku sadar kini aku dalam bahaya dan laki-laki yang menculikku saat ini. Tiba-tiba tubuhku bergetar hebat kakiku serasa lemas saat aku sadar akan keadaan ini
Tak lama terdengar suara mobil melaju dan makin lama makin menjauh sedikit aku menggerakkan tubuhku menggeser mayat wanita ini yang
kujadikan tempat bersembunyi.
Aku kembali melihat sekitarku sepi dan ruangan ini. Ada jendela pendek aku mendekat dan mengintip hanya ada rumput ilalang di seberang gudang ini dan sisanya hanya bangunan-bangunan yang tinggi.
Kembali aku berjalan mengedap menuju ruangan besar tadi. "Sepi dan dua penjaga tadi?" tanyaku sambil terus berjalan mengendap pintu ini terbuka dan tak dikunci.
Seperti mendapatkan angin segar aku segera berlari keluar gudang ini hingga hampir kakiku mecapai rumput ilalang, tiba-tiba sirine berbunyi dengan keras.
Tanpa banyak berpikir akhirnya aku berlari masuk dalam rumput ilalang ini. "Ya," disinilah klimaks dari semuanya.
Saat aku berjuang keluar dari rumput ilalang ini. Kini terdengar suara anjing mengoggong dan mengejarku dengan cepat aku berlari menerobos ladang ilalang ini tak
kupikirkan semua goresan di tanganku dan wajahku jatuh dan bangun lagi dan terus berlari.
Aku berpacu dengan kejaran anjing ini. Hingga kemudian tak kudengar suara gonggongan anjing ini.
Dengan lelahku dan napasku yang tersengal dan keringat yang membanjiri seluruh tubuhku aku mendongak ke atas langit mendung.
Kini aku hanya bisa berpasrah tubuhku tak kuat lagi dan seketika aku jatuh dan tak sadarkan diri.
Entah berapa lama saat aku terbangun tubuhku sudah basah dan rasa nyeri di tangan dan kakiku terasa makin menjadi.
Dengan gemetar aku berdiri kini tinggal hujan rintik-rintik saja, aku berjalan dengan gontai kembali kutatap langit ada bintang berarti sudah malam.
Terus berjalan hingga aku tiba di ujung rumput ilalang ini. Kusibak perlahan.
Nampak jalanan raya. "Dimana ini?" tanyaku bingung.
Sesaat aku terdiam jika aku menyusuri jalan raya ini kembali rasa takutku datang aku kembali sedikit masuk ke dalam rimbunya rumput ilalang ini hingga akhirnya aku tiba di penghabisan.
Dari jauh nampak sinar mobil melaju kembali aku masuk dan duduk meringkuk untuk bersembunyi. "Satu, dua dan di mobil ketiga terlihat jelas sekali laki-laki yang menculikku.
Setelah mobil ini menghilang akhirya aku paham arah ke luar dari jalan ini.
Dengan sedikit berlari aku menyusuri jalan ini hingga aku tiba di tempat yang sudah terlihat lalu lalang orang dan hari sudah mulai pagi.
Wajah-wajah yang tak pernah aku jumpai hingga kuberanikan diri untuk bertanya pada seorang ibu yang lewat. "Maaf Bu, boleh saya bertanya? Ibu tahu alamat xxxxx ?"
Dengan sedikit curiga ibu ini melihatku kemudian terseyum. "Eneng tersesat? karena akhir-akhir ini banyak gadis tersesat dan selalu bertanya pada kami dan kodisinya sama dengan eneng."
Seketika aku mundur beberapa langkah sedikit menjauh saat wanita ini mengatakan itu.
"Cepat lari, Neng sebelum mereka datang menjemput dan tempat yang Eneng tanyakan tidak jauh dari sini," ucap ibu menjelaskan.
Dengan naik angkot mungkin Eneng akan tiba lima belas menit sembari memasukkan sejumlah uang di sakuku.
"Pergi! Pergi, sebelum mereka datang."
"Dan jika Eneng selamat dari daerah ini berarti Eneng akan selamat dan mereka tak akan menyentuhmu lagi dan itulah permainan mereka."
"Pergi!" seru wanita ini lagi dan membisikkan satu kalimat yang nantinya bisa membawaku keluar dari daerah ini.
Dengan angkot yang di pilihkan wanita ini akhirnya aku tiba di tempat di mana aku diculik dan saat turun sesuai pesan ibu-ibu tadi aku mengucapkan sesuatu pada sopir angkot itu dan menyerahkan uangnya.
Sesaat sopir angkot itu tersenyum. "Selamat Mbak, Mbak sudah aman sekarang," ucap sopir angkot dan menghilang seketika.
"Hey. Ayo pulang, kok melamun di sini," ucap salah satu temanku.
Langsung kupindai seluruh tubuhku tak ada luka sama sekali, bajuku masih bersih dan sesaat angin sangat kencang dan membawa sesuatu yang menerpa wajahku.
Setelah angin sedikit reda aku mengambilnya dan melihatnya, aku sedikit terkejut dengan apa yang ku lihat.
"Ini? Berita ini? Dan ini genap tiga tahun setelah kejadian ini."
"Jadi ...."Segera aku melipat koran ini dan aku langsung naik angkot untuk pulang.
Masih dalam bingungku jadi apa yang aku alami sekarang dan aku telah lolos dari penculikan dunia lain.
Hingga tiba di rumah aku kembali membaca koran ini. Benar kejadian tiga tahun lalu dan penculiknya membakar dirinya hidup-hidup berserta korbannya.
"Nara .... "Suara bapak mengejutkan aku, "pulang tidak mengucap salam tapi langsung nyelonong."
Aku tak berkata apa-apa, tetapi langsung kuserahkan koran itu. Bapak menerimanya dengan heran.
"Apa ini"? setelah bapak membacanya dan langsung memelukku erat. Beruntung kau selamat Nak dan ternyata rumor ini benar," kemudian bapak buru-buru membakar koran ini.
Bapak tak menceritakan apapun setelah ini dan aku pun juga tak ingin tahu tentang ini. Namun, kenapa penculik itu menyebut Nara sesuai dengan namaku Nara.
END